-->

Duka di Sialogo Lumut, Pelajar 14 Tahun Tewas Saat Nyebrang Sungai, Warga Berharap Pemkab Tapteng Bangun Jembatan

Sebarkan:

Momen Andrianus Halawa beri penjelasan kejadian yang dialami anaknya. (mol/yas).

TAPTENG | Duka mendalam menyelimuti Dusun IV, Desa Sialogo, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah. Seorang pelajar perempuan berusia 14 tahun harus meregang nyawa setelah terseret arus banjir sungai saat berusaha menyeberang menuju kebun.

Korban diketahui bernama Mega Wangi Halawa, 14, pelajar SMP, warga Dusun IV, Desa Sialogo, Kecamatan Lumut. Ia merupakan putri tercinta dari pasangan Andrianus Halawa (Ayah) dan Delima Zebua (Ibu).

Janji Berujung Petaka

Ayah almarhumah, Andrianus Halawa, dengan suara terbata menceritakan detik-detik terakhir kepada Kru Metro-Online.co, Jumat (23/10/2026).

Peristiwa tragis itu terjadi pada Selasa, 20 Oktober 2026. Pagi itu, Andrianus dan istri berangkat ke kebun, sementara Mega masih belajar daring di rumah.

"Saya bilang sama anak saya, Nak, nanti kalau sudah siap belajar daringnya, susul Bapak ya. Dia jawab iya Pak," kenang Andrianus.

Kondisi sungai di Dusun IV, Desa Sialogo, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah. 

Sekira pukul 11.30 WIB, Mega pun menyusul orang tuanya. Tanpa disadari, cuaca di kebun tiba-tiba memburuk, hujan deras dan mendung hitam.

Andrianus dan istri pun memutuskan pulang lebih awal karena khawatir anaknya menyusul. Saat pulang, mereka memaksakan diri menyeberangi sungai yang airnya sudah lumayan besar.

Setibanya di rumah, firasat buruk itu menjadi kenyataan.

"Saya tanya sama adiknya, kakakmu dimana? Adiknya jawab, kakak tadi sudah menyusul Bapak. Hati kami langsung gelisah karena di jalan kami tidak berjumpa sama sekali," tuturnya lirih.

Andrianus pun berbalik arah mencari. Namun sungai penyeberangan satu-satunya itu sudah berubah menjadi arus deras dan keruh.

Sekira pukul 15.00 WIB, setelah melapor, Pemerintah Desa Sialogo bersama warga turun membantu pencarian. Beberapa menit menyisir aliran sungai, mereka menemukan sepasang sepatu milik almarhumah di tepi sungai. Tangis keluarga pun pecah.

Pencarian terus dilakukan hingga pukul 18.00 WIB dan karena hari gelap serta arus berbahaya, pencarian dihentikan sementara untuk dilanjutkan keesokan harinya.

Ditemukan Tak Bernyawa

Pada Rabu, 21 Oktober 2026, sekira pukul 09.00 WIB, setelah beberapa jam penyisiran lanjutan di aliran Sungai sepanjang Dusun IV, tubuh mungil Mega akhirnya ditemukan mengapung di permukaan air dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Warga bersama Pemerintah Desa kemudian mengevakuasi jenazah dan membawa pulang ke rumah duka. Tak lama kemudian, BPBD Tapanuli Tengah, Babinsa, Bhabinkamtibmas Polsek Sibabangun dan pihak terkait tiba di lokasi.

Jenazah almarhumah dimakamkan pada Kamis, 22 Oktober 2026, dengan penuh kesedihan mendalam dan diiringi isak tangis keluarga dan warga Dusun IV.

Di tengah duka, Andrianus menyampaikan terima kasih kepada semua pihak.

"Kami keluarga berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada warga, tetangga, dan Pemerintah Desa Sialogo yang telah turut membantu sehingga jenazah anak kami ditemukan. Tuhan yang membalas kebaikan Bapak Ibu semua," ujar Andrianus.

Bukan Pertama Kali

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Sialogo Yareti Waruwu memaparkan insiden di Sungai Aek Kola bukan pertama kali terjadi.

"Ini bukan hanya sekali ini kejadian. Sebelumnya tahun 2020 pernah ada korban anak dan ayahnya hanyut di sungai yang sama," ungkap Kades dengan nada prihatin.

Menurut Kades, sebelumnya warga memiliki jembatan swadaya untuk menyeberang. Namun jembatan tersebut sudah hancur diterjang banjir tahun lalu, sehingga warga terpaksa harus menyeberang langsung melintasi aliran sungai.

Warga Cemas 

Saat Kru Metro-Online.co melakukan pengecekan langsung ke Sungai penyebrangan atau posisi kejadia, tepat pada saat itu beberapa warga terlihat sedang menyeberang dengan penuh kehati-hatian sambil memundak hasil kebun.

Sesapainya di tepi Kru Metro-Online.co konfirmasi, warga tersebut menyampaikan keluhan dan kegelisahannya.

"Kami mohon perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, Dinas PUPR Daerah maupun Pusat. Kami terkadang gelisah setiap melewati sungai ini, apalagi mengingat kejadian beberapa hari lalu yang menimpa anak gadis kami," ujar salah seorang warga dengan wajah cemas.

"Kalau ada jembatan, mungkin kami masyarakat yang lalu lalang melewati sungai ini tidak terlalu menuai kekhawatiran. Kami tidak minta yang mewah, yang penting aman dan layak untuk kami lewati setiap hari," tambahnya.

Keluhan tersebut menggambarkan betapa rentannya keselamatan warga Dusun IV yang setiap hari harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk pergi dan pulang dari kebun, satu-satunya sumber penghidupan mereka.

Bangun Jembatan

Dengan berlinang air mata, Andrianus memohon perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.

"Kami mohon simpatisan pemerintah khususnya Dinas Sosial, karena ini nuansa bencana. Dan bila jembatan bisa terbangun, hal ini mungkin tidak terjadi," pintanya.

"Kami meminta perhatian serius pemerintah atas pembangunan jembatan di penyeberangan ini. Jangan sampai terjadi lagi korban, karena setiap hari kami pulang pergi terus menyeberangi sungai ini semenjak jembatan swadaya kami dulu hancur diterjang banjir. Ini akses satu-satunya kami," pungkasnya penuh harap.

Tragedi Mega Wangi Halawa menjadi alarm keras bagi Pemkab Tapanuli Tengah, BPBD, Dinas PUPR dan Dinas Sosial untuk segera membangun jembatan yang layak dan permanen di Dusun IV Desa Sialogo, agar Sungai Akses jalan satu-satu warga Dusun IV ini tidak kembali memakan korban jiwa.(YAS/REM)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini