-->

Korut Persiapkan Parade Militer Terbesar, Pamerkan Senjata Terbaru?

Sebarkan:
Parade militer Korut tahun 2018. (Getty Images)
PYONGYANG | Korea Utara mempersiapkan parade militer yang akan berlangsung 10 Oktober mendatang. Sejumlah kalangan memprediksi parade itu akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Korut.

Ribuan tentara Korut telah berlatih selama berbulan-bulan untuk memastikan setiap gerakan mereka dalam parade itu presisi.

Para personel militer itu juga ingin memastikan, setiap yel-yel yang mereka teriakkan akan didengar oleh pimpinan tertinggi Korut, Kim Jong-un.

Ajang parade militer sering kali menjadi pertunjukan formal kekuatan angkatan bersenjata.

Tujuannya, menunjukkan bagaimana warga negara yang setia menghormati pemimpin mereka dalam latihan "baris-berbaris seperti angsa".

Namun parade ini juga bisa menjadi upaya provokasi Korut. Ini merupakan kesempatan Korut memamerkan rudal dan persenjataan baru yang mereka miliki meski berada di bawah sanksi ekonomi yang ketat.

Korut itu belum pernah memperlihatkan rudal balistik dalam parade militer sejak Kim Jong-un bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam forum tingkat tinggi tahun 2018.

Pembicaraan keduanya di Vietnam, Februari lalu, berakhir tanpa kesepakatan. Di sisi lain, Korut terus menguji sejumlah rudal balistik jarak pendek baru.

Parade militer 10 Oktober nanti itu digelar untuk menandai 75 tahun berdirinya Partai Buruh Korut. Ajang itu hanya berselang beberapa minggu sebelum pemilihan presiden AS.

Jadi, apakah Korut akan memanfaatkan ajang itu untuk memamerkan dan membuktikan bahwa mereka masih memiliki senjata yang mampu menyerang AS?

Senjata baru akan dipamerkan

Parade ini pasti akan digelar secara besar-besaran, kata Lee Sang Yong, pemimpin redaksi Daily NK, situs berita yang berbasis di Korea Selatan.

Media ini membayar beberapa sumber informasi yang berbasis di Korut.

Lee berkata kepada saya bahwa awal Maret lalu, Korut memerintahkan militernya memobilisasi 32.000 tentara. Karena jumlah personel yang sangat besar, Korut pun harus memperluas tempat latihan tentara mereka.
Tentara Korut dalam parade militer 2018. (Getty Images)
"Bandara Mirim di Pyongyang sekarang memiliki dua landasan dan 10 bangunan baru," ujar Lee.

"Oleh karena itu, saya kira kemungkinan besar kita akan melihat Rudal Balistik Antarbenua [ICBM] atau Rudal Balistik Kapal Selam [SLBM] pada parade kali ini," tuturnya.

Selain itu, 600 mahasiswa dan peneliti dari Universitas Kim Il-sung juga akan ambil bagian. Ini bukan angka yang signifikan. Universitas ini adalah tempat Korut mengembangkan bakat baru untuk program pengembangan rudal.

Dengan melibatkan mereka ke parade atau memajangnya, North Korea mungkin mencoba memasang kebanggaan dan rasa hormat terhadap bakat pengembangan misil.

Jeongmin Kim, seorang pengamat yang bekerja untuk NK News, menyebut Korut tidak selalu menjadikan parade militer sebagai momen membuktikan suatu hal kepada dunia internasional.

"Kita harus ingat bahwa berkali-kali pemimpin Korut yang turun-temurun ini harus selalu membuktikan kepada masyarakat domestik tentang keabsahan memerintah negara," ujar Kim.

"Jadi ajang 10 Oktober nanti juga bertujuan untuk hal itu. Kim mencoba menunjukkan kepada penduduknya, dalam parade mempesona penuh slogan propaganda yang menggembirakan, bahwa Korut baik-baik saja, terlepas dari semua yang telah terjadi tahun ini."

"Tentu saja, ada preseden yang memungkinkan Kim Jong-un atau pejabat tinggi Korut lainnya berpidato dan mengeluarkan pesan untuk dunia luar, salah satunya tentang bagaimana mereka tidak lagi menunggu keringanan sanksi dan akan fokus pada kemandirian," kata Kim.

Terputus dari dunia luar lebih dari sebelumnya

Walau beberapa negara akan fokus mengawasi setiap rudal baru yang Korut pamerkan, ada pula kekhawatiran tentang kesejahteraan 25 juta rakyat Korut.

Tahun 2020 menjadi tahun yang buruk bagi sebagian besar negara di dunia. Namun untuk Korut, tahun 2020 berpotensi menghancurkan mereka.

"Saya mendengar ada lonjakan jumlah anak yatim piatu dan tunawisma jalanan di Korut tahun ini," kata Lee Sang Yong.

"Meski kami tidak bisa membayangkannya situasi itu terjadi Korea Selatan, ada orang di Korut yang sekarat dan kelaparan," ujarnya.

Korut menutup wilayah perbatasannya ke dunia luar sejak Januari lalu untuk mencegah penyebaran COVID-19 dari negara tetangga mereka, China.

Pihak berwenang di Korut dilaporkan mengeluarkan perintah 'tembak di tempat' di sepanjang perbatasan. Ada pula dugaan bahwa Korut membuat zona penyangga untuk menghentikan siapa pun yang memasuki negara itu.

Sumber-sumber diplomatik memberi tahu saya awal tahun ini bahwa persediaan alat pelindung diri dan persediaan medis penting lainnya, termasuk vaksin, menumpuk di perbatasan Korut dengan China. Tidak satupun logistik itu dapat masuk ke Korut.

Korut mengklaim tidak memiliki kasus positif COVID-19, tapi Kim Jong-un terus mengadakan pertemuan tingkat tinggi untuk memastikan pembatasan sosial yang ketat tetap berlaku.

Masyarakat Korut sekarang terputus dari dunia luar lebih dari sebelumnya. Bahkan pergerakan antarprovinsi pun dibatasi.

"Darat, laut, dan udara. Ini benar-benar mematikan arus orang maupun barang," kata Lee.

"Kecuali jika Anda adalah personel militer atau perwira tinggi, tidak ada yang bisa masuk Korut. Kebijakan karantina terhadap COVID-19 negara itu sangat ketat. Ekonomi Korut terhenti. Penyelundup dan pedagang kecil di perbatasan mempertanyakan mengapa rezim mempertaruhkan nasib ekonomi jika tidak ada COVID-19 di negara itu," ucap Lee.

Perdagangan Korut dengan sekutu utamanya, China, anjlok hampir 70% dalam delapan bulan pertama tahun 2020, dibandingkan dengan tahun lalu.

Korut juga dilanda cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir. Stasiun televisi milik pemerintah Korut sepanjang sore selalu menayangkan upaya 'heroik' untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan topan.

Kim Jong-un memerintahkan kampanye berskala nasional tentang upaya meningkatkan perekonomian yang lesu. Kampanye itu menggambarkannya sebagai 'pertempuran 80 hari'.

Kampanye itu, artinya, menuntut rakyat Korut bekerja lebih keras, jam kerja ekstra di ladang atau pabrik serta tugas tambahan di kota dan desa mereka.

Semakin keras perjuangan rakyat Korut, mereka akan terlihat semakin setia kepada para pemimpin lokal. Salah satu pesan yang sampaikan di televisi pemerintah Korut berisi tentang 'kemandirian'.

Di Korsel, petani di seluruh wilayah tengah sibuk memanen beras. Di sisi lain, sulit untuk mengetahui apakah kesibukan itu juga terjadi di Korut.

Sulit mendapatkan gambaran yang jelas tentang seberapa parah panen Korut terdampak bencana alam. Tapi dengan jumlah penduduk yang mencapai 11 juta orang, Korut dianggap mengalami kerawanan pangan.

Sejumlah kecil ladang yang dilanda hujan terus-menerus bahkan dapat menyebabkan ribuan orang kelaparan.

Kisah dua Korea

Saya melakukan perjalanan ke Zona Demiliterisasi dekat Geosong di pantai timur Korea.

Saya berkendara melewati pantai berpasir putih yang diapit kawat berduri tinggi. Langit biru cerah memberikan pemandangan pegunungan yang jernih di Korut.

Beberapa pos pemeriksaan terlihat di puncak gunung.

Dari sini, orang Korsel yang penasaran suka mengintip ke wilayah Korut. Ini adalah titik terdekat yang bisa mereka dapatkan.

Korut secara dramatis memutuskan semua jalur komunikasi dengan Korsel Juni lalu. Mereka juga meledakkan kantor penghubung antar-Korea.

Awal Oktober lalu, seorang warga Korsel, yang diduga berusaha membelot, ditembak dan tewas di perairan sebelah barat semenanjung Korea.

Jasad laki-laki itu lalu dibakar. Kejadian itu mengejutkan warga Korea Selatan.

Namun Korut masih memiliki sekutu. 

Beberapa masih menyimpan harapan agar Korut dan Korsel mengakhiri perang selama 70 tahun, bahkan setelah Donald Trump dan Kim Jong-un tidak sepakat tentang denuklirisasi.

Tiga tahun lalu, Korut dan Korsel berkompetisi bersama di Olimpiade Musim Dingin di provinsi Gangwon. Gubernur setempat yakin sudah waktunya kebersamaan itu diulang sebagai jalan menuju perdamaian.

Korut dan Korsel tampil bersama dalam Olimpiade Musim Dingin terakhir. (Getty Images)
"Upaya untuk mencapai kesepakatan besar tidak menghasilkan kesepakatan. Sudah saatnya kita kembali mengembangkan inisiatif non-politik dan mencapai kesepakatan kecil dalam pertukaran olahraga dan budaya," kata Choi Moon Soon.

"Sangat disayangkan bahwa kita dibiarkan dengan situasi ini, bahkan pertukaran kecil antara Korsel dan Korsel terputus dengan mengejar masalah politik besar dan mengungkap perbedaan dalam prosesnya."

Choi ingin menciptakan zona perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di perbatasan dua negara Korea ini.

Sanksi internasional berarti ini adalah mimpi yang tidak mungkin untuk saat ini. Sebaliknya Choi mengakui bahwa Korut mengawasi pemilihan presiden AS untuk mencari tahu langkah selanjutnya.

"Saya tidak yakin apakah saya akan melihat Korut dan Korsel bersatu dalam hidup saya, tapi saya memiliki dua anak perempuan dan saya ingin mereka tidak mewarisi situasi yang tidak menentu ini," katanya.

"Kami hidup dengan ancaman dan potensi konflik yang berkelanjutan. Kita tidak boleh mewariskan situasi ini ke generasi berikutnya," imbuhnya.

Situasi ini mungkin di luar kendali Choi dan jatuh ke tangan siapa pun yang memenangkan pilpres di AS.

Korut mencoba membaca situasi di dalam dan di luar negaranya. Belum jelas jalan mana yang akan mereka ambil.

Akankah situasi berbahaya saat ini pada akhirnya mendorong Kim Jong-un kembali ke meja perundingan? Atau akankah Kim melihat lebih jauh ke dalam dan tetap menutup perbatasan?

Pemimpin Korut ini tidak banyak mengeluarkan pernyataan tahun ini. Parade ini adalah kesempatan untuk menunjukkan agenda dan kekuatannya serta momentum mengembalikan citra negaranya ke mata publik. (Dtc)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini