LANGKAT | Pipa distribusi gas mengalami kebocoran diduga karena kelalaian pihak Manajemen PT Pertamina EP Pangkalan Susu Field. Hal ini menjadi pertanyaan bagi warga khususnya di "kota minyak" Pangkalan Susu, Senin (27/4)2026).
Kebocoran bisa sampai terjadi, itu diduga akibat material line pipa sudah termakan usia atau korosif. Saluran pipa gas itu disebut-sebut telah berusia puluhan tahun sejak beroperasi tahun 1985 lalu.
Jadi wajar kalau pipa gas tersebut termakan usia atau korosif hingga kemudian line pipa gas berukuran 8 inci itu mengalami kerusakan alias bocor, ujar LSM Reclassering Kab Langkat bidang investigasi, Eri Alfianto kepada Metro Online, Senin (27/4/2026).
Namun demikian, kata dia, jika Manajemen Pertamina EP Pangkalan Susu Field rutin melakukan pangawasan dan perawatan, maka diharapkan pipa penyalur gas tidak sampai bocor seperti diketahui beberapa hari lalu," ujarnya.
Akibat kebocoran pipa penyalur, lanjutnya, bukan tidak mungkin perusahaan BUMN itu mengalami kerugian yang cukup besar, belum lagi dampaknya berpotensi mengganggu kehidupan biota laut seperti ikan, kepiting, udang dan lainnya, juga potensi pencemaran.
Syukurlah tidak sampai terjadi kebakaran, gas yang menyelimuti permukaan air laut, bukan berarti tidak bisa menimbulkan api, apalagi kawasan pipa gas bocor itu merupakan lintasan perahu nelayan tradisional.
"Kalau ada nelayan menyalakan mancis untuk merokok, bukan tidak mungkin akan menimbulkan api di atas permukaan air, karena gas memiliki massa yang jauh lebih ringan daripada air. Oleh karena itu gas akan selalu mengapung atau berada di permukaan air," sambungnya.
Terlihat kapal LPG sedang bongkar gas untuk didistribusikan ke Depot LPG Pangkalan Susu, tepatnya di sekitar lokasi pipa gas yang bocor milik Pertamina EP Pangkalan Susu Field.
Untuk mengetahui secara pasti kenapa pipa gas tersebut bocor hingga menyelimuti permukaan air laut, dia mendesak tim investigasi dari Pertamina Pusat melakukan pantauan langsung dan penyelidikan lapangan sehingga penyebab kebocoran menjadi terang benderang, terang Eri.
Kalau kebocoran pipa terbukti akibat kelalayan, maka diharapkan pihak berwenang melalukan tindakan tegas terhadap siapa yang dianggap bertanggungjawab atas kejadian bocornya pipa penyalur gas tersebut, pungkasnya.
Humas Pertamina EP Pangkalan Susu Field, Wahyu yang dikonfirmasi kru Metro Online melalui sambungan WhatsApp-nya, Senin (27/4/2026) membantah kebocoran pipa gas telah berbulan-bulan lamanya. " Informasi itu keliru, ujarnya.
Ditanya, sudah berapa lama pipa gas itu bocor, dia tidak menjawab, ditanya sejak tahun berapa pipa penyalur gas itu dioperasikan, itu juga tidak direspon bersangkutan.
Disinggung sejauh mana tindakan yang dilakukan guna menghentikan kebocoran gas, dia mengatakan, "untuk penanganan, saat ini sudah tidak ada kebocoran atau gas yang keluar pasca kami intervensi," ujarnya.
Sedangkan untuk perbaikan, kata dia, sat ini pihaknya masih terus melakukan perbaikan secara menyeluruh untuk memitigasi hal serupa agar tidak terjadi lagi.
Dalam kegiatan hulu migas, pihaknya selalu mengedepankan aspek safety dan environment. "Jika kami mengetahui pipa yang bocor maka kami langsung memperbaikinya tanpa menunggu waktu," katanya.
Jawaban Humas Pertamina EP Pangkalan Susu Field, Wahyu mengatakan, saat ini pihaknya masih terus melakukan perbaikan, berarti penanganan kebocoran pipa dapat diartikan hingga kini belum tuntas.(lesman simamora/mp)


