![]() |
| Foto ilustrasi dampak El Nino. (mol/invid) |
Fenomena tersebut berkaitan dengan kemunculan anomali iklim El Nino yang belakangan dijuluki sebagai ‘Godzilla’ karena potensi dampaknya yang besar.
Perubahan ini menyebabkan pusat pembentukan awan hujan bergeser dari wilayah Indonesia ke Samudra Pasifik, sehingga curah hujan di dalam negeri menurun.
Meski demikian, istilah ‘Godzilla’ bukanlah kategori resmi dalam ilmu klimatologi, melainkan hanya istilah populer untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang ekstrem.
Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan NASA, Bill Patzert, pada 2015 untuk menggambarkan intensitas El Nino yang luar biasa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan, penggunaan istilah ini lebih sebagai peringatan dini agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang meluas.
BRIN juga menyebutkan bahwa kemungkinan adanya kombinasi beberapa fenomena iklim dapat memperparah kondisi kekeringan di sejumlah wilayah.
Sementara itu, laporan dari NOAA tertanggal 12 Maret 2026 menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini masih berada dalam fase netral.
Namun demikian, peluang terbentuknya El Nino diperkirakan meningkat hingga 62 persen pada pertengahan tahun 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa melemahnya angin pembawa uap air akan berdampak pada penurunan suhu perairan Indonesia.
Akibatnya, intensitas hujan akan berkurang dan musim kemarau berpotensi menjadi lebih kering dari biasanya. Dampak nyata dari kondisi ini antara lain berkurangnya cadangan air di waduk, sumur yang mengering, serta terganggunya sistem irigasi pertanian.
Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga diprediksi meningkat seiring dengan kondisi yang semakin kering.
Sulawesi Tengah
Wilayah Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian khusus karena telah menunjukkan gejala kekeringan sejak awal 2026.
Beberapa daerah seperti Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi diperkirakan akan mengalami dampak lebih awal, termasuk penurunan debit air dan kerusakan lahan pertanian.
Berikut rincian ancaman El Nino di wilayah Sulawesi Tengah berdasarkan data proyeksi iklim:
Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi menjadi daerah yang merasakan dampak paling awal. Warga di kawasan tersebut berpotensi menghadapi risiko sumur mengering, debit mata air mengecil, hingga tanah pertanian retak.
Sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Petani diimbau segera menyesuaikan waktu tanam dan memilih bibit yang tidak butuh banyak air.
Sebanyak 44,8 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau yang durasinya lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
Penurunan curah hujan akan terasa bertahap mulai Juni, meluas pada Juli, dan mencapai puncaknya pada September 2026.
Menyikapi peringatan ini, pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan pasokan air bersih dan mengantisipasi kebakaran lahan.
Sementara itu, warga diimbau mulai memperbaiki saluran air yang bocor, menampung air hujan selagi ada, dan menghemat penggunaan air rumah tangga sedini mungkin. (RobS/Kpt)

