![]() |
| Aneka macam plastik disalah satu toko. (MOL/Syahrul). |
PADANGSIDIMPUAN |Sejumlah pedagang kecil atau pelaku Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) di Padangsidimpuan menjerit, pasalnya lonjakan harga plastik terus mencekik leher.
Lonjakan harga plastik yang mencapai 40% hingga 100% per April 2026 membuat pedagang kecil dan UMKM dilema berat.
Hal ini menjadikan dua pilihan yang harus diterima oleh sejumlah pedagang, antara menaikkan harga jual atau menanggung tipisnya keuntungan.
Apa memilih bertahan tidak menaikkan harga demi menjaga pelanggan, meski biaya operasional melambung tinggi, keputusan ini sungguh membuat pedagang di Kota Padangsidimpuan menjadi dilema.
Fachri salahsatu penjual es batu rumahan, ia menceritakan naiknya harga plastik sudah dua kali, terhitung mulai Maret hingga April 2026. Namun kata Fachri Kenaikan harga plastik terakhir ini sungguh benar-benar mencekik leher.
"Sudah dua kali harga plastik naik, pertama di bulan Maret, untuk harga plastik yang satu kilo sebelum naik itu berkisar Rp28 ribu, kemudian naik menjadi Rp35 ribu dan naik lagi menjadi Rp55 ribu, apa ngak mencekik leher harganya," kesal Fachri kepada metro-online.co, Sabtu (11/4/2026).
Kendati demikian kata Fachri, untuk mengikuti perkembangan harga terpaksa ia naikkan harga jual kepada konsumen demi menutupi lonjakan harga plastik tersebut.
Sementara di tempat yang berbeda, amatan wartawan kenaikan harga plastik ini membuat beberapa pedagang di Padangsidimpuan menyiasati keuntungan dengan berbagai variasi.
Ada yang menaikkan harga, ada juga yang memperkecil porsi jualan dan bahkan ada yang bertahan walau mendapatkan keuntungan sangat tipis.
Terpisah, salah satu pemilik grosir plastik di Padangsidimpuan Anwar menyebutkan, lonjakan bahan baku plastik ini membuatnya harus menambah cost modal untuk menutupi lonjakan harga tersebut.
"Tentunya dalam hal ini sebagai pengecer plastik terpaksa kita harus menambah modal dari harga yang biasanya, ini menambah beban juga namanya. Asal yang berbahan baku plastik semaunya naik. Untuk menutupi itu harga ecer pun terpaksa naik," ungkapnya.
Senda juga disampaikan Farhan pemilik grosir plastik di Padangsidimpuan mengatakan, penambahan cost modal menjadi beban akibat kenaikan harga plastik.
Sementara penyebab harga plastik naik yang ia dapatkan dari berbagai distributor menyebutkan, akibat terjadinya eskalasi konflik atau perang di timut tengah mengakibatkan bahan baku plastik naik drastis.
"Informasi yang saya dapatkan kenaikan ini terjadi akibat perang di Iran vs Amerika, Israel, karena bahan baku plastik ini kan dari minyak juga jadi berpengaruh, katanya biaya produksi jadi naik. Jadi mau gimana lagi kenaikan harga ini betul membuat dilema, untuk menutupi modal terpaksa kita naikkan harga ecer, walau itu sulit dilakukan" ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari berbagai sumber, Salah satu penyebab utama harga plastik naik, akibat terjadinya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak. Gangguan ini mendorong kenaikan harga minyak, yang otomatis menaikkan biaya bahan baku petrokimia seperti nafta.
Dampaknya langsung terasa pada produksi plastik. Disisi lain, Indonesia masih bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut, dengan sekitar 70 persen bahan baku berasal dari Timur Tengah. Inilah yang membuat kenaikan harga plastik semakin sulit dihindari.
Namun dalam hal ini, sejumlah pedagang terutama pelaku UMKM berharap pemerintah Republik Indonesia mampu menekan lonjakan harga plastik tersebut dan tentunya ketika konflik di Timur Tengah berakhir harga plastik bisa normal kembali. (Syahrul/ST).

