![]() |
| Mak Juanda dan Mak Restu. Mertua dan menantu ini mengambil resiko bahaya disambar kendaraan yang melintas demi mencuci pakaian anggota keluarganya.(Foto:Yasmend/mol) |
TAPTENG | Aksi Mak Juanda mencuri perhatian para pengendara yang melintas di ruas jalan lintas Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, Minggu (28/12/2025) pagi. Aktifitas ibu rumah tangga ini menjadi potret betapa bencana Tapteng masih menyisakan banyak persoalan.
Air yang
selayaknya cuma bisa untuk mengairi kolam ikan dan persawahan, terpaksa dimanfaatkan
warga setempat untuk mandi dan mencuci, serta keperluan lainnya. Sebab
infrastruktur yang selama ini mengaliri air, sudah sumbat. ”Cuma di sini ada air.
Selama ini gak ada air. Ini air parit,” ucap Mak Restu, menantu Mak Juanda yang
turut membantu mertuanya mencuci pakaian di tepi badan jalan lintas itu.
Aksi kedua ibu
rumah tangga ini cukup berbahaya. Sebab kendaraan di ruas jalan itu terbilang
padat berlalulalang. Jaraknya pun hanya berkisar 20 sampai 40 centimeter dari posisi
Mak Juanda dan Mak Restu duduk bersila. Bukan cuma sepedamotor dan mobil
pribadi, tetapi truk serta bus pengangkutan umum juga hilir mudik dengan kecepatan
yang lumayan tinggi.
Cipratan air dari
gilasan roda kendaraan-kendaraan yang melintas tidak lagi dihiraukan mereka. Bagi
kedua ibu ini yang penting ada pakaian yang bisa digunakan oleh anggota
keluarganya.
Mak Juanda yang
disambangi kru Metro Online yang bertepatan sedang melintas di lokasi mengatakan,
mereka menyuci di ruas jalan karena tidak ada air bersih di wilayahnya akibat
bencana pada Selasa, 25 November 2025 lalu.
"Kami tidak
ada air bersih lagi, semua tersumbat karena bencana kemarin. Kami terpaksa
menyuci dan juga mandi di ruas jalan ini di tengah-tengah lalu lalangnya
kendaraan," ujarnya.
Mak Juanda
menambahkan, dia dan keluarganya sudah kehilangan harta benda akibat bencana
alam itu. Sekarang mereka bertahan hidup dari apa yang tersisa. Termasuk
pakaian yang sudah berlumpur.
”Ya mau bagaimana
lagi, bang. Kami mengalami hal yang sangat luar biasa. Tapi mau tak mau, mau
gimana lagi? Kayak beginilah kondisinya. Lagi menyuci, ada mobil melaju
kencang, air jadi tersiram ke kami. Ya harus sabar dan tabah lah. Kami berharap
pemerintah dapat memperhatikan situasi kami dan memberikan solusi yang
tepat," katanya penuh harap.
Apa yang
disampaikan Mak Juanda dan Mak Restu menjadi harapan bersama warga Lingkungan I
Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapteng. Asa mereka, pemerintah dapat
segera mengambil tindakan untuk memperbaiki infrastruktur terlebih sumber air
bersih di wilayah mereka. "Semoga pemerintah dapat memperhatikan situasi
warga Kelurahan Lopian ini dan memberikan bantuan yang dibutuhkan," harap
Mak Juanda.
Kepling I, Ali Mendrofa yang dihubungi secara terpisah oleh kru media ini mengatakan, kedua warga tersebut bukan warganya. Namun karena kesulitan air, masyarakat dari lingkungan lain pun jadi sering datang memanfaatkan air parit yang menggenangi dan mengalir di tepi jalan lintas desa tersebut.
Kata Ali
Mendrofa, keseluruhan warga Kelurahan Lopian menjadi korban banjir bandang yang
meluluhlantakkan perkampungan mereka dan sempat terisolir. Lumpur menyapu semua
infrastruktur, termasuk tali air dan jalan.
Dikisahkannya,
ketika terjadi bencana itu, tiba-tiba saja air bercampur lumpur dan gelondongan-gelondongan
kayu memporak-porandakan perkampungan mereka. Alhasil rumah-rumah yang ada di
Kelurahan Lopian terimbun lumpur rata-rata setinggi 50 centimeter. Sekolah dan
masjid, serta rumah ibadah lainnya juga turut hancur.
”Saat ini memang sedang
proses pemulihan bersama pihak Polri. Bersama dengan warga dan para relawan,
kita sedang berupaya untuk memulihkan kondisi sekolah dan rumah-rumah ibadah,”
terang Ali Mendrofa.
Hanya saja karena
keterbatasan peralatan dan tenaga yang ada, tali air belum sempat diperbaiki. Parit-parit
yang selama ini dialiri air, seluruhnya tersumbat lumpur padat. “Warga masih
membersihkan lumpur dari rumahnya masing-masing,” akhir Ali Mendrofa.(YS/js)

