-->
crossorigin="anonymous">

PT INALUM Perkuat Program Konservasi dan Penghijauan di Daerah Tangkapan Air Danau Toba

Sebarkan:

 

Ilustrasi PLTA Sigura-gura, PLTA Tangga dan sebaran konservasi di DTA Danau Toba. (Mol/Inalum-os) 

(Oleh: Olo Sirait, 
Jurnalis Metro-online.co)
  • "Komitmen perusahaan untuk terus menjaga Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Pemulihan ekosistem di kawasan tersebut merupakan prioritas utama untuk mencegah erosi dan menjaga kestabilan neraca serta kualitas air," tegas Direktur Utama PT INALUM Melati Sarnita. 


PREAMBUL:

Sebelum menorehkan guratan demi guratan Lomba Karya Tulis di IN-Jounal Chapter II dengan Tema, "Menulis Jejak untuk Bumi" serta Sub Tema, "Danau Toba dan Upaya Memulihkan Alam, Catatan Konservasi untuk Generasi Mendatang" izinkan penulis juga sebagai warga Toba sendiri menyampaikan rasa terima kasih kepada PT INALUM dengan adanya lomba ini dan peran serta PT INALUM dalam mewujudkan kawasan Danau Toba menjadi lebih asri lagi. 



Danau Toba bukan sekadar bentangan air yang memukau mata. Danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara ini adalah sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Airnya menghidupi pertanian, menjadi sumber energi, menopang sektor pariwisata, sekaligus menyimpan nilai sejarah dan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Namun, keindahan Danau Toba menghadapi berbagai tantangan. Kerusakan hutan di kawasan tangkapan air, pencemaran akibat sampah, serta menurunnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan menjadi ancaman nyata bagi kelestarian danau ini. 

Jika tidak ditangani secara serius, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mendengar cerita tentang kejayaan Danau Toba tanpa dapat menikmati keindahannya secara langsung.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. 

Komitmen menjaga kelestarian lingkungan Danau Toba terus diwujudkan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) melalui berbagai program konservasi dan penghijauan di kawasan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba. Upaya ini menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam melestarikan salah satu warisan dunia sekaligus menjaga sumber kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem Danau Toba.

Dengan ini, PT INALUM sebagai perusahaan yang tumbuh dan berkembang di kawasan Danau Toba memiliki peran strategis dalam mendukung upaya pemulihan lingkungan. Melalui berbagai program konservasi dan tanggung jawab sosial, PT INALUM turut menulis jejak kepedulian bagi bumi yang lebih lestari.

Direktur Strategic Support dan Human Capital Benny Wiwoho mengatakan konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. 

"Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang," statemen Benny Wiwoho di Handbook IN-Journal. 

Selanjutnya Ka-Grup Layanan Strategis INALUM Daniel Hutauruk menyampaikan melalui berbagai program konservasi yang dijalankan secara berkelanjutan, INALUM berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan. 

"Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan," ucap Daniel Hutauruk. 

Diketahui, PT INALUM merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang peleburan aluminium. Perusahaan ini memiliki peran penting dalam mendukung hilirisasi industri pertambangan dan penyediaan aluminium nasional.

Dilansir dari Wikipedia.com Inalum bermula pada tahun 1972, ketika Pemerintah Indonesia menerima laporan studi kelayakan dari perusahaan konsultan Jepang, Nippon Koei. Studi tersebut menyatakan bahwa potensi aliran Sungai Asahan di Sumatera Utara layak dimanfaatkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dapat mendukung industri peleburan aluminium. 

Pada 7 Juli 1975, Pemerintah Indonesia bersama 12 perusahaan Jepang menandatangani perjanjian induk pembangunan Proyek Asahan di Tokyo. Untuk menjalankan proyek tersebut dibentuk perusahaan Nippon Asahan Aluminium Co.Ltd. (NAA).
Komposisi kepemilikan saham saat itu adalah Pemerintah Indonesia 10%
Konsorsium Jepang (NAA) 90%
Porsi saham Indonesia kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai 41,12% pada tahun 1998. 

PT Indonesia Asahan Aluminium resmi didirikan pada 6 Januari 1976 sebagai perusahaan penanaman modal asing (PMA). Inalum menjadi pelopor industri peleburan aluminium pertama di Indonesia dengan investasi yang sangat besar pada masanya. 

Menjadi BUMN Indonesia (2013–2014)
Setelah masa kerja sama dengan Jepang berakhir, Pemerintah Indonesia mengambil alih seluruh saham milik konsorsium Jepang. 9 Desember 2013 kontrak kerja sama berakhir. Pada 19 Desember 2013 Inalum resmi menjadi milik penuh Pemerintah Indonesia. 21 April 2014 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2014, Inalum resmi menjadi BUMN ke-141 Indonesia. 

Keberadaan PT INALUM tidak hanya berperan sebagai perusahaan strategis nasional di sektor industri aluminium, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat di kawasan Danau Toba. Sejak beroperasi, perusahaan ini terus berupaya menghadirkan manfaat yang nyata melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, hingga pembangunan infrastruktur sosial. Bagi masyarakat Kabupaten Toba dan wilayah sekitar, kehadiran INALUM tidak sekadar sebagai pengelola sumber daya energi dan industri, tetapi juga sebagai mitra pembangunan yang ikut mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat.

INALUM serahkan bantuan pendidikan bagi siswa Toba diserahkan melalui Bupati Toba Effendi SP Napitupulu dan Wakil Bupati Audi Murphy Sitorus. (int) 

Dalam sektor pendidikan, INALUM secara konsisten memberikan bantuan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa berprestasi, renovasi fasilitas sekolah, serta berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Melalui langkah ini, perusahaan berupaya menjiwai semangat bahwa investasi terbaik bagi masa depan adalah pendidikan generasi muda.

Di bidang kesehatan, INALUM turut mendukung berbagai kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat, bantuan sarana kesehatan, serta program-program yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup warga. Kehadiran program tersebut menjadi bentuk kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan operasional perusahaan.

Sementara itu, dalam aspek pemberdayaan ekonomi, INALUM mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pembinaan, pelatihan, serta bantuan permodalan dan pemasaran. Program ini membantu pelaku usaha lokal meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Toba.

Komitmen terhadap lingkungan juga menjadi perhatian utama. Berbagai kegiatan penghijauan, konservasi sumber daya alam, pengelolaan lingkungan berkelanjutan, serta dukungan terhadap pelestarian kawasan Danau Toba menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan industri dan kelestarian alam. 

Langkah ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam menjalankan bisnis.

INALUM Dorong Pertanian Berkelanjutan lewat bantuan dan penanaman pohon di Toba. (Int) 

Bagi masyarakat Toba, berbagai program yang dijalankan INALUM telah menjadi bukti bahwa pertumbuhan industri dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan perlindungan lingkungan. Melalui kolaborasi yang terus dibangun dengan pemerintah daerah, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan, INALUM berupaya menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi masa kini maupun generasi mendatang.

Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks, PT INALUM menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari capaian bisnis semata, tetapi juga dari sejauh mana perusahaan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dari tepian Danau Toba, semangat keberlanjutan itu terus tumbuh, menjadi warisan berharga bagi generasi yang akan datang.

Sejak dahulu, Danau Toba telah menjadi pusat kehidupan masyarakat di kawasan Danau. Dari danau ini masyarakat memperoleh sumber air, ikan, mata pencaharian, hingga ruang untuk mengembangkan potensi wisata. Alam Danau Toba mengajarkan bahwa manusia dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Sayangnya, perkembangan zaman membawa tantangan baru. Aktivitas manusia yang kurang ramah lingkungan menyebabkan terjadinya pencemaran air dan kerusakan ekosistem. Sampah plastik masih ditemukan di sejumlah kawasan wisata. Penebangan hutan secara tidak terkendali mengurangi kemampuan alam menyerap air hujan dan meningkatkan risiko bencana.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan, keseimbangan alam akan terganggu. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada keberadaan Danau Toba.

Memulihkan alam melalui aksi nyata
upaya memulihkan Danau Toba membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Penanaman pohon di kawasan hulu menjadi langkah penting untuk menjaga daerah resapan air. Gerakan membersihkan sampah harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat, pelajar, komunitas, dan pelaku usaha.

Selain itu, pendidikan lingkungan perlu ditanamkan sejak dini. Anak-anak harus memahami bahwa membuang sampah sembarangan bukanlah hal sepele. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk cinta terhadap masa depan.

Dalam konteks inilah peran dunia industri menjadi sangat penting. Keberadaan perusahaan tidak hanya diukur dari keuntungan ekonomi yang dihasilkan, tetapi juga dari kontribusinya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sebagai perusahaan nasional yang beroperasi di kawasan Danau Toba, PT INALUM menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui berbagai program tanggung jawab sosial dan lingkungan. Berbagai kegiatan penghijauan, dukungan terhadap konservasi, pemberdayaan masyarakat, hingga edukasi lingkungan menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga alam.

Kepedulian tersebut bukan sekadar memenuhi kewajiban perusahaan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan. Ketika hutan tetap hijau, sumber air terjaga, dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya lingkungan, maka manfaatnya akan dirasakan oleh semua pihak.

Jejak kepedulian yang ditinggalkan hari ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Kepedulian dapat dimulai dari rumah, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sekitar. Ketika semakin banyak orang terlibat, maka gerakan kecil akan berubah menjadi kekuatan besar yang mampu menyelamatkan bumi.

Danau Toba adalah anugerah yang tak ternilai. Keindahannya bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga harus diwariskan kepada anak cucu di masa depan. Menjaga dan memulihkan alam membutuhkan kesadaran, kerja sama, dan komitmen yang berkelanjutan.

Melalui berbagai upaya konservasi dan kepedulian terhadap lingkungan, PT INALUM telah menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan. 

Dikutip dari Handbook IN-Jounal INALUM pada Senin (15/6/2026) bahwa sebaran konservasi di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba tahun 2025 ialah 10.000 unit Biopori, 500 unit Sumur Resapan, 15 unit Sumur Injeksi, 15 Sekolah Program Sekolah Peduli Lingkungan, 3 Kebun Rakyat kapasitas 150.000 bibit per tahun, Pembibitan Modern Paritohan Kapasitas 500.000 bibit per tahun, 18 MPA sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di DTA Danau Toba dan 1000 hektare area program penanaman pohon. 


Taman Kehati Perumahan PLTA PT INALUM. (Int) 

Selanjutnya program nenanaman pohon INALUM sepanjang tahun 2025 dan komitmen terhadap energi dan lingkungan yaitu program penanaman pohon, pembibitan modern dan kebun bibit rakyat, penerapan metode tani nusantara serta program sekolah dan masyarakat peduli lingkungan. 

Selain itu, ruang terbuka hijau kehati Paritohan dengan luas area 4 hektare tanaman endemik seperti kemenyan, suren, andaliman dan lainnya. Fasilitas alami biopori, sumur resapan, kolam ikan, penangkaran rusa, dan tanaman air. Yang berfungi sebagai pusat edukasi lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati. 

TANTANGAN:

Aktivitas sektor riil di penjuru dunia terpukul menyusul pandemi Covid-19, termasuk perusahaan memproduksi barang fisik berupa aluminium ingot, billet dan alloy ini. Perlahan namun pasti, PT INALUM bangkit dari puing-puing kegelisahan.

Mengutip situs Laporan Tahunan PT INALUM, tahun 2022 merupakan awal kebangkitan finansial pascapandemi. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 57% dan pendapatan sebesar 57% (yoy).

Kemudian tahun 2023 hingga 2024, laba bersih perusahaan terus mengalami tren peningkatan stabil. Laba bersih tercatat sebesar US$57 juta pada 2023 dan naik menjadi US$123,7 juta pada 2024. 

Tahun 2025 PT INALUM mencetak rekor laba bersih tertinggi sepanjang sejarah 50 tahun perusahaan berdiri, menembus angka US$142,8 juta (sekitar Rp2,42 Triliun) atau naik sekitar 15% dari tahun sebelumnya.

Izinkan penulis mencoba merajut beberapa tantangan PT INALUM di masa depan. Selain sebagai produsen aluminium terbesar di Tanah Air, juga anggota holding pertambangan Mining Industry Indonesia (MIND ID), garda terdepan hilirisasi nasional.

Pertama, tantangan energi. Industri aluminium dikenal sebagai salah satu paling intensif energi. Biaya listrik dapat menyumbang hingga 30-40 persen dari total biaya produksi aluminium.

Demikian halnya dengan skema hilirisasi. PT INALUM bersama induk usahanya, MIND ID sedang berjibaku membangun smelter aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun. 

Smelter yang direncanakan beroperasi 2028 mendatang untuk mengurangi ketergantungan impor alumina sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional, juga membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah sangat besar dan berkelanjutan. 

Artinya faktor energi menjadi kunci utama keberhasilan operasional smelter tersebut. Selain itu, perusahaan juga membutuhkan jaminan harga listrik yang kompetitif agar mampu bersaing di pasar internasional.

Kedua, hilirisasi dan integrasi. Pemerintah menargetkan tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, melainkan menghasilkan produk aluminium bernilai tambah tinggi.

Ketiga, ancaman vversupply aluminium nasional, di tengah masifnya pembangunan smelter baru. Diprediksikan, tahun 2035 produksi aluminium primer Indonesia dapat mencapai sekitar 4,9 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan pasar domestik diperkirakan hanya sekitar 707 ribu ton. Kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan harga dan persaingan tidak sehat di dalam negeri.

Keempat, persaingan global dan tekanan harga. Harga aluminium dunia sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, kebijakan perdagangan, serta produksi negara-negara besar seperti China. Ketika harga turun, margin keuntungan produsen aluminium ikut tertekan. Di sisi lain, produsen global terus meningkatkan efisiensi dan menerapkan teknologi rendah emisi.

Kelima, tuntutan industri hijau dan dekarbonisasi. Artinya, pasar global kini semakin menuntut produk aluminium yang diproduksi dengan emisi karbon rendah. Negara-negara Eropa bahkan mulai menerapkan kebijakan perdagangan berbasis emisi karbon. Jika tidak beradaptasi, produk aluminium Indonesia berpotensi menghadapi hambatan masuk ke pasar internasional.

SOLUSI:

Dengan segala keterbatasan, izinkan juga penulis menawarkan solusi atas krepima poin tantangan dimaksud. Pertama, mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT) seperti PLTA, PLTS dan energi hijau guna memenuhi tuntutan pasar global terhadap produk rendah karbon. Kemudian, melakukan efisiensi energi melalui modernisasi teknologi peleburan.

Kedua, mempercepat penyelesaian proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dan smelter aluminium Mempawah. Kemudian mengembangkan industri hilir seperti aluminium lembaran, kabel, otomotif, dan bahan baku kendaraan listrik. Meningkatkan kemitraan dengan industri manufaktur nasional agar tercipta pasar domestik yang kuat.

Ketiga, Pemerintah perlu menyusun peta jalan (roadmap) pembangunan smelter nasional secara lebih terukur. Perlunya inovasi mengembangkan pasar ekspor baru di kawasan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Mempercepat hilirisasi hingga menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi. Mendorong pertumbuhan industri pengguna aluminium di dalam negeri.

Keempat, melakukan diversifikasi pasar ekspor secara masif. Selanjutnya meningkatkan efisiensi operasional melalui digitalisasi dan otomasi. Mengembangkan produk premium dengan nilai tambah tinggi serta membangun sistem lindung nilai (hedging) terhadap fluktuasi harga komoditas.

Solusi kelima, memperbesar porsi penggunaan energi hijau, khususnya tenaga air dan surya. Mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Menerapkan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) secara konsisten.

Kemudian tak kalah pentingnya, manajeken PT INALUM harus mampu mengembangkan sertifikasi aluminium hijau untuk memperkuat daya saing ekspor.

PENUTUP:

Ibarat pepatah bijak, ‘Tak ada gading yang tak retak’. Dengan sepuluh jari serta kepala di atas, penulis tidak lupa menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya apabila ada kata yang tidak pada tempatnya.

Kesemuanya berangkat dari keinginan luhur dari penulis agar ke depan PT INALUM hadir untuk kesejahteraan rakyat Indinesia dalam bingkai,
‘Menjadi Perusahaan Global Terkemuka Berbasis Aluminium Terpadu Ramah Lingkungan’. Bravo dan sukses untuk PT INALUM. (**) 

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini