![]() |
| Prosesi penerimaan tiga jenazah prajurit TNI setiba di Bandara Soekarno-Hatta. (mol/idn) |
Dari perut pesawat tiga peti jenazah diturunkan dengan penuh kehormatan. Masing-masing terbungkus rapi dalam balutan Bendera Merah Putih, simbol terakhir dari pengabdian panjang yang telah mereka tuntaskan hingga titik penghabisan.
Belasan prajurit TNI berdiri tegak, wajah mereka tegas namun tak mampu sepenuhnya menyembunyikan kesedihan. Langkah-langkah mereka terukur saat menggotong peti-peti itu menuju mobil jenazah, mengantar rekan seperjuangan dalam perjalanan pulang yang sunyi.
Di tengah prosesi, suasana terasa khidmat. Tak ada kata yang terucap, hanya doa yang menggantung di udara. Momen ini bukan sekadar pemulangan jenazah, melainkan penghormatan atas pengorbanan yang tak ternilai.
Ketiga prajurit tersebut adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadon.
Nama-nama yang kini terukir sebagai bagian dari sejarah pengabdian Indonesia di kancah perdamaian dunia.
Mereka gugur dalam dua insiden berbeda pada 29 dan 30 Maret 2026, saat menjalankan tugas di bawah panji United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Misi yang selama ini dikenal sebagai penjaga stabilitas di kawasan konflik, namun tetap menyimpan risiko yang tak pernah kecil.
Jauh sebelum tiba di Tanah Air, penghormatan terakhir telah diberikan di Bandara Internasional Rafic Hariri. Di sana, upacara pelepasan berlangsung dengan penuh penghormatan, dipimpin langsung oleh Komandan Pasukan UNIFIL.
Dalam prosesi itu, bendera-bendera berkibar setengah tiang. Para prajurit dari berbagai negara berdiri dalam satu barisan, menunjukkan bahwa pengabdian ketiga prajurit Indonesia telah melampaui batas-batas geografis.
Penghargaan PBB
Sebagai bentuk penghargaan, ketiganya dianugerahi medali kehormatan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Angkatan Bersenjata Lebanon secara anumerta. Sebuah simbol bahwa dedikasi mereka diakui, tidak hanya oleh bangsa sendiri, tetapi juga oleh dunia internasional.
Kembali di Tanah Air, prosesi persemayaman militer menjadi penutup dari perjalanan panjang tersebut. Setiap detik upacara berjalan dalam ritme yang sakral, seolah waktu pun ikut melambat untuk memberi ruang bagi penghormatan terakhir.
Tangis mungkin tak terdengar lantang di lokasi, namun duka terasa nyata. Di balik barisan seragam dan tata upacara yang rapi, tersimpan kehilangan mendalam—bagi keluarga, sahabat, dan rekan sesama prajurit.
Seusai upacara , perjalanan mereka belum sepenuhnya usai. Ketiga jenazah akan diberangkatkan ke daerah asal masing-masing, kembali ke pelukan tanah kelahiran yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir.
Kisah mereka adalah potongan kecil dari peran Indonesia di panggung global, tentang keberanian, dedikasi, dan pengorbanan yang sering kali luput dari sorotan.
Di antara hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, kepulangan mereka menjadi pengingat: bahwa perdamaian yang kita rasakan hari ini, di banyak tempat, dibayar dengan harga yang tidak sedikit.
Tiga nama itu kini telah pulang. Namun semangat pengabdian mereka akan terus hidup—dalam ingatan bangsa, dan dalam setiap langkah prajurit yang melanjutkan tugas di garis depan perdamaian dunia. (RobS/Idn/RS)

