![]() |
| Warga mengibarkan bendera merah putih dalam rangka HUT RI ke 81 di Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Labuhan. (mol/dok). |
MEDAN | Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI suasana pengibaran bendera Merah Putih di sejumlah wilayah Sumatera Utara masih terlihat sepi terutama di komplek perumahan tertutup yang dihuni kelompok etnis tertentu, Sabtu (15/8/2026).
Pengibaran bendera yang biasanya semarak di bulan Agustus, tahun ini dinilai belum menggema khususnya di permukiman warga.
Penyebab Rendahnya Minat Warga Mengibarkan Bendera
Dilangsir dari Media Berita Sekilas Sumut, pengamat sosial Sumut Agus Suriadi menyebut ada beberapa faktor yang membuat tradisi ini mulai pudar diantaranya perubahan kebiasaan dan kepraktisan
"Dulu tiap Agustus RT/RW yang bagiin bendera. Sekarang banyak warga merasa repot. Harus beli sendiri, harus pasang sendiri. Akhirnya diabaikan," jelas Agus.
Kemudian melemahnya makna simbolik kemerdekaan bangsa. Bagi sebagian anak muda, mengibarkan bendera dianggap "formalitas" semata. Nilai nasionalisme tidak lagi ditanamkan lewat kegiatan nyata di lingkungan. Akibatnya, semangat 17-an terasa seperti seremonial biasa.
Ada juga pengaruh budaya luar dan media sosial. Paparan budaya luar dan tren di media sosial membuat sebagian orang lebih fokus pada isu global dibanding perayaan nasional. Ditambah lagi, kritik terhadap kondisi bangsa di medsos kadang membuat sebagian warga apatis terhadap simbol-simbol negara.
"Jangan sampai anak cucu kita tidak kenal lagi apa arti Merah Putih karena kita sendiri yang melupakannya," ujarnya.
Selain itu, tidak meratanya gerakan imbauan pengibaran bendera di beberapa daerah menyebabkan hal itu terjadi. Ada kelurahan yang masif, ada yang tidak.
"Tidak ada sanksi sosial maupun apresiasi, sehingga warga tidak merasa wajib," pungkas Agus.
Gubsu: Kritik Boleh, Cinta Tetap Harus Ada
Menyikapi hal itu, Gubsu Bobby Nasution menegaskan pemerintah memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kekurangan. Namun ia mengingatkan, cinta tanah air adalah hal berbeda.
"Silakan kritik. Itu bagian dari demokrasi. Tapi Merah Putih adalah harga mati. Itu simbol perjuangan para pahlawan kita," tegasnya.
Pemprov Sumut bersama Pemko/Pemkab diminta menghidupkan kembali gerakan "Satu Rumah Satu Bendera" dengan cara yang lebih menyentuh dan bagi-bagi bendera gratis, lomba kampung terhias hingga edukasi di sekolah.
"Kecintaan terhadap Indonesia tetap harus kita jaga. Menyampaikan kritik itu boleh tapi jangan sampai mengurangi rasa cinta kita pada bangsa," ujar Bobby.
Pantauan di lapangan, pengibaran bendera merah putih di Kota Medan masih terbilang minum terutama di sekitar komplek perumahan tertutup yang dan dihuni kelompok etnis tertentu.
Sedangkan di kawasan rumah kampung pengibaran bendera merah putih sudah hampir merata.
Sudah saatnya pemerintah melakukan upaya paksa untuk mengsukseskan gerakan satu rumah satu bendera terutama di komplek perumahan tertutup yang banyak di tengah Kota Medan. (RE Maha/REM).

