
Kapal tengker KM Global 168, pengangkut tiga ton narkoba jenis sabu-sabu tiba di dermaga Bandar Deli, Pelabuhan Belawan. (mol/dok).
MEDAN | Penyelundupan terbesar tahun ini berhasil digagalkan. Tim gabungan BNN, Bea Cukai (BC) dan Polri menyita tiga ton narkoba jenis sabu-sabu dari kapal tanker KM Global 168 di perairan panas Selat Malaka, Rabu (21/10/2026).
Jika lolos, sabu seberat 3.000 kilogram itu cukup untuk merusak dan membunuh masa depan lebih dari 12 JUTA warga Sumatera Utara jika satu gram sabu bisa merusak empat orang .
Bersamaan dengan penyitaan barang haram tersebut, petugas juga langsung menahan sekitar 40 kru kapal berbendera asing yang diduga kuat sebagai kurir jaringan internasional.
Puluhan pejabat tinggi BNN, Bea Cukai dan Polri yang hadir menyambut kedatangan kapal sitaan di dermaga terlihat bungkam seribu bahasa. Tidak ada satu pun yang bersedia memberikan keterangan resmi di lokasi.
Seorang pejabat Polri hanya memberikan jawaban singkat:
"Konferensi pers akan diadakan hari Jumat di Mapolda Sumut," katanya.
Sikap bungkam ini justru menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat. Selat Malaka memang sudah lama dikenal sebagai jalur emas penyelundupan sabu dari Segitiga Emas (Myanmar, Laos, Thailand) masuk ke Indonesia via Aceh dan Sumut.
Publik Sumut kini menunggu dengan was-was siapa pemilik sebenarnya KM Global 168 dan apakah ini jaringan internasional yang selama ini menguasai peredaran di Medan, Deli Serdang, Langkat.
Penangkapan ini menjadi bukti bahwa Sumut masih menjadi target utama bandar narkoba internasional untuk merusak generasi muda. Aparat diminta tidak hanya memamerkan barang bukti, tapi bongkar sampai ke aktor intelektualnya dan jangan berhenti di kru kapal saja. (RE Maha/REM).
