Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Ironis..! Gedung Sejarah Soekarno Berpidato di Padangsidimpuan, Kini 'Disulap' Jadi Tempat Hiburan Modern

Tim Redaksi: Jumat, 13 Maret 2020 | 17:35 WIB

Gedung Pos Kota dahulu (Kiri) dan sekarang (Kanan)
PADANGSIDIMPUAN - Gedung bersejarah yang berada di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, kini telah disulap menjadi tempat hiburan atau cafe dengan nuansa modern.

Gedung bersejarah yang berada di pusat kota Padangsidimpuan ini atau lebih dikenal denagan nama pos kota, sudah tidak bisa dilihat lagi dalam bentuk aslinya.

Gedung bersejarah yang dinamakan pos kota ini meninggalkan banyak cerita yang tersimpan didalamnya, dimana waktu itu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno pernah berkunjung ke wilayah Tapanuli Selatan, tepatnya di Kota Padangsidimpuan.

Dalam kunjungannya, Soekarno pernah menyampaikan pidatonya untuk memberikan semangat perjuangan kepada warga Tapanuli Selatan. Waktu itu di gedung bersejarah yang sekarang disebut pos kota.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari berbagai sumber, pada zaman penjajahan Belanda, Kota Padangsidimpuan dijadikan pusat pemerintahan oleh penjajah Belanda di daerah Tapanuli.

Peninggalan bangunan Belanda disana masih dapat dijumpai berupa kantor pos polisi pusat Kota Padangsidimpuan yang dikenal dengan sebutan pos kota.

Tidak itu saja, kalau ingin melihat sejarah Kota Padangsidimpuan, tersimpan foto-foto zaman dahulu di sebuah museum di kota Leiden, Belanda. Namun cerita tersebut banyak masyarakat apalagi generasi muda yang tidak mengetahui sejarah ini.

Kini, gedung bersejarah di pusat kota Dalihan Natolu itu, disulap oleh oknum yang tidak menghargai sejarah, menjadi cafe tempat hiburan yang bernuansa modern, sehingga keasliannya sudah tidak terlihat lagi.

Terlihat gedung bersejarah kebanggaan milik Pemko Padangsidimuan ini, sudah tidak memiliki nilai sejarah lagi, tidak terawat dan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.
Presiden Soekarno saat berpidato di Kota Padangsidimpuan, tepatnya di pos kota.
Salah satu pegiat sejarah Erwin Siregar yang juga dosen program studi sejarah di salahsatu perguruan tinggi, mengatakan, dirinya sangat menyesalkan jika gedung bersejarah yang ada di Kota Padangsidimuan tersebut dirubah menjadi tempat hiburan, sehingga bisa mengubah nilai-niilai sejarah yang tersimpan didalamnya.

Ia mengatakan, walaupun gedung tersebut adalah bangunan peninggalan penjajahan Belanda, tetapi tidak salah jika itu dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk peninggalan sejarah kebanggaan yang dimiliki warga Kota Padangsidimpuan.

"Gedung pos kota itu tidak hanya bagian dari sejarah Kota Padangsidimpuan, tetapi menjadi salah satu ikonnya kota ini dan akan menjadi nilai bagi Kota Padangsidimpuan dibandingkan dengan daerah-daerah lain," tutur Erwin kepada Metro Online, Jumat (13/3/2020).

Ia juga menceritakan bahwa Presiden Soekarno sekitar tahun 1940-an pernah datang ke Kota Padangsidimpuan menyampaikan pidatonya di gedung tersebut dan peninggalan gedung bersejarah di Kota Padangsidimpuan satu-satunya hanya gedung pos kota.

"Kita boleh saja melestarikan atau merenovasi tempat atau bangunan bersejarah, tetapi tidak harus merubah bentuk aslinya, sehingga bisa menghilangkan nilai-nilai sejarah yang terkandung didalamnya," terangnya.

Hal ini terlihat kecenderungan masyarakat yang mulai acuh terhadap sejarah masa lalu. Situs-situs peninggalan sejarah bangsa, termasuk museum-museum perjuangan di antaranya, nampak kurang mendapat hati dari orang-orang kekinian.

Dikatakannya lagi, tempat itu sah-sah saja jika dijadikan tempat hiburan atau pusat perbelanjaan, tetapi tidak harus merubah bentuk aslinya dan yang paling penting bangunan atau tempat bersejarah itu mendapatkan legalitas dari pemerintah sebagai salah satu cagar budaya, hal ini bertujuan untuk melindungi bangunan - bangunan bersejarah di Indonesia.

"Kalau menurut saya, seharusnya bangunan tersebut didaftarkan ke balai cagar budaya, atau ke Unesco agar nanti ini bisa mendapatkan perhatian untuk terus dilestarikan dan dilindungi bahwa bangunan itu adalah milik negara yang harus dijaga dan wajib dilindungi," jelasnya.

"Kita harus berkaca kepada daerah-daerah lain yang sudah melakukan perhatian dan menjaga kelestarian bangunan dan tempat-tempat bersejarah di daerahnya. Kita boleh saja merubah fungsi tetapi bukan berarti harus merubah fisiknya, sehingga bisa mengurangi nilai sejarahnya," tambahnya.

Pengelolaan bangunan dan tempat bersejarah ini akan menjadi masukan bagi dinas pariwisata dan bagi pemerintah kota, jika ini dikelola dengan baik maka akan mendongkrak perekonomian dimana menjadi ini nantinya akan menjadi wisata sejarah.

"Misalnya, jika bangunan yang ada di pos kota tersebut dijadikan seperti museum dimana dokumen atau foto-foto bersejarah tentang Kota Padangsidimpuan dipajang disitu, hal ini akan menjadi daya tarik bagi masyarakat khususnya pelajar generasi muda. Mereka akan tahu bagaimana sejarah Kota Padangsidimpuan ini," ungkap Erwin.

Sebagi penggiat sejarah, Erwin menyampaikan dan menyarankan kepada pemerintah agar gedung bersejarah yang juga ikonnya Kota Padangsidimpuan itu, supaya dilestarikan agar warga bisa mengenal sejarah daerahnya dan bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka, apalagi kota Padangsidimpuan pernah disinggahi oleh Pendiri Bangsa Indonesia yaitu Presiden Soekarno.

"Sebagai warga Kota Padangsidimpuan seharusnya kita merasa bangga bahwa kita memiliki salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh dan ini diharapkan agar kita bisa melestarikan dan menjaganya karena negara yang besar itu negara yang bisa menjaga dan melestarikan sejarah bangsanya serta menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa," pungkasnya. (Syahrul)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html