-->

Nanas Sipahutar Melimpah, Tapi Seberapa Besar Nilai Tambah yang Dinikmati Masyarakat?

Sebarkan:
Thesa Adelia Nainggolan

Disusun oleh: Thesa Adelia Nainggolan

Kalau bicara komoditas pertanian Tapanuli Utara, nama kopi dan kemenyan mungkin lebih sering terdengar. Padahal ada komoditas lain yang tidak kalah menarik dilihat dari sisi ekonomi, yaitu nanas, dengan Kecamatan Sipahutar sebagai sentra produksinya.

Bagi masyarakat, nanas bukan sekadar buah yang dimakan sehari-hari. Di baliknya ada kegiatan ekonomi yang berjalan mulai dari produksi, perdagangan, sampai pengolahan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi nanas Kabupaten Tapanuli Utara pada 2025 mencapai 1.819.147,14 kuintal, atau sekitar 181,9 ribu ton. Harga nanas di pasaran juga sedang naik.

Menurut harianSIB.com, harga nanas Sipahutar naik dari Rp12.000 menjadi Rp25.000 per buah ukuran sedang sejak Desember 2025. Dari sini muncul pertanyaan yang cukup penting: ketika panen melimpah dan harga naik, seberapa besar nilai ekonomi yang benar-benar dinikmati masyarakat?

Pertanyaan ini muncul karena produksi yang besar tidak otomatis berarti nilai tambah yang besar. Ada proses lain yang menentukan seberapa luas manfaat ekonomi sebuah komoditas. Salah satunya adalah apakah hasil panen berhenti sebagai buah segar, atau berlanjut menjadi produk lain.

Dalam ilmu ekonomi, nilai tambah muncul ketika suatu bahan diproses sehingga nilai ekonominya meningkat. Nanas yang dijual segar dihargai sebagai buah. Namun, ketika diolah menjadi keripik, selai, manisan, atau jus, ada tambahan proses berupa pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan distribusi. Setiap proses itu membuka kegiatan ekonomi baru.

Menggantungkan diri pada buah segar juga punya risiko. Harga bisa berbalik arah. Pada 2021, petani di Desa Siabal-abal mengeluhkan harga nanas yang turun dari Rp3.000-3.500 menjadi Rp1.800 per buah saat pandemi Covid-19. Artinya, kalau seluruh hasil panen hanya bergantung pada pasar buah segar, pendapatan ikut naik turun mengikuti harga.

Isu ini sebenarnya bukan hal baru. Sebuah kajian pada 2019 menyusun strategi peningkatan nilai tambah nanas di Tapanuli Utara dengan menganalisis rantai nilai pada setiap pelaku rantai pasok di Sipahutar.

Kajian lain dari Purba dan Samosir (Universitas Negeri Medan) mencatat bahwa tidak semua sumber daya pertanian Tapanuli Utara sudah dioptimalkan untuk tujuan ekspor, dan melihat peluang pada produk olahan nanas.

Gambaran yang lebih konkret datang dari penelitian Elisa Sianturi, Rika Fitri Ilvira, dan Gustami Harahap (2024) di Desa Onanrunggu I, Sipahutar. Dengan metode Hayami, yang menghitung tambahan nilai setelah dikurangi biaya bahan baku dan input lainnya, penelitian itu menemukan bahwa pengolahan nanas menjadi keripik menghasilkan nilai tambah Rp11.200 per kilogram bahan baku, dengan rasio nilai tambah 75 persen.

Memang, angka ini tidak bisa langsung dibaca sebagai tambahan pendapatan Rp11.200 bagi setiap petani untuk tiap kilogram nanas. Penelitian tersebut mengambil satu desa dan menghitung usaha pengolahan tertentu, sehingga belum tentu menggambarkan kondisi seluruh pelaku usaha di Sipahutar. Meski begitu, angka tersebut setidaknya menunjukkan bahwa pengolahan bisa menciptakan nilai ekonomi tambahan dari komoditas pertanian.

Di sinilah persoalan ekonomi nanas menjadi menarik. Dalam produksi keripik, misalnya, ada kebutuhan untuk memilih bahan baku, mengolah, menggunakan peralatan, mempekerjakan tenaga kerja, mengemas, hingga memasarkan. Satu komoditas bisa melibatkan lebih banyak aktivitas ekonomi dibandingkan jika hanya dijual segar.

Namun, mengubah buah menjadi produk olahan tidak sesederhana kedengarannya. Penelitian di Onanrunggu I mencatat sejumlah kendala, yaitu keterbatasan pengetahuan tentang teknologi pengolahan, akses terhadap pelatihan, modal usaha, serta pemasaran dan distribusi. Tanpa kebutuhan tersebut terpenuhi, produk olahan sulit bersaing dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah, proses ini dikenal sebagai hilirisasi, yaitu mendorong komoditas agar tidak berhenti sebagai bahan mentah.

Bagi Tapanuli Utara, gagasan ini relevan karena pertanian masih berperan besar dalam perekonomian daerah. Jika sebagian nanas masuk ke pengolahan, pelaku ekonominya juga makin beragam: UMKM, tenaga kerja, penyedia kemasan, pedagang, hingga pelaku distribusi.

Hilirisasi juga tidak berarti seluruh nanas harus diolah. Buah segar tetap punya pasar dan fungsi ekonominya sendiri. Pengolahan lebih tepat dipandang sebagai pilihan tambahan untuk memperluas pemanfaatan hasil panen.

Dukungan sebenarnya mulai terlihat. Pada April 2026, Dekranasda Tapanuli Utara mengunjungi UMKM selai nanas di Desa Sabungan Nihuta I dan III. Menurut pemberitaan Berita Gambar, Dekranasda akan membantu pengurusan NIB, legalitas usaha, dan pengembangan kemasan.

Dalam kunjungan itu dibahas pula penyakit kuning pada tanaman nanas dan ketersediaan pupuk subsidi, dua hal yang berkaitan dengan pasokan bahan baku.

Meski begitu, dukungan perlu terus diperkuat dan diarahkan pada kebutuhan yang memang dihadapi pelaku usaha.

Pemerintah daerah dan dinas terkait punya peran penting di sini, karena pengembangan usaha olahan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pelaku usaha kecil dan mekanisme pasar.

Langkah pertama adalah pelatihan teknologi pengolahan dan akses permodalan. Pelaku usaha perlu dibekali keterampilan mengolah nanas dengan kualitas yang konsisten, serta dibantu mencari modal untuk peralatan dan bahan baku. Langkah ini menjawab dua kendala yang dicatat penelitian di Onanrunggu I.

Langkah berikutnya adalah pendampingan kemasan dan pemasaran. Produk olahan nanas Sipahutar perlu tampil menarik dan mudah ditemukan, termasuk lewat media sosial dan marketplace.

Nama nanas Sipahutar yang sudah dikenal juga bisa menjadi nilai jual tersendiri, dan perlindungan identitasnya, misalnya melalui indikasi geografis, patut dikaji.

Di sisi hulu, penanganan penyakit tanaman dan ketersediaan pupuk perlu dijaga. Bahan baku yang melimpah adalah modal utama pengolahan. Kalau pasokannya terganggu, usaha olahan ikut terdampak.

Pada akhirnya, membicarakan nanas Sipahutar bukan hanya soal berapa banyak nanas yang bisa dipanen. Ada pertanyaan yang lebih penting dari sisi ekonomi: seberapa besar nilai yang dapat diciptakan dari hasil panen tersebut? Produksi yang besar memang potensi, tetapi potensi itu baru berarti ketika hasil pertanian dikembangkan menjadi produk dan kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah.

Dengan kata lain, tantangan Tapanuli Utara bukan hanya menghasilkan lebih banyak nanas, tetapi juga menciptakan lebih banyak nilai dari nanas yang sudah dihasilkan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini