![]() |
| Okki Aritonang gadis 10 tahun yang masih buta huruf saat berfoto bersama kedua orangtuanya di halam rumahnya (MOL/Samsul Sihombing). |
TAPANULI SElATAN | Seorang bocah atau anak berusia 10 tahun di Kabupaten Tapanuli Selatan masih belum bisa membaca dan menulis alias buta huruf, pasalnya keterbatasan ekonomi dan faktor kemiskinan membuat anak tersebut tidak bisa merasakan nikmatnya bangku sekolah.
Kondisi ekonomi dan terjerat di garis kemiskinan hingga kurangnya perhatian pemerintah menjadi akar utama banyak anak menjadi buta huruf akibat putus sekolah atau tidak pernah mengenyam pendidikan.
Selain itu, buta huruf atau buta aksara sangat berdampak serta merusak pada masa depan anak, melumpuhkan mental dan kehidupan sosial mereka.
Kedepannya, kondisi ini akan sangat mempersempit peluang kerja, memperbesar resiko dan terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
Belum luput dari ingatan, baru saja viral diperbincangkan di media sosial, kisah seorang ibu bernama Tuti Daulay warga Desa Dalihan Natolu, Dusun Aek Nabara, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan tengah hamil dan ingin melahirkan.
Karena keterbatasan akses, Tuti ditandu secara gotong royong sejauh 30 Kilometer dari desanya menuju RSUD Sipirok, Tapanuli Selatan untuk mendapatkan pertolongan karena ingin melahirkan.
Namun takdir berkata lain, Tuti masih bisa diselamatkan dan sayangnya buah hati di dalam kandungannya akhirnya meninggal dunia.
Belum lepas dari cerita Tuti ditandu, jeritan warga Dusun Aek Nabara masih terus menganga, ternyata banyak disana anak-anak yang putus sekolah bahkan sampai ada yang buta huruf tak pernah sama sekali merasakan nikmatnya bangku sekolah.
Salah satunya Okki Aritonang gadis berusia 10 tahun anak dari pasangan Sahala Aritonang dan Nur Aini Rambe, warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara belum pernah bersekolah.
Sebagai anak Indonesia Okki juga mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan sama seperti anak-anak lainnya.
Kendati demikian, keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya sebagai buruh tani harus menelantarkannya sebagai anak yang berstatus tidak memiliki pendidikan.
Okki adalah salah satu potret dibalik megahnya proyek pembangunan gedung Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, namun realitanya masih ada anak yang tidak mendapatkan haknya atas pendidikan di Bumi Tabagsel itu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun metro-online.co salah satu pemerhati warga Dusun Aek Nabara Samsul Bahri Sihombing menceritakan, kondisi di Desa Dalihan Natolu cukup memprihatinkan, sekolah dan pelayanan Kesehatan tidak ada disana.
Ironisnya lagi kata Samsul, anak-anak disana sekolah hanya sebatas Sekolah Dasar (SD) saja, bahkan ada yang putus sekolah dan sampai ada yang buta huruf karena tidak pernah mengenyam pendidikan.
"Di sana banyak anak yang sekolah sampai SD saja, bahkan banyak yang ngak tammat dan paling mirisnya lagi buta huruf salah satunya anak yang bernama Okki Aritonang itu," ungkap Samsul kepada metro-online.co (18/5/2026).
Samsul juga mengatakan, kondisi ekonomi orang tua Okki cukup memprihatinkan, keduanya hanya seorang petani biasa. Disamping itu kata Samsul ayah Okki merupakan orang yang ber IQ rendah.
Melalui Samsul Warga Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu menyampaikan harapan, agar pendidikan anak-anak di sana lebih diperhatikan pemerintah.
"Setidaknya pemerintah buat kelas' jauh aja kan aman, anak anak mereka bisa sekolah di kampung mereka,," harapnya
Sementara jarak 4 kilometer dari Dusun Aek Nabara ada SD Negeri Tano ponggol dan memiliki 12 orang murid dan 7 orang guru. Namun jarak tempuh yang cukup jauh ini membuat orang tua berfikir menyekolahkan anak mereka.
"Anak-anak di sana kalau mau msuk SD, sekolahnya jauh, harus pindah atau seperti anak kos. Karna ngak mungkinlah anak SD dibiarkan memasak sendiri kan susah maka diminta kelas jauh," jelas Samsul.
"Warga disana berharap adanya kelas jauh agar anak-anak disana bisa terus bersekolah dan jangan ada lagi anak-anak yang nasibnya sama seperti Okki Aritonang. Apalagi dengan kedatangan Pak Bupati Gus Irawan kesana bisa membawa perubahan di daerah itu," pungkasnya
Nasib yang dialami Okki Aritonang, mengingatkan peristiwa tragis yang menimpa pelajar SD asal Nusa Tenggara Timur (NTT) berusia 10 tahun bernama Yohannes Bastian Roja. Akibat himpitan kemiskinan ia nekat mengakhiri hidupnya,
Peristiwa ini menjadi tamparan dan pelajaran, tidak boleh ada lagi anak yang merasa terpinggirkan, putus asa, atau dibiarkan berjuang sendirian di lingkungan sekolah. (Syahrul/ST).

