-->

Dibalik Pujian Kepemimpinan Gus Irawan Pasaribu, Ternyata Masih Ada Warga Tapsel yang Menjerit

Sebarkan:

 

Warga Dusun Aek Nabara bergotong royong memandu seorang ibu hamil menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. (MOL/Samsul Bahri Sihombing.

TAPANULI SELATAN | Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Gus Irawan Pasaribu sudah tidak asing lagi namanya di dunia perpolitikan Indonesia bahkan dikancah nasional, berbagai prestasi dan penghargaan telah ia kantongi. Terbukti sejumlah kalangan baik media pun memuji kinerjanya. Namun sayangnya dibalik itu semua, ternyata masih ada warganya yang masih menjerit kesakitan.

Fenomena dimana pujian atas kinerja seorang bupati atau kepala daerah kadang berbanding terbalik dengan kondisi riil atau kenyataan. Dimana sebagian kehidupan warganya adalah realitas yang kerap terjadi. 

Kendati demikian, Narasi keberhasilan seringkali menonjolkan angka-angka makro, infrastruktur megah, atau penghargaan administratif dan sebagainya. 

Hal ini kadang menjadi sanjungan dari berbagai kalangan, sementara tidak jarang jeritan warga muncul dari isu dasar yang belum terselesaikan.

Pujian atas kinerja seorang bupati seringkali bersifat top-down (dari pemerintah pusat atau pihak luar), sedangkan jeritan warga bersifat bottom-up (dari pengalaman langsung) atau metode yang dimulai dari tingkat paling mendasar.

Keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari penghargaan, melainkan dari sejauh mana kebijakan tersebut menjawab kebutuhan paling mendasar dari warga yang paling rentan. 

Belum lepas dari ingatan, baru-baru ini sedang viral diperbincangkan di media sosial, ada seorang ibu bernama Tuti Daulay warga Desa Dalihan Natolu, Dusun Aek Nabara, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan tengah hamil dan ingin melahirkan.

Namun, keterbatasan akses dan sarana prasarana di desa tersebut membuat Tuti harus di tandu oleh sejumlah warga dengan cara gotong royong dengan jarak tempuh sejauh 30 Kilometer menuju Rumah Sakit Umum Daerah Sipirok, Tapsel untuk mendapatkan pertolongan.

Kejadian ini pun sempat viral di akun Facebook milik Samsul Bahri Sihombing yang di unggah, Sabtu, (9/5/2026). Peristiwa  memilukan ini pun mendapat perhatian dari netizen berbagai kalangan terus mengalir.

Pemerhati warga Dusun Aek Nabara Samsul Bahri Sihombing yang sempat dihubungi metro-online.co menceritakan, akses jalan di wilayah itu belum tersentuh pembangunan, ironisnya lagi, ditambah pusat pelayanan kesehatan pun tidak ada, sehingga warga harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk berobat.

"Saat ini Ibu tersebut sehat dan sedang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Sipirok, tapi bayinya tidak tertolong akhirnya meninggal dunia," ungkap Samsul kepada metro-online.co, Minggu (11/5/2026).

Tidak itu saja dikatakan Samsul, penderitaan warga di Dusun Aek Nabara  yang berjumlah 24 Kepala Keluarga (KK) bukan masalah itu saja, ternyata sudah bertahun-tahun daerah tersebut tidak dialiri listrik PLN, hanya mengandalkan lampu Surya saja.

"Warga cuma memakai lampu surya, itupun sudah banyak yang rusak karena tidak ada perawatan. Kondisi ini sudah lama mulai ini jadi kampung, dulu ada kincir disana itupun sudah lama rusak," sebut Samsul.

Jeritan warga Dusun Aek Nabara ini menginginkan disamakan haknya. Dimana peristiwa ini juga merupakan gambran bentuk perjuangan atas kesetaraan dan keadilan sosial bagi seluruh warga Tapanuli Selatan.

Bukankah di Indonesia, kesetaraan hak dijamin oleh konstitusi, namun dalam praktiknya, kelompok rentan seringkali masih menghadapi diskriminasi. 

Kendati demikian kata Samsul, warga berharap pemerintah Tapanuli Selatan dapat memperhatikan kondisi Dusun Aek Nabara, mulai dari pembangunan jalan, pelayanan kesehatan hingga listrik sebagai penerang," harapnya. (Syahrul/ST). 



Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini