LANGKAT | BBM jenis pertalite dan solar langka dikeluhkan ratusan penarik becak bermotor (Betor), dan sopir bus angkutan umum di Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Rabu (15/7/2026).
BBM Langka di daerah ini sudah berlangsung selama tiga hari belakangan ini, akibatnya penarik becak sulit mendapatkan BBM jenis pertalite.
Kalau bahan bakar minyak (BBM) tidak ada, lalu kami mau pakai apa untuk mengoperasikan becak ini, kan becak ini tidak mungkin bisa jalan kalau tidak ada minyak, ucap penarik becak mengaku bernama, Hendro,46, warga Kelurahan Bukit Jengkol, Kecamatan Pangkalan Susu kepada kru Metro Online.
"Penarik becak sehari-hari hidup dengan sangat sederhana sekali, cari pagi untuk makan sore, kalau becak tak dioperasikan, lalau kami makan apa," ucapnya dengan nada sedih.
Disinggung berapa harga BBM di tingkat eceran, ia ada yang seharga Rp 25.0000 sampai Rp 30.000 per botol (satu botol aqua besar), itu pun susah di dapat, sambungnya.
Sementara itu, di Kecamatan Pangkalan Susu tidak ada SPBU sehingga masyarakat sulit dapat BBM. Masyarakat hanya berharap ketersediaan BBM di kedai eceran.
Selain itu, para sopir bus angkutan penumpang umum juga mengeluh, BBM jenis solar juga susah didapat di SPBU, dan di kedai eceran yang dampaknya sangat merugikan "para pahlawan transportasi itu".
Karena BBM Langka, ujar seorang sopir, dia terpaksa menghentikan operasional bus-nya, terkadang hanya dapat satu trip dalam satu hari, tidak seperti biasanya satu hari dapat dua trip.
Kalau isi tanki minyak tidak cukup, ia sebaiknya operasional angkutan di hentikan, kan tidak mungkin para penumpang di dalam bus ikut antri dengan waktu yang relatif lama menunggu giliran pengisian BBM di SPBU, ungkap sopir.
Masih menurut abang becak, jika kelangkaan BBM ini berkelanjutan, bukan tidak mungkin keluarga penarik becak akan terancam kelaparan hanya gara gara BBM langka di pasaran.
Meski sebetulnya dirinya harus mencari rezeki lagi dengan mencari penumpang, namun apa daya, dia terpaksa lebih cepat pulang ke rumah karena BBM dalam tangki becaknya sudah tidak mencukupi lagi.
"Kami para penarik Betor di daerah ini dengan segala hormat meminta pemerintah agar bijaksana untuk menstabilkan kembali keberadaan BBM sehingga kami dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari anak dan istri, perhatikanlah nasib kami warga miskin ini," ujarnya penuh harap.
BBM langka, bukan saja dikeluhkan para penarik Betor saja, tapi juga masyarakat umum, baik itu pekerja swasta, PNS, pedagang, termasuk sopir bus angkutan umum jurusan Pangkalan Susu- Medan dan warga lainnya. "Tanpa BBM, kami tidak dapat beraktivitas sebagaimana mestinya," ujar seorang guru kepada kru Metro Online, sembari meminta namanya untuk tidak dipublikasikan.(lesman simamora/mp)

