Terlihat dinding rumah permanen berwarna hitam pekat kekuning-kuningan dampak dari noda air bercampur lumpur tebal pascabanjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto mol/Lesman Simamora)
ACEH TAMIANG | Memasuki hari ke-54 pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang, para korban banjir masih tinggal di tenda pengungsian. Mereka berupaya bekerja keras membersihkan rumah masing-masing dari timbunan lumpur tebal, Senin (18/1/2026).
Sebagian warga, usai kerja keras mereka membuang lumpur tebal dari lantai rumah dengan tenaga sendiri. Ada juga yang terpaksa mengeluarkan uang jasa pekerja relatif besar mencapai Rp 5 juta, bahkan ada lebih dari itu. Kini mereka pusing tujuh keliling untuk biaya sewa atau membeli mesin kompresor untuk membersihkan noda hitam pekat kekuning-kuningan menempel di dinding dan lantai rumah pasca banjir.
"Ditambah lagi pembelian material meteran dan pemasangan instalasi listrik baru dan upah tukang," ujar Pandu, 41, warga Kecamatan Karang Baru kepada Metro Online, Selasa (20/1/2026).
Beban berat warga korban banjir diperparah ekonomi yang semakin merosot, banyak pengangguran, pedagang belum bisa beraktivitas seperti biasa. Apalagi para petani sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa karena ladang dan sawah mereka masih tertimbun lumpur tebal.
"Bukan itu saja, beberapa daun pintu rumah yang rusak, bahkan ada yang hanyut entah kemana akibat diterjang banjir, itu juga harus diganti, banyak perabotan rumah yang tak bisa dipakai lagi," katanya.
Pengadaan barang-barang tersebut, lanjutnya, itu memakai uang cukup besar bagi warga yang ekonominya lemah, mungkin bagi orang berduit tidak seberapa nilainya.
Sementara korban banjir yang rumahnya mengalami rusak ringan, belum ada menerima bantuan dana perbaikan dari pemerintah pusat. "Sejauh ini, belum ada bantuan dana dari pemerintah pusat untuk perbaikan rumah rusak ringan," ucapnya dengan nada sedih.
Dikatakan, beberapa daun pintu rumah miliknya rusak, dan hanyut, plafon ambruk, tempat tidur, lemari, steling, tv, kulkas, mesin cuci, kipas angin, perabotan dapur, sopa, kompor gas, dua sepedamotor, satu mobil pick-up rusak, dan lainnya akibat terendam air bercampur lumpur tebal.
Untuk itu, dia berharap pemerintah pusat dapat memberi bantuan dana perbaikan rumah rusak ringan, termasuk pengadaan perabotan dapur, pemasangan listrik baru, dan lainnya untuk meringankan beban para korban banjir.
"Kami pun sudah jenuh tinggal di tenda pengungsian yang nyaris mencapai dua bulan lamanya, apalagi anak anak rentan berbagai penyakit akibat menghirup debu yang berterbangan di lokasi pengungsian," terangnya.(lesman/mp)

