![]() |
| Hasil sitaan berbagai merek rokok illegal tanpa pita. (foto : Jboy/mol). |
LANGSA I Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Langsa (Bea Cukai Langsa) melakukan pemusnahan Barang Kena Cukai Hasil Tembakau (BKC HT) llegal berupa 545.452 batang rokok senilai 1,2 milyar dengan cara memotong dan membakarnya dihalaman Kantor Bea Cukai Langsa, Kamis (9/4/2026).
Kepala Kantor Bea Cukai Langsa, Dwi Harmawanto dalam konferensi pers nya menyampaikan, kegiatan ini merupakan lanjut atas hasil penindakan di bidang cukai sekaligus bagian dari pelaksana Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di bidang pengawasan, penegakan hukum dan fasilitasi serta optimalisasi penerimaan negara.
Dimana barang hasil penindakan yang dimusnahkan merupakan akumulasi dari 63 Surat Bukti Penindakan (SBP) dalam periode Mei 2025 sampai dengan Februari 2026, dengan nilai barang sebesar Rp1.293.331.780,- dan perkiraan kerugian negara sebesar Rp886.757.053,-
Langkah ini ditempuh untuk memastikan barang hasil penindakant idak kembali beredar di masyarakat, tidak lagi memiliki manfaat ekonomis serta menjadi bagian dari penyelesaian barang hasil penindakan secara akuntabel.
Upaya pengawasan dan penindakan terhadap peredaran rokok ilegal tersebut juga dilaksanakan melalui sinergi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait lainnya, terutama Satuan Polisi Pamong Praja antara lain melalui operasi pasar dan sosialisasi ketentuan di bidang cukai kepada masyarakat dan pelaku usaha.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kepatuhan, menekan peredaran barang kena cukai ilegal serta memperkuat perlindungan masyarakat.
Ke depan, sinergi dengan aparat penegak hukum dan instansi terkait akan terus ditingkatkan guna mendukung efektivitas pengawasan dan penegakan hukum di wilayah kerja Bea Cukai Langsa, ungkap Dwi.
Sementara pelaksanaan pemusnahan telah memperoleh persetujuan dari pejabat yang berwenang yakni berdasarkan Surat Direktur Pengelolaan Kekayaan Negara Nomor : S-306/MK/KN.4/2025 tanggal 19 November 2025, Surat Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Lhokseumawe Nomor : S-142/MK/KNL0102/2025 tanggal 24 November 2025, dan Surat Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Lhokseumawe Nomor : S-27/MK/KNL0102/2026 tanggal 9 Maret 2026.
Dari sisi regulasi, penyelesaian barang hasil penindakan di bidang cukai berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17 Tahun 2024 tentang tata cara oenyelesaian barang kena cukai dan barang lain yang dirampas untuk negara yang dikuasai negara dan yang menjadi milik negara.
Sedang pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) yang berasal dari aset eks kepabeanan dan cukai termasuk pemusnahan juga diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150 Tahun 2023 sebagai perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 51 PMK.06/2021.
Regulasi tersebut menegaskan bahwa pemusnahan merupakan salah satu bentuk pengelolaan barang dan dimaknai sebagai tindakan memusnahkan fisik dan/atau kegunaan barang.
Jenis barang yang dimusnahkan terdiri atas berbagai merek rokok ilegal, antara lain H&D, Manchester, Englishman, Luffman, IB, Mer-C, Oris Pulse, Platinum Seven, Luckyman, dan berbagai merek lainnya sesuai data inventaris barang hasil penindakan.
Keragaman merek tersebut menunjukkan bahwa peredaran rokok ilegal masih berlangsung dalam berbagai bentuk dan memerlukan pengawasan serta penindakan yang berkelanjutan.
Proses pemusnahan dilaksanakan secara terbuka dan akuntabel dengan cara rokok dipotong terlebih dahulu untuk menghilangkan bentuk fisik dan kegunaannya kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Tatacara tersebut selaras dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17 tahun 2024 yang mendefinisikan pemusnahan sebagai kegiatan untuk menghilangkan
wujud awal dan/atau sifat hakiki barang kena cukai dan/atau barang lain serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150 Tahun 2023 yang menegaskan pemusnahan sebagai tindakan memusnahkan fisik dan/atau kegunaan BMN.
Dalam ketentuan umum pelaksanaan pemusnahan BMN, pemusnahan juga dapat dilakukan dengan cara dibakar dan pelaksanaannya dituangkan dalam berita acara pemusnahan.
Dengan demikian, metode pemotongan dan pembakaran tersebut dilakukan untuk memastikan barang hasil penindakan tidak dapat digunakan kembali maupun beredar kembali dimasyarakat, sekaligus dilaksanakan sesuai persetujuan pejabat yang berwenang dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selanjutnya Dwi Harmawanto juga menjelaskan, kegiatan pemusnahan ini merupakan wujud nyata komitmen bea cukai langsa dalam menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan hukum secara tegas, konsisten dan transparan.
"Pemusnahan ini bukan sekadar tahapan administratif, melainkan bagian dari penegakan hukum untuk memastikan rokok ilegal tidak kembali beredar di masyarakat. Bea Cukai Langsa akan terus memperkuat pengawasan, bersinergi dengan penerimaan negara dari sektor cukai," ujarnya.
" Peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai atau yang tidak memenuhi ketentuan di bidang cukai berdampak pada hilangnya potensi penerimaan negara dan menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat bagi pelaku usaha yang patuh terhadap ketentuan", imbuhnya.
Karena itu, pemusnahan barang hasil penindakan menjadi langkah penting dalam menutup rangkaian proses penegakan hukum sekaligus mencegah barang ilegal kembali beredar di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, bea cukai langsa menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengawasan dan penindakan terhadap peredaran Barang kena cukai ilegal di wilayah kerjanya.
Bea Cukai Langsa juga mengimbau masyarakat untuk tidak membeli, menjual maupun mengedarkan rokok ilegal serta turut berperan aktif melaporkan apabila menemukan indikasi pelanggaran di bidang kepabeanan dan cukai. (Jboy)

