![]() |
| Teks Foto : Korban Pembacokan saat menjalani operasi batok kepala (mol/Jl) |
DELISERDANG | Saat seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan Repobelik Indonesia ke-81 pada Senin (17/8/2026), kemerdekaan dan rasa aman itu belum dapat dirasakan oleh keluarga Agung Wardana Sembiring, pelajar yang menjadi korban pembacokan kejam di Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Deli Serdang pada dua tahun lalu.
Sudah hampir dua tahun berlalu sejak peristiwa berdarah itu terjadi, namun pelaku utama yang telah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) hingga kini masih bebas berkeliaran, belum juga diringkus pihak kepolisian.
Peristiwa penganiayaan yang mengubah masa depan seorang pelajar itu terjadi pada 8 September 2024. Saat korban hendak pulang ke rumahnya Dusun II Lau Bintang Desa Lau Rempak, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deliserdang.
Dan tengah perjalanan, tepatnya di Desa Bangun Purba korban diserang oleh sekelompok geng motor dan membacok bagian kepala korban dengan perang hingga korban terjatuh.
Setelah polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan akhirnya menetapkan Abu Dzar Ghifary Nasution alias Abu sebagai tersangka utama sekaligus dimasukkan dalam DPO. Namun sampai detik ini, pelaku yang seharusnya sudah berada di balik jeruji besi itu belum juga tertangkap.
Dua kali peringatan kemerdekaan RI telah berlalu dari tahun 2024 hingga 2026, namun keadilan untuk Agung belum kunjung datang. Kemerdekaan yang dirayakan seluruh rakyat Indonesia ternyata belum dapat dirasakan keluarga korban.
Kepada awak media pada Selasa (18/8/2026), ayah korban, Jeraman Sembiring, menyampaikan rasa kekecewaan mendalam dan keprihatinan yang tak terlukiskan.
![]() |
| Teks Foto : Orangtua korban (mol/Jl) |
"Sudah 81 tahun negara ini merdeka dari penjajah, tapi mengapa keadilan untuk anak saya masih dijajah oleh ketidakpastian? Pelaku sudah ditetapkan DPO, sudah diketahui identitasnya, tapi sampai sekarang belum ditangkap juga. Kami sudah menunggu hampir dua tahun, dua kali merayakan kemerdekaan dengan hati yang terluka," ungkap Jeraman Sembiring sambil menangis.
Jeraman melanjutkan, bahwa biaya pengobatan anaknya telah menghabiskan ratusan juta rupiah. Agung menderita luka parah di kepala hingga harus dipasang pelat di tengkoraknya, serta mengalami gangguan pada kaki yang membuatnya sulit berjalan normal. Harapan untuk melanjutkan cita-citanya masuk menjadi anggota TNI pun harus pupus seketika karena cacat permanen akibat perbuatan pelaku.
"Kami tidak meminta yang lain selain keadilan. Tangkap pelaku itu, proses sesuai hukum yang berlaku. Jangan sampai kemerdekaan negara ini dirayakan, tapi pelaku kejahatan justru merdeka sementara korban menderita seumur hidup. Kami mohon kepada Kapolda Sumut dan Kapolresta Deli Serdang, segera tindak lanjuti kasus ini. Jangan biarkan DPO itu hanya menjadi tulisan di kertas saja," beber Jeraman Sembiring.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai perkembangan penangkapan terhadap Abu Dzar Ghifary Nasution alias Abu. Keluarga korban berharap, di usia kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia ini, akhirnya keadilan pun dapat segera ditegakkan. (Jasa/Jl)


