![]() |
| Keberadaan salah satu pabrik arang batok kelapa, Selasa (31/3/2026).(mol/RG) |
Keluhan tersebut disampaikan warga setempat, Andry Hasibuan dan Malik, kepada wartawan, Selasa (31/3/2026) di Sei Rampah. Mereka menyebut aktivitas produksi arang menghasilkan asap hitam pekat serta abu yang beterbangan hingga masuk ke permukiman warga.
Menurut Malik, asap dari proses pembakaran batok kelapa kerap menyelimuti rumah warga, terutama pada dini hari hingga pagi hari. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membahayakan kesehatan manusia, hewan, serta merusak lingkungan.
“Asapnya terus masuk ke permukiman. Kalau dibiarkan, ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan warga,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, tiga pabrik arang tersebut diketahui milik warga bernama Ardi, Rahmat, dan Iwan. Warga pun telah menyatakan sikap tegas dengan menolak keberadaan pabrik tersebut.
Sekitar 70 warga, kata Malik, telah menandatangani surat penolakan yang ditujukan kepada Bupati, Ketua DPRD, dan Kapolres Serdangbedagai agar segera menindaklanjuti persoalan tersebut.
“Pabrik arang itu harus berhenti. Kami sudah tidak tahan dengan asapnya. Kami hanya ingin menghirup udara bersih. Kami tidak mengganggu usaha mereka, tapi mereka yang mengganggu kesehatan kami. Surat keberatan atas beroperasi pabrik arang sudah kami layangkan ke Bupati, Ketua DPRD, dan Kapolres Serdangbedagai,” tegasnya.
Senada, Andry Hasibuan mengaku terdampak langsung karena jarak rumahnya hanya sekitar 100 meter dari lokasi pembakaran arang. Ia mengatakan, udara pagi yang seharusnya segar kini berubah menjadi tercemar asap.
“Harusnya pagi hari kami bisa menghirup udara segar, tapi yang kami hirup justru asap pembakaran,” ujarnya.
Andry menjelaskan, proses pembakaran biasanya dimulai sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Asap kemudian turun dan menyelimuti permukiman hingga sekitar pukul 07.00 WIB, bahkan menjangkau badan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) di Desa Pon, Kecamatan Sei Bamban.
Ia juga mengungkapkan anaknya saat ini menderita bronkitis berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, yang diduga berkaitan dengan kondisi udara di sekitar tempat tinggal mereka.
“Anak saya saat ini sedang sakit bronkitis. Kami memohon kepada pengambil kebijakan untuk memindahkan pabrik arang batok kelapa tersebut,” ungkapnya.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat terkait segera turun tangan untuk menindaklanjuti keluhan tersebut demi menjaga kesehatan serta kenyamanan lingkungan masyarakat. (HR/HR)

