LANGKAT | Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat yang hampir setiap tahun dilanda bencana banjir mengakibatkan sungai besar dan anak sungai mengalami pendangkalan.
Dampak dari pendangkalan sungai bersifat jangka panjang, dan menggangu aktivitas, bahkan berpotensi mengancam keselamatan jiwa manusia secara khusus bagi masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pendangkalan sungai yang berkepanjangan, juga akan menjadikan sejumlah desa akan menjadi langganan banjir, meski debit air yang turun dari hulu sungai turun relatif kecil, apalagi volume air yang cukup deras.
Banjir yang meluap dari hulu sungai bukan saja merendam lingkungan di desa, tapi juga jalan negara tapi juga menggenangi, sejumlah fasilitas umum seperti kantor kelurahan/desa, gedung sekolah, rumah ibadah, dan sarana prasarana lainnya.
Menurut pengamatan kru Metro Online di sejumlah titik pascabanjir yang terjadi baru baru ini maupun banjir bandang sebelumnya, itu telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup parah sehingga merugikan ratusan kepala keluarga yang terdampak.
Dampak banjir, bukan saja hanya merusak lingkungan sekitar, tapi juga menimbulkan kerugian ekonomi dan kerusakan harta benda, kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan dan lain sebagainya. Selain itu aktivitas warga juga lumpuh, serta genangan air kotor memicu penyebaran berbagai ragam penyakit.
Bukan itu saja, juga banjir berpotensi mengancam keselamatan jiwa manusia, kehilangan tempat tinggal, kerusakan lahan pertanian, dan masyarakat terpaksa menjalani kehidupan di tempat pengungsian.
Beberapa kali terjadi bencana banjir yang cukup parah di Kecamatan Besitang, dan telah membuat alur sungai mengalami pendangkalan, namun sejauh ini belum dilakukan pengerukan sungai.
Secara psikologis, para keluarga korban akan mengalami trauma mendalam, stres akibat kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, bahkan pernah kehilangan anggota keluarga akibat hanyut terseret arus banjir.
Untuk itu, pemerintah pusat maupun daerah diminta agar melakukan investigasi langsung ke hulu hingga ke hilir sungai untuk dapat mengetahui secara pasti apa saja yang menjadi faktor penyebab terjadinya banjir.
Sebab, bukan tidak mungkin salah satu faktor penyebab terjadinya bencana banjir melanda Besitang, itu akibat kerusakan kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Mengetahui faktor penyebab sering terjadinya banjir, maka dari situ diharapkan pemerintah akan dapat mencari solusi apa yang harus dilakukan mengatasi masalah tersebut.
Mungkin salah satu upaya yang harus segera dikerjakan adalah menormalisasi sungai yang saat ini sudah dalam kondisi pendangkalan. "Lumpur tebal dan sampah dari dalam sungai harus dikeruk, sehingga diharapkan debit air yang cukup besar turun dari hulu sungai tidak lagi merendam pemukiman masyarakat, tapi arus air akan mengalir dengan lancar hingga ke laut."
Diminta gar Pemerintah memberikan solusi permanen guna mengatasi masalah banjir. Janganlah kiranya kehadiran pemerintah di tengah masyarakat hanya memberi bantuan pangan saja ketika terjadi bencana banjir, tapi normalisasi Sungai Besitang harus benar-benar dilakukan dengan tindakan nyata.(simamora/mp)

