
Helen saat menerima piagam penghargaan sebagai salah satu mahasiswa berprestasi. (email:ghinaraudhatul7@icloud.com/mol)
Publikasi karya ilmiah di jurnal
internasional bereputasi sering dianggap sebagai pencapaian besar di dunia
akademik. Namun, bagi Helen, alumni Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
(USU), hal itu bukan sekadar impian. Selama masa kuliahnya, Helen berhasil
menerbitkan empat artikel ilmiah di jurnal bereputasi Scopus, dengan fokus pada
penelitian bahan alam dan pengembangan obat herbal berbasis potensi lokal
Indonesia. Pencapaian ini menjadikannya salah satu mahasiswa yang mampu
berkontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sejak masih di
bangku kuliah.
Perjalanan Helen di dunia penelitian dimulai sejak pertengahan masa kuliahnya. Ia bukan berasal dari latar belakang riset yang kuat, tetapi rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mencoba. Saat itu, Helen mulai aktif mengikuti berbagai proyek penelitian yang diinisiasi oleh dosen di fakultasnya. Dari situlah, Helen terlibat dalam berbagai riset bersama tim akademik, hingga akhirnya beberapa di antaranya berhasil diterbitkan di jurnal internasional.
Helen tidak menjalani proses ini sendirian. Ia bekerja sama dengan dosen dan teman-teman peneliti lain dalam setiap proyeknya. Mereka saling berbagi peran, mulai dari pengumpulan data, penulisan naskah, hingga proses revisi. Baginya, kerja sama yang solid menjadi kunci utama dalam keberhasilan publikasi.
“Menurut saya, kuncinya itu relasi,” ujarnya.
“Jaga hubungan baik dengan dosen,
ikut aja penelitian-penelitian mereka, bantu nulis atau analisis data. Dari
situ kita bisa belajar banyak dan dapat pengalaman langsung,” katanya lagi.
Kutipan itu mencerminkan pandangan Helen bahwa dunia akademik tidak bisa dijalani sendiri. Ia percaya, membangun hubungan yang baik dengan dosen dan teman sejawat membuka banyak peluang. Dari hubungan profesional itulah muncul kepercayaan yang membuatnya sering dilibatkan dalam penelitian-penelitian besar.
Meski sibuk dengan penelitian, Helen tetap aktif mengikuti kegiatan kampus dan sosial. Ia percaya keseimbangan antara akademik dan aktivitas di luar kelas membuat hidup perkuliahan lebih bermakna. Bagi Helen, menulis jurnal bukan sekadar soal prestise, tetapi juga perjalanan untuk memahami nilai kerja keras, kesabaran, dan kolaborasi.
“Kalau mau maju, jangan takut duluan. Mulai aja dulu, ikut penelitian, dan manfaatkan setiap kesempatan,” tutupnya.
Kisah Helen menjadi bukti bahwa keberhasilan di dunia akademik tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemauan untuk membangun relasi, berkolaborasi, dan belajar dari proses panjang. Empat publikasi Scopus yang ia hasilkan bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan cerminan semangat seorang mahasiswa yang percaya bahwa ilmu pengetahuan akan terus tumbuh ketika dibagikan bersama.(penulis: Penulis: Ghina Raudhatul Jannah)
