TAPTENG | Kondisi pengungsi di Hunian Sementara (Huntara) Kecamatan Pinangsori hingga saat ini masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar. Hal tersebut terungkap berdasarkan konfirmasi langsung kru Metro-Online.co di lokasi, Jumat (20/3/2026) bersama Kepala Dusun I Desa Panggarahonas, Arjun Zebua.
Berdasarkan hasil pendataan di lapangan, jumlah pengungsi yang masih bertahan di Huntara tercatat sebanyak 44 Kepala Keluarga (KK) dengan total 158 jiwa. Jumlah ini mengalami penurunan dari sebelumnya 46 KK, setelah dua keluarga memilih meninggalkan lokasi pengungsian. Dari total tersebut, sebanyak 9 KK merupakan warga Muslim.
Pengungsi mayoritas berasal dari Desa Panggarahonas, dengan tambahan 1 KK dari Desa Lubuk Ampolu. Sementara itu, informasi mengenai adanya pengungsi dari Desa Sibio-bio masih belum dapat dipastikan kebenarannya.
Sejak menempati Huntara (27/1/2026), para pengungsi masih bergantung pada bantuan logistik. Distribusi sembako dinilai cukup berjalan, namun ketersediaan lauk-pauk masih terbatas karena penyalurannya tidak rutin dan sebagian besar bergantung pada bantuan relawan.
Dari sisi kesehatan, pelayanan medis bagi pengungsi dinilai cukup memadai. Layanan tersebut merupakan dukungan langsung dari Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah serta UPTD Puskesmas Pinangsori.
Berdasarkan keterangan tenaga medis, termasuk dr. Joni, keluhan kesehatan yang paling dominan dialami pengungsi meliputi penyakit kulit, pusing, serta gangguan kesehatan ringan lainnya yang masih dapat ditangani di lokasi.
Namun demikian, sejumlah persoalan krusial masih belum terselesaikan. Hingga saat ini, bantuan dana Jaminan Hidup (Jadup) belum juga diterima oleh para pengungsi di Huntara Pinangsori. Kondisi ini menambah beban warga, terlebih di tengah keterbatasan ekonomi akibat hilangnya mata pencaharian.
Selain itu, ketersediaan air bersih juga menjadi kendala. Para pengungsi terpaksa menghemat penggunaan air karena pasokan yang terbatas.
Situasi semakin memprihatinkan seiring dengan mulai menipisnya persediaan kebutuhan pokok. Stok bahan makanan yang dimiliki warga semakin berkurang, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan pemenuhan kebutuhan dasar dalam waktu dekat.
Perwakilan warga, F. Sihombing, yang didampingi sejumlah ibu rumah tangga Muslim, menyampaikan langsung kondisi tersebut kepada kru MetroOnline.co.
“Kami merasa sangat kesulitan, apalagi menjelang Lebaran. Saat ini kami sudah tidak memiliki mata pencaharian. Bantuan berupa dana Jadup juga belum kami terima hingga sekarang. Memang sempat ada bantuan dari PMI, namun kami tidak tahu sampai kapan bantuan tersebut bisa bertahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi persediaan kebutuhan pokok yang semakin menipis membuat warga semakin cemas menghadapi hari-hari ke depan.
“Kami sangat berharap pemerintah bisa segera merespons kondisi kami saat ini. Persediaan kebutuhan pokok kami sudah mulai habis, dan kami khawatir untuk beberapa hari ke depan,” tambahnya.
Warga juga mengaku prihatin setelah mendengar informasi bahwa bantuan Jadup telah dicairkan di beberapa desa lain, sementara mereka belum menerimanya hingga kini.
“Kami sangat berharap perhatian dan kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah agar segera membantu kami,” ungkapnya.
Di sisi lain, belum tersedianya aktivitas atau kegiatan produktif di lokasi Huntara juga menjadi perhatian, karena berpotensi menimbulkan kejenuhan bagi para pengungsi selama masa tinggal.
Melalui kondisi ini, kru MetroOnline.co mencatat perlunya perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait, khususnya dalam percepatan pencairan bantuan dana hidup (Jadup), pemenuhan kebutuhan pokok, penyediaan air bersih, serta peningkatan kualitas layanan dan aktivitas bagi para pengungsi.(YAS/JS)

