DELISERDANG |Hasil panen anjlok Perusahaan merugi, ribuan pohon kelapa sawit kebun PTPN 4 Regional (Reg) 2, Kebun Tanjung Garbus (dulunya Kebun TGPM PTPN2) mengering dan tak ada buahnya. Kondisi tanaman yang rusak parah itu terpantau di Afdeling Satu Desa Perbarakan hingga Afdeling Dua Desa Tanjung Garbus Dua, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deliserdang, Senin (13/4/2026).
Foto : Pohon Sawit PTPN Kebun TGPM , Kecamatan Pagar Merbau Kering Diserang Hama ( MOL/GN)
Pantauan, tanaman pohon sawit yang rusak diperkirakan berusia 10-15 tahunan itu sebagian besar tak punya buah bahkan bunga bakal buah.
Tingkat kerusakan tanaman di Afdeling Satu dan Afdeling Dua Kebun Tanjung Garbus PTPN 4 Regional 2 ini cukup parah. Padahal, tanaman sawit fase ini mestinya berada di puncak produksi buah yang semestinya baik.
Menurut salah seorang karyawan yang ditemui di lapangan mengatakan, tanaman Kelapa Sawit milik Regional II, PTPN 4 PalmCo, mengalami serangan hama ulat kantong dan ulat api secara masif. Lemahnya pengawasan serta minimnya tindakan pencegahan dari pihak manajemen kebun mengakibatkan kerusakan tanaman makin parah dan merugikan perusahaan.
Dalam enam bulan terakhir, serangan hama diprediksi terus berkembang akibat tidak efektifnya sistem identifikasi dini (early warning) serta kegiatan telling global di tingkat operasional kebun. Padahal, tanaman sawit pada fase TBM-3 merupakan fase kritis pertumbuhan vegetatif yang membutuhkan pengawasan intensif untuk menjamin produktivitas jangka panjang.
Penanganan baik secara mekanis maupun biologis, dinilai tidak dilakukan secara cepat, terukur, dan terstruktur sehingga populasi hama berkembang hingga meluas ke blok lain.
Beberapa areal tanaman sawit muda yang terserang ulat api dengan tingkat kerusakan cukup parah juga ada namun belum terlihat adanya upaya penanggulangan maksimal di lapangan.
Sumber internal PTPN 4 yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebut bahwa kondisi ini terjadi sejak lama. Ia menilai lemahnya pengawasan rutin dan terlambatnya menetapkan status early warning menjadi faktor utama meledaknya populasi hama di areal tersebut.
"Secara teknis, ulat kantong merupakan hama defoliator yang sangat merugikan karena menyerang pelepah dan daun sehingga menurunkan luas bidang daun produktif. Bila penanganan terlambat, serangan dapat menyebabkan stres berat pada tanaman, menghambat pembentukan bunga, hingga menurunkan produksi selama beberapa tahun," sebut salah seorang sumber karyawan kebun.
Melihat kondisi saat ini, kerugian perusahaan plat merah ini dikhawatirkan semakin besar bila luas serangan terus terjadi, terutama pada tanaman usia muda. Selain penurunan produktivitas, perusahaan berpotensi mengeluarkan biaya tambahan untuk rehabilitasi tanaman—sementara biaya perawatan TBM sesungguhnya telah dialokasikan dalam anggaran perusahaan.
Terkait hal ini, Askeb PTPN 4 Regional 2, Kebun Tanjung Garbus saat dikonfirmasi via seluler membenarkan tanaman sawit mereka diserang hama ulat kantong hingga daunnya mengering. Namun mereka telah melakukan upaya penanganan dengan cara melakukan penyuntikan tanaman.
"Iya kena hama, namun kita sudah terus upayakan penyuntikan cairan obat hama pada batang pohon," ucap Irfan Nasution.
Ketika ditanya apakah selama proses penyuntikan pohon sawit yang terkena hama menggunakan racun pestisida buahnya tetap dipanen, Askeb mengatakan hal itu tidak terkontaminasi pada buah kelapa sawit hingga tetap dipanen.
Dari pantauan, ribuan pohon sawit PTPN 4 Regional 2 di Afdeling 1 dan 2 banyak tak punya buah bahkan bunga juga tidak ada. Diperkirakan perusahaan akan merugi besar dalam biaya perawatannya saja, selain diduga kurang perawatan, bibit awal tanaman juga kemungkinan tidak bagus.( GN)
