![]() |
| Kondisi pantai Bagan Kuala, Jumat, (24/10/2025).(mol/halasan r). |
Akibatnya, puluhan warga harus mengungsi ke masjid dan rumah pintar desa, yang berada di lokasi lebih tinggi untuk menghindari ancaman gelombang pasang susulan. Selain merusak permukiman, ombak juga menenggelamkan tiga sampan gurita nelayan di sekitar pintu muara.
Kepala Desa Bagan Kuala Safril Jumat, (24/10/2025), ke metro-online.co di pantai Bagan Kuala menyampaikan menindaklanjuti peristiwa bencana ini Pemerintah Desa Bagan Kuala bersama warga segera melakukan evakuasi dan memberikan bantuan darurat kepada nelayan yang menjadi korban.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, semua nelayan selamat. Tapi perahu mereka masih tertinggal di laut. Setelah ombak tenang, baru bisa kita evakuasi,” kata Safril.
Lanjutnya, fenomena gelombang tinggi dan abrasi di kawasan pesisir Bagan Kuala kini terjadi hampir setiap tahun, tidak lagi bersifat musiman seperti dulu. Dalam lima tahun terakhir, abrasi pantai terus menggerus daratan hingga 20–30 meter per tahun, sehingga jarak antara laut dan rumah warga semakin dekat.
“Dahulunya rumah warga masih berjarak sekitar 150 meter dari bibir pantai, sekarang tinggal 10 meter saja. Setiap tahun garis pantai terus berkurang,” ungkapnya.
Ia menegaskan kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan karena berpotensi mengancam keselamatan warga pesisir. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Bagan Kuala berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat segera membantu pembangunan pemecah ombak untuk mengurangi dampak abrasi dan terjangan ombak.
“Pemerintah Desa Bagan Kuala sudah sampaikan proposal ke KKP melalui Dinas Perikanan Kabupaten Serdangbedagai. Dengan harapan, pembangunan pemecah ombak bisa segera direalisasikan agar warga tidak terus hidup dalam ketakutan,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah desa bersama Pemerintah Kabupaten Serdangbedagai telah melakukan musyawarah rencana relokasi rumah warga yang berada paling dekat dengan garis pantai. Langkah ini diambil untuk mencegah risiko bencana yang lebih besar di masa depan.
Kemudian Safril juga mengimbau para nelayan didesanya agar untuk sementara waktu tidak melaut dan tidak bermukim di rumah sampai kondisi cuaca benar-benar aman.
“Kami imbau warga jangan dulu melaut dan tidak tinggal di rumah dulu sampai situasi stabil,” tegasnya.
Pemerintah Desa Bagan Kuala, (Sebut Safril), bersama pihak kecamatan dan aparat terkait terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi warga terdampak. Bantuan logistik darurat telah disalurkan, meski Dinas Sosial Kabupaten Serdangbedagai belum meninjau langsung ke lokasi bencana.(HR/HR).

