![]() |
| Ketua PC Himpunan Mahasiswa Al-Washliyah (HIMMAH) Kota Tebingtinggi terpilih periode 2026-2028, Irgi Ahmad Fahrezi. (Mol/Ist) |
Irgi menilai proses tersebut cacat administrasi dan tidak sesuai dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta Peraturan Organisasi (PO) HIMMAH.
Kekecewaan itu beralasan. Pada 30 Desember 2025, Konfercab ke-V sebelumnya telah berlangsung sah dan dihadiri langsung oleh Wakil PP HIMMAH Awalludin Nasution, Sekretaris PW HIMMAH Sumut Muhammad Kurniawan, serta Sekretaris PD Al-Washliyah Kota Tebingtinggi Wan Hamdani.
Dalam forum itu, Irgi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PC HIMMAH Kota Tebingtinggi periode 2026-2028.
Namun hingga hari ini, Irgi menyatakan dirinya belum menerima surat pemberhentian sebagai ketua maupun keputusan karateker PC HIMMAH Kota Tebingtinggi. Namun Konfercab ke-V kembali digelar pada 25 Mei 2026.
"Apakah ini organisasi HIMMAH? Saya menilai ini cacat administrasi, AD/ART, dan PO HIMMAH," ujar Irgi dalam keterangannya.
Dia juga menyoroti status calon ketua yang terpilih dalam Konfercab terbaru. Menurutnya, yang bersangkutan tidak berstatus sebagai mahasiswa, belum mengikuti Latihan Kader Menengah (LKM), dan saat ini menjabat sebagai Bendahara PD Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) Kota Tebingtinggi.
"Hal ini bertentangan dengan PO HIMMAH BAB VII tentang Tata Cara Pemilihan Ketua, Pasal 13 Ayat 2 Poin C dan D yang mengatur persyaratan calon Ketua Cabang," jelasnya dengan tegas.
Bagi Irgi, kondisi ini mencerminkan organisasi yang tidak berjalan sehat dan tidak menjunjung nilai demokrasi.
Pengabaian terhadap AD/ART dan PO membuka ruang bagi kepentingan pribadi dan kelompok untuk masuk ke ranah pengambilan keputusan, sehingga melemahkan legitimasi organisasi.
Sebagai kader, Irgi menyayangkan situasi ini karena dinilai mencederai moral dan marwah HIMMAH sebagai organisasi kader.
Dinamika yang terjadi, termasuk persoalan Muswil sebelumnya yang berkepanjangan, menurut Irgi, menjadi bukti bahwa kedewasaan berorganisasi masih perlu diperkuat.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan dan para senior HIMMAH Kota Tebingtinggi. Saya minta persoalan ini diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang sah agar marwah HIMMAH tetap terjaga. Saya juga berharap pimpinan pusat dan pimpinan wilayah dapat bersikap lebih dewasa, tidak mudah terbawa emosi, dan konsisten menjaga AD/ART serta PO HIMMAH agar tidak ada lagi kader yang dikorbankan karena kepentingan," ujarnya.
Irgi menegaskan bahwa konsistensi terhadap konstitusi organisasi adalah harga mati bagi keberlangsungan HIMMAH sebagai wadah kaderisasi.
Ketika mekanisme dilanggar atas nama kepentingan sesaat, yang dikorbankan bukan hanya individu, melainkan kepercayaan anggota dan kredibilitas organisasi di hadapan publik.
"HIMMAH lahir dari proses kaderisasi yang panjang dan nilai-nilai perjuangan yang tidak boleh dinodai. Kita mendidik kader untuk patuh pada hukum dan demokrasi, sementara di internal kita sendiri mengabaikannya," tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Irgi mengajak seluruh kader HIMMAH Kota Tebingtinggi untuk tetap tenang, menjaga marwah organisasi, dan terus membesarkan HIMMAH di daerah.
"Saya berharap pimpinan di semua tingkat menjadikan peristiwa ini sebagai momentum koreksi bersama, bukan sebagai ajang pembenaran kekuasaan. Ini bukan persoalan siapa yang menjadi ketua. Ini persoalan marwah dan nama baik organisasi akademis di Al-Washliyah," tutupnya. (Sdy/Sdy)

