-->

‎Pemkab Taput Gandeng Kemenhut, Petakan Potensi Konservasi Lanskap Harangan Tapanuli ‎

Sebarkan:

 

Wabup Taput Deni Parlindungan Lumbantoruan membuka secara resmi Workshop Pemetaan Potensi Areal Konservasi Lanskap Batang Toru-Harangan Tapanuli di Hotel Hineni Tarutung, (Foto: Alfredo Sihombing/mol)
TAPUT | Wakil Bupati (Wabup) Tapanuli Utara (Taput) Deni Parlindungan Lumbantoruan bersama Dewi Sulastri Ningsih mewakili Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi membuka secara resmi Workshop Pemetaan Potensi Areal Konservasi Lanskap Batang Toru-Harangan Tapanuli bertempat di Hotel Hineni, Tarutung, Kamis (9/4/2026).


‎Kegiatan strategis diinisiasi oleh Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) merupakan upaya kolaboratif dalam mengidentifikasi dan menjaga kelestarian ekosistem di wilayah Tapanuli. 

‎Wabup Deni menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kemenhut atas perhatian besar terhadap kekayaan alam di Taput. 


Ia menekankan 66 persen dari total luas lanskap Batang Toru berada di Kabupaten Taput, sehingga tanggung jawab pelestariannya menjadi prioritas utama daerah.


‎"Saya sangat mendukung inisiatif dari Kemenhuy melalui Direktorat Pemulihan Ekosistem, dengan pemetaan ini, dapat mengidentifikasi aset berharga yang kita miliki, seringkali tidak menyadari betapa berharganya potensi alam sebelum ada upaya identifikasi secara mendalam seperti ini," kata Deni, Rabu (8/4/2026).

Ia berharap workshop yang berlangsung 7 hingga 8 April ini menghasilkan data akurat yang dapat ditindaklanjuti dengan aksi lapangan oleh pimpinan perangkat daerah, camat, kepala desa, serta kelompok masyarakat dan NGO yang hadir.

‎Mewakili Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi Dewi Sulastri Ningsih menekankan, ekosistem Batang Toru atau Harangan Tapanuli merupakan habitat krusial bagi satwa prioritas, terutama Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis).


‎"Orangutan Tapanuli adalah spesies kera besar yang paling terancam punah di dunia, mengingat lebih dari 50 persen ekosistem Batang Toru berada di wilayah Taput, ini menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab besar bagi kita semua untuk menjaga kelestariannya," ujar Dewi.


Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Balai KSDA Sumatera Utara (Sumut), Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumut, para pimpinan perangkat daerah, para Camat, Kepala Desa, serta perwakilan NGO lingkungan hidup. (as/as)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini