
SPBU 14.213.228 Simpang Kopi, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara. (foto: dok_/mol)
BATUBARA | Manajemen SPBU 14.213.228 Simpang Kopi, Kecamatan
Sei Suka, Kabupaten Batubara, Senin (8/12/2025) memberikan klarifikasi resmi
menyikapi sorotan tajam dari konsumen dan pemberitaan di media sosial oleh akun
Facebook @Fitri Sinaga terkait dugaan penyimpangan distribusi Bahan Bakar
Minyak (BBM) yang berlangsung pada Kamis (4/12/2025) lalu.
Pihak manajemen membantah keras tuduhan yang menyebutkan
telah terjadi penyalahgunaan BBM subsidi (Pertalite/Solar) dan adanya pelayanan
kepada mafia BBM.
Juru bicara SPBU Simpang Kopi, Ramadhani, menjelaskan insiden
petugas yang membawa jeriken berisi BBM, yang terekam kamera dan memicu amarah
warganet, adalah sebuah kesalahpahaman.
"Kami
mengakui ada petugas kami yang terlihat membawa jeriken saat antrean sempat
dibubarkan. Namun, kami tegaskan, BBM yang dibawa dalam jeriken tersebut adalah
Pertamax, yang merupakan jenis BBM non-subsidi," jelas Ramadhani dalam
keterangan, Senin (8/12/2025).
Ramadhani
melanjutkan, pembelian Pertamax menggunakan jeriken memang diperbolehkan oleh
aturan Pertamina asalkan memenuhi standar keamanan. Petugas yang terekam kamera
tersebut merupakan pegawai muda lulusan baru yang masih minim pengalaman dalam
berinteraksi dengan konsumen di tengah situasi tekanan tinggi. "BBM
Pertamax tersebut adalah pesanan dari salah seorang tetangga dekatnya yang
tidak dapat hadir langsung ke SPBU," tegasnya.
Terkait
penghentian layanan secara tiba-tiba pada pukul 22.00 WIB, manajemen
menjelaskan, hal tersebut disebabkan oleh tingginya volume pengisian BBM oleh
masyarakat yang mengakibatkan kelelahan fisik pada petugas.
"Faktor
ramainya masyarakat yang mengisi BBM telah mengakibatkan keletihan pada petugas
kami sehingga mereka perlu beristirahat sesuai dengan jam kerja yang
ditetapkan," ujar Ramadhani.
Manajemen
menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan buruknya
komunikasi dari petugas yang muda. "Kami mohon maaf jika komunikasi dari
petugas kami kurang baik, sehingga menimbulkan kesan bahwa kami sengaja
menghentikan layanan. Kami tegaskan, tidak ada niat untuk menimbun atau
mengalihkan Pertalite atau Solar bersubsidi," tambahnya.
Ramadhani
menambahkan, meskipun saat ini terjadi kekosongan BBM jenis tertentu akibat
tingginya permintaan atau gangguan distribusi regional, suasana di lingkungan
SPBU tetap kondusif. Pihak SPBU telah menyampaikan kondisi ketersediaan BBM
secara transparan kepada konsumen.
Ramadhani juga
menjelaskan mengenai prosedur teknis operasional SPBU. "Kami juga perlu
mengedukasi masyarakat bahwa setiap tangki penyimpanan di SPBU memang harus
disisakan bottom stock, yaitu sisa BBM minimum di dasar tangki. Hal ini wajib
dilakukan untuk menjaga kualitas dan kondisi tangki penyimpanan agar tidak cepat
rusak atau tercampur endapan lumpur," pungkasnya.
Manajemen SPBU
Simpang Kopi menyatakan komitmennya untuk segera mengevaluasi dan memberikan
pelatihan soft skill kepada seluruh petugas lapangan, terutama dalam hal
komunikasi dan peningkatan pelayanan prima.
Pihak SPBU juga
siap bekerja sama secara transparan dengan Pertamina Patra Niaga Regional
Sumbagut dan aparat kepolisian setempat untuk mengklarifikasi insiden ini dan
membuktikan, tidak terjadi penyimpangan distribusi BBM bersubsidi. (Ds/js)
