-->

Di Balik Data dan Janji, Korban Banjir Tapteng Bertahan di Huntara Tanpa Kepastian

Sebarkan:

Posisi rumah Raudodo sebelumnya dan sekarang sudah bersih dan menjadi aliran air yang masih belum dinormalisasi. (Foto: Yasmend/mol)

TAPTENG |
Penderitaan korban banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, belum sepenuhnya berakhir. Di tengah proses pemulihan pascabencana, masih terdapat warga yang mengaku belum menerima bantuan meski telah berulang kali terdata secara resmi.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kondisi yang dialami warga terdampak memang masih memprihatinkan. Salah satunya adalah Raudodo Zebua, 60, warga Dusun I, Desa Muara, Kecamatan Sibabangun, yang hingga kini bersama keluarganya masih bertahan di hunian sementara (huntara).

Saat ditemui pada Kamis pagi (30/4/2026), Raudodo menyampaikan keluhannya dengan nada penuh harap.

“Kami sudah beberapa kali didata, tetapi sampai sekarang belum juga menerima bantuan. Rumah dan seluruh harta benda kami habis diterjang banjir. Yang tersisa hanya pakaian di badan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, rumah yang sebelumnya ditempatinya kini sudah tidak lagi dapat dihuni karena telah hancur diterjang banjir. Bahkan, berdasarkan hasil pengecekan langsung di lokasi, bekas rumah tersebut kini berubah menjadi bagian dari aliran air di Desa Muara Sibuntuon.

Raudodo tinggal bersama istrinya, Sarila Harefa, 49, serta lima anak mereka. Dalam kondisi serba terbatas di huntara, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga di tengah situasi ekonomi yang belum pulih.

Ia mengaku bantuan yang diterima sejauh ini sangat minim, hanya berupa beras dalam jumlah terbatas tanpa dukungan kebutuhan lainnya seperti lauk pauk. Sementara itu, bantuan Jaminan Hidup (Jadup) maupun dana perkakas yang disebut telah diterima sebagian warga, belum ia rasakan.

“Kami dengar ada warga yang sudah menerima bantuan sekitar Rp8 juta, tapi kami belum mendapat apa pun,” katanya.

Kondisi semakin sulit karena akses jalan yang rusak akibat longsor, sehingga aktivitas ekonomi warga menjadi terhambat.

Menanggapi hal tersebut, Camat Sibabangun, Romulus Simanullang, menjelaskan bahwa tidak semua warga di Huntara Muara Sibuntuon masuk dalam daftar penerima bantuan tahap pertama.

“Dari warga yang tinggal di huntara tersebut, ada dua kepala keluarga yang datanya masuk tahap kedua. Itu sebabnya mereka belum menerima bantuan pada pencairan tahap pertama,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Terkait kebutuhan logistik, khususnya beras, pihak kecamatan mengakui adanya kekosongan stok dan telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

“Kami sudah menyampaikan kepada Asisten II bahwa stok beras di huntara tersebut habis dan akan segera didistribusikan kembali,” tambahnya.

Upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Muara Sibuntuon juga telah dilakukan, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan.

Meski telah ada penjelasan dari pihak kecamatan, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan dasar korban belum sepenuhnya terpenuhi. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait akurasi data, kecepatan distribusi bantuan, serta efektivitas penanganan pascabencana.

Raudodo berharap pemerintah dapat memberikan perhatian nyata, bukan sekadar pendataan tanpa kejelasan.

“Kami mohon perhatian dari pemerintah, mulai dari desa hingga pusat. Kami benar-benar terdampak dan jangan sampai terabaikan,” tuturnya.

Kisah ini menjadi gambaran bahwa di balik laporan penanganan bencana, masih ada warga yang berjuang dalam keterbatasan. Diperlukan langkah konkret, cepat, dan tepat sasaran agar seluruh korban dapat merasakan pemulihan secara adil.(YS/JS)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini