-->

Isak Tangis Histeris Ibunda Korban Tenggelam di Danau Toba: Tuhan, Tunjukkan Anakku!

Sebarkan:

Ibunda korban tenggelam Nuriani Boru Simbolon terisak tangis histeris memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar anaknya Christopher Rustam ditemukan saat tiba di lokasi Air Terjun Situmurun, Kabupaten Toba, (12/4/2026). (Mol/os) 

TOBA
| Di hari kedua pencarian korban tenggelam Christopher Rustam, 21, di perairan Danau Toba Air Terjun Situmurun, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Ibunda korban yaitu Nuriani Boru Simbolon tak mampu menahan rasa duka yang teramat dalam saat ia tiba di lokasi kejadian, Minggu (12/4/2026). 


Ibunda korban sengaja datang dari Batam, Kepulauan Riau, setelah menerima kabar bahwasanya anaknya yang ia sayangi hilang tenggelam di perairan Danau Toba.

Begitu tiba di tempat kejadian, Nuriani Boru Simbolon langsung pecah tangis histeris. Ia berlutut menatap permukaan danau. Ia berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar jasad anaknya ditunjukkan. 

“Tuhan, tunjukkan anakku! Kembalikan anakku!" isaknya, membuat banyak warga yang berada di tempat itu ikut meneteskan air mata.

Warga yang berkumpul berusaha menenangkan dan memberi semangat. Namun kesedihan begitu pekat menyelimuti bibir Danau Toba siang itu.

Basarnas, BPBD Kabupaten Toba, tim penyelam, Camat Lumban Julu Herta Simanjuntak, personel Polsek Lumban Julu yang dipimpin oleh Kapolsek Lumban Julu AKP RE Sihotang, Koramil 12 Lumban Julu, turut melakukan pencarian, namun hingga minggu sore, Christopher Rustam belum jua ditemukan. 

Pencarian akan dilanjutkan senin pagi. Seorang calon pastor muda, yang datang untuk menikmati indahnya alam Danau Toba, kini masih terbenam di kedalaman 105 meter, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, teman, dan seluruh rekan sesama frater. 

Liburan yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi duka. Christopher Rustam, 21, mahasiswa semester 2 UNIKA St Medan Fakultas Filsafat Siantar sekaligus Frater atau calon pastor, tenggelam di perairan Air Terjun Situmurun, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sabtu (11/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Sebelum kejadian, Christopher bersama rombongan sesama calon pastor baru saja selesai menjalani studi dan evaluasi koleksi selama tiga hari di Pematangsiantar. Pagi itu, mereka menyempatkan diri rekreasi ke Air Terjun Situmurun yang langsung menghadap ke Danau Toba. Setibanya di lokasi, para frater turun berenang menikmati sejuknya air. Tak ada yang menyangka, itu menjadi renang terakhir Christopher.

Menurut keterangan Pastor Ngadiono yang ikut dalam rombongan, Christopher tiba-tiba kelelahan dan mengalami kram di kaki. Ia sempat berteriak minta tolong. Teman-temannya berusaha mengejar, namun derasnya arus membuat tubuh Christopher cepat terseret dan tenggelam di depan mata mereka. 

“Kami sudah berusaha, tapi arusnya kuat sekali. Dia langsung hilang,” ucap Pastor Ngadiono lirih.

Rombongan segera melapor ke Tim SAR dan kepolisian. Pencarian hari pertama langsung dilakukan. Tim Basarnas Danau Toba menurunkan penyelam dan menyisir permukaan dengan sonar Aquaeye. Namun kedalaman titik tenggelam yang mencapai 105 meter membuat pencarian sangat sulit. Tidak satu pun dari mereka memakai pelampung saat berenang.

Kepala Koordinator Basarnas Danau Toba, Erikson Gultom, membenarkan kondisi itu. “Korban kelelahan dan kram saat berenang bersama rombongan, lalu tenggelam. Hari pertama kami pakai sonar dan penyelaman, tapi belum ada hasil. Pencarian dilanjutkan besok pagi, 13 April 2026,” jelasnya. (os/os) 
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini