![]() |
| Warga Dusun III, Desa Aekhorsik, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.(Foto: Yasmend/mol) |
TAPTENG | Lebih dari tiga bulan pascabanjir dan luapan sungai yang terjadi pada 25 November 2025, sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) di Dusun III, Desa Aekhorsik, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, masih bertahan dalam kondisi memprihatinkan.
Pantauan kru Metro-Online.co di lokasi pada Jumat (27/2/2026) sore menunjukkan akses jalan di Dusun III masih dipenuhi lumpur tebal. Tanah basah menempel di kaki warga setiap kali mereka keluar rumah. Anak-anak terpaksa melewati genangan lumpur berwarna cokelat saat berangkat dan pulang sekolah.
Salah seorang warga, Nurtemani Zega, mengungkapkan bahwa janji penyediaan jaringan air bersih telah disampaikan Pemerintah Desa Aekhorsik jauh sebelum banjir terjadi. Namun hingga kini, realisasinya belum terlihat.
“Jauh sebelum bencana, kami sudah lama dijanjikan akan diberikan fasilitas air bersih oleh Kepala Desa. Tapi itu hanya sebatas ucapan. Sampai sekarang tidak ada realisasinya,” ujar Nurtemani kepada kru Metro-Online.co.
Selama ini, warga terpaksa menumpang air minum dari tetangga yang memiliki sumur. Untuk mandi dan mencuci, mereka juga bergantung pada sumur warga lain. Pascabanjir, kondisi semakin sulit karena sejumlah sumur tertimbun tanah dan tidak lagi dapat digunakan.
“Untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan lainnya, kami harus keluar dusun menumpang ke tetangga yang memiliki sumur. Itu pun tidak selalu bisa. Kami benar-benar kesulitan,” tambahnya.
Nurtemani juga mengingat kunjungan Gubernur Sumatera Utara ke Dusun III saat banjir susulan terjadi. Dalam kunjungan tersebut, disampaikan bahwa rumah yang terendam air setinggi pinggang atau sekitar satu meter di dalam rumah, terlebih jika mengalami banjir susulan dengan ketinggian serupa, termasuk dalam kategori rusak berat.
Pendataan terhadap rumah warga telah dilakukan saat itu. Namun hingga lebih dari tiga bulan berlalu, warga mengaku belum menerima realisasi bantuan bagi rumah kategori rusak berat sebagaimana yang dijanjikan.
Selain persoalan air bersih dan bantuan rumah, warga menilai respons Pemerintah Desa Aekhorsik dalam pemulihan pascabanjir belum maksimal. Parit di tengah dusun yang kembali tertutup tanah belum dinormalisasi secara menyeluruh.
Warga juga mempertanyakan keberadaan alat berat yang disebut berada di sekitar rumah Kepala Desa Aekhorsik, Fidelis Tinambunan, namun belum dimanfaatkan untuk membuka saluran air yang tersumbat.
“Kami butuh tindakan nyata, bukan janji. Sudah tiga bulan lebih kami hidup seperti ini,” tegas Nurtemani.
Kondisi tersebut turut berdampak pada kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, dan lanjut usia. Warga menyebut sejumlah program bantuan tambahan gizi yang berjalan di desa lain jarang dirasakan di Desa Aekhorsik, terutama sejak bencana terjadi.
Warga Dusun III berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah turun langsung meninjau kondisi mereka dan mengambil langkah konkret.
“Kami sangat meminta perhatian Bapak Bupati dan Wakil Bupati. Kami hanya ingin air bersih tersedia dan lingkungan kami dinormalisasi,” ujar salah seorang ibu hamil.
Hingga berita ini diturunkan, warga Dusun III Desa Aekhorsik masih menunggu langkah nyata dari Pemerintah Desa Aekhorsik yang dipimpin Fidelis Tinambunan maupun Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terkait normalisasi lingkungan serta realisasi bantuan rumah kategori rusak berat.
Kru Metro-Online.co telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Aekhorsik, Fidelis Tinambunan, melalui pesan WhatsApp. Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.(YS/js)

