
Masyarakat bergotong royong mengangkat sepeda motor untuk melintasi banjir yang melanda kawasan Lumut setinggi 30-40 Cm. (mol/Yas).
TAPANULI TENGAH | Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sabtu sore (26/09/2026).
Akibatnya, parit di kawasan Jembatan Lumut meluap dan menggenangi badan jalan lintas.
Pantauan di lapangan, luapan air berwarna kekuningan dengan ketinggian sekitar 30-40 sentimeter menutupi permukaan aspal di Kelurahan Lumut, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Situasi tersebut sempat viral setelah diunggah warga di media sosial Facebook dan WhatsApp Group (WAG) warga Lingkungan VI Gunung Payung oleh Sitefanus Halawa.
Saat dikonfirmasi Metro-Online.co, Sitefanus membenarkan genangan tersebut sempat menghambat arus lalu lintas.
"Air sudah naik menutupi aspal. Kendaraan masih bisa lewat, tapi harus ekstra hati-hati dan saling bantu dorong. Yang boncengan harus turun jalan kaki dulu," ujar Sitefanus.
Menurutnya, parit di sekitar Jembatan Lumut tidak mampu menampung debit air yang sangat besar akibat hujan deras yang mengguyur selama berjam-jam.
"Ini jarang sekali terjadi di sini. Ini menjadi tanda curah hujan hari ini memang sangat deras," katanya.
Akses Vital yang Terancam Amblas
Jalan lintas yang tergenang tersebut merupakan akses vital dan satu-satunya bagi masyarakat Kelurahan Lumut yang mencakup lima lingkungan dan dua desa di sekitarnya.
Warga semakin cemas, pasalnya ruas jalan tersebut sebelumnya sempat amblas dan longsor akibat bencana alam tahun lalu. Hingga kini belum ada perbaikan permanen dari pemerintah. Selama ini warga hanya bergotong royong melakukan penanganan darurat secara swadaya.
Struktur bawah jalan yang terus terkikis air hujan dikhawatirkan memicu longsor susulan yang lebih parah, terutama saat cuaca ekstrem.
"Kami sangat berharap pihak terkait dapat meninjau langsung situasi jalan di Kelurahan Lumut ini, khususnya di Lingkungan VI Gunung Payung. Masyarakat sangat khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, terlebih saat cuaca ekstrem seperti hari ini," pungkas Sitefanus. (YAS/REM).
