Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Jelang Lebaran, Perajin Kudapan Pariasikan Produk

Tim Redaksi: Rabu, 31 Mei 2017 | 22:57 WIB


Tidak selamanya momen menjelang lebaran menjadi masa yang menguntungkan bagi pengusaha dan perajin kudapan untuk meningkatkan omset penjualannya.

Pasalnya, tingkat konsumsi kudapan tradisional semisal keripik, kerupuk, kacang goreng, dan produk jajanan lain, kerap menurun, menyusul peningkatan permintaan terhadap sejumlah produk kue kering.

Tidak jarang, untuk menutupi ongkos produksi yang tinggi, beberapa pengusaha dan perajin kudapan dituntut untuk kreatif, terutama dalam mempariasikan produk kudapan buatannya.

Hal ini pula yang dilakukan Ijah, salah seorang perajin kudapan skala rumah tangga, di Jalan Kolonel (Laut) Yos Sudarso, Lingkungan IX, Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, Kota Binjai.

Demi menutupi besarnya ongkos produksi dan gaji karyawan, perempuan 45 tahun tersebut harus menambah jenis cemilan produksinya, terutama dengan menghasilkan beberapa produk kue kering khas Lebaran.

"Biasanya kita produksi keripik, popcorn, kacang garing, kerupuk, dan alen-alen, dengan omset mencapai Rp 20 hingga 25 juta per hari. Namun saat ini permintaan justru turun, bahkan hampir setengahnya," ujar Ijah, Rabu (31/05/17) siang.

Atas dasar itu, nenek tiga cucu tersebut bernisiatif menambah jenis kudapan produksinya, terutama dengan menghasilkan beberapa jenis kue kering panggang khas Lebaran.

"Kalau tidak dibuat seperti itu, darimana kita bisa menutupi ongkos produksi. Sementara karyawan kita pun butuh digaji dan harus diberikan THR (tunjangan hari raya_red)," pungkasnya.

Menurut Ijah, penambahan pariasi produk kudapan, khususnya dehan membuat beberapa jenis kue kering merupakan hal yang biasa dia dilakukan menjelang puncak hari besar, semisal Idul Fitri, Imlek, dan Tahun Baru.

Hanya saja menurutnya, produksi kue kering tidak sebanyak produksi kudapan tradisional. Hal wajar, jika produk tersebut dijual terbatas, terutama dalam memenuhi permintaan konsumen di dalam kota.

"Kalau untuk kue kering, produksinya memang tidak banyak. Hanya sekitar 30 hingga 40 kg per hari. Itu pun hanya dipasarkan di Kota Binjai. Meski begitu, ini efektif untuk menutupi ongkos produksi yang tinggi," tukasnya.

Di sisi lain menurut Ijah, nastar nanas merupakan produk yang paling diminati konsumen. Tidak mengherankan, jika dia telah memproduksi kudapan tersebut sejak awal Ramadan.

"Kalau harga, ya jelas beda. Kalau untuk keripik, kerupuk, kacang garing, popcorn, dan alen-alen, harganya elatif lebih murah, antara Rp 20 hingga 30 ribu per kilogram. Sedangkan kue kering, berkisar Rp 65 hingga 80 ribu per kilogram," ungkapnya.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait