-->

49 Hari Pascabanjir, Masyarakat Aceh Tamiang Masih Tinggal di Tenda Pengungsian

Sebarkan:

 

Alat berat eskapator serta angkutan berupa dumtruck terlihat bersihkan lumpur dijalan serta dihalaman pemukiman warga yang saat ini masih tergenang lumpur sisa daripada banjir bandang (Poto:mol/lesman Simamora)


ACEH TAMIANG | 49 hari pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang, kini menyisakan banyak hal seperti lumpur tebal yang menyelimuti permukaan aspal badan jalan dan lantai rumah, Rabu (14/1/2026).

Meski upaya kerja keras telah dilakukan untuk mengevakuasi sampah/lumpur dari badan jalan, dan drainase dengan menurunkan alat berat escavator dan dump truck, namun hingga saat ini kondisi jalan belum juga bersih.

Kini ratusan ribu kepala keluarga (KK), warga di Kabupaten Aceh Tamiang berharap agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat menambah operator dan alat berat untuk diturunkan ke berbagai pelosok desa/kelurahan di Aceh Tamiang.

Dengan bertambahnya alat berat, dan operator, maka diharapkan pemulihan lingkungan akan lebih cepat lagi sehingga masyarakat dapat kembali ke kediamannya masing-masing, ujar salah seorang warga mengaku bernama Mahidin, 46, warga Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang kepada Metro Online.

"Kalau operator dan alat berat tidak segera ditambah, maka pemulihan lingkungan diperkirakan akan lebih  lama lagi, baik di kawasan perkotaan maupun di pelosok desa," terangnya.

Selain itu, kata dia, instalasi/ meteran listrik yang juga terendam banjir, itu juga dikeluhkan warga korban banjir. "Kita berharap pemerintah dapat mempermudah pemasangan baru instalasi/ meteran listrik sehingga ketika masyarakat kembali ke rumah merasa aman dan nyaman," ujarnya. 

Terlihat seorang ibu rumah tangga sedang melintasi jalan berlumpur di Dusun Satelit Graha, Desa Kebun Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. (Foto mol/Lesman Simamora)


Lumpur tebal menutupi permukaan badan jalan, juga di dalam rumah, membuat warga hingga saat ini masih tinggal di tenda pengungsian di depan halaman Kantor DPRK, dan  Kantor Bupati Aceh Tamiang, seperti yang bapak lihat (Metro Online-red), ucapnya.

"Kerja keras pemerintah untuk membersihkan sampah/lumpur di perkantoran/fasilitas umum, kata dia, juga lingkungan pendidikan sudah berjalan, tapi yang menjadi keprihatinan kita, anak-anak berangkat ke sekolah dari pengungsian, dan pulang sekolah kembali lagi ke tenda pengungsian." 

Hal lain, lanjutnya, warga korban banjir, kini ada banyak yang harus membayar jasa orang lain untuk membersihkan rumahnya dari timbunan lumpur hingga mencapai Rp 5 juta, bahkan ada yang lebih dari itu, ini juga menjadi beban bagi mereka, ungkapnya.

Pascabanjir di Aceh Tamiang, kini menyisakan banyak hal, badan jalan belum bersih, lantai rumah tertimbun lumpur, warga masih tinggal di tenda pengungsian, ekonomi merosot, belum lagi warga menderita batuk/plu, demam, dan lainnya, tutup Mahidin.(lesman/mp)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini