Hindari Gangguan Preman, Pakai Loreng, Sangkur dan Airsoft Gun tapi Tidak Punya Izin

Sebarkan:



Dua personil Babinsa Koramil Medan Baru saat memberikan kesaksian. (MOL/Ist)


MEDAN | Giliran 2 personil Babinsa 0201-05/ Medan Baru Hotman Purba dan Oman Abdurohman dihadirkan sebagai saksi terhadap Muslianto, terdakwa dalam perkara pemakaian atribut TNI serta membawa, menyimpan, menyembunyikan senjata tajam atau senjata penusuk tanpa izin, Kamis petang (4/2/2021) di Cakra 7 PN Medan.


Menjawab pertanyaan JPU dari Kejari Medan Kejari Medan Kharya Saputra, saksi Hotman menjelaskan bahwa ia mencurigai terdakwa memakai seragam TNI (loreng) yang tidak lazim.


Karena curiga, ia pun memberhentikan terdakwa saat melintas di kawasan Jalan Pintu Air IV, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor, pada 30 Juli 2020 lalu.


"Terdakwa sempat mengaku Anggota TNI-AD bertugas di Denma Kodam I/BB, namun ketika ditanyakan identitas tidak mampu memperlihatkannya. Atas kecurigaan itu, Saya mengontak Oman untuk datang ke lokasi," tutur Hotman.


Senada dengan itu, Oman pun membenarkan ia dihubungi oleh teman sejawatnya itu. "Jadi setelah di lokasi kami membawa terdakwa ke Makoramil," pungkasnya.


Ketua majelis hakim Ali Tarigan sempat menanyakan apakah sangkur tersebut milik TNI dan bagaimana bisa warga sipil membelinya. Kedua personil Babinsa ini menegaskan tidak bisa. Sebab yang membeli haruslah anggota atau prajurit TNI.


Sedangkan mengenai senjata jenis Airsoft Gun yang ditemukan di bawah jok sepeda motor terdakwa, timpal saksi, itu saat dilakukan penggeledahan setelah terdakwa sampai di Koramil. Kemudian terdakwa dibawa dari Koramil ke Makodim 0201/DS, selanjutnya diserahkan kepada pihak polisi.


Persidangan pun dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa warga Jalan Pintu Air Komp Idi, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor Kota Medan. Muslianto mengaku membeli atribut maupun sangkur di Koperasi Primkopad Binjai.


"Saya beli seharga Rp150 ribu," ucapnya sembari mengaku saat membeli memakai baju seragam TNI agar tidak dicurigai.


Terdakwa yang dihadirkan secara Video Call WhatsApp ini pun mengaku kalau senjata jenis Airsoft Gun yang dibelinya seharga Rp1,5 juta tanpa izin dari seseorang kenalannya.


Ketika diinterogasi penyidik, tterdakwa mengaku bahwa semua dilakukannya itu agar tidak diganggu preman saat dalam melakukan pekerjaan yang kemudian. sempat dinasihati majelis hakim.


"Lho kenapa harus seperti ini, kalau ada gangguan keamanan ya silahkan saja lapor polisi. Dan tidak perlulah menyaru sebagai personil militer," pungkas hakim ketua.


Usai mendengarkan keterangan saksi maupun terdakwa, maka proses persidangan ditunda hingga pekan depan dengan agenda tuntutan jaksa. (ROBERTS)




Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini