LANGKAT | Bencana banjir yang terjadi akhir tahun 2025 lalu berdampak ricuh di kalangan masyarakat pasalnya bantuan bencana banjir tersebut tidak merata padahal semua masyarakat mengalami dampak daripada bencana banjir tersebut, demikian dikatakan Libertus Sijabat, Kamis (23/4/2026).
Pendataan yang dilakukan aparatur desa dan kecamatan ternyata hanyalah akting semata, padahal usai bencana banjir tepatnya bulan Desember pemerintah Kabupaten Langkat dan Pemerintah Kecamatan Babalan turun langsung ke dusun alur hitam Desa Securai Selatan berdialog dengan masyarakat, dan saat itu yang hadir bukan hanya dari desa securai selatan saja, bahkan dari desa lain juga hadir menyaksikan kedatangan para pejabat tersebut.
Namun kata Libertus Sijabat, sampai hari ini bantuan banjir yang telah dengan rapi didata oleh pihak pemerintah tidak kunjung tiba, malah kabarnya yang mendapat bantuan banjir di Kecamatan Babalan hanyalah 10 Kepala Keluarga (KK) sebanyak 37 jiwa yang terkena bencana banjir.
Warga bingung melihat data penerima bantuan bencana banjir di kecamatan Babalan tersebut, sebenarnya data itu darimana diambil dan siapa aktor dibalik semua kecurangan ini, ucap Libertus Sijabat.
Hal serupa dikatakan Rahmanto warga Desa Pelawi Selatan Kecamatan Babalan, berjanji akan melakukan aksi Unjukrasa ke Kantor Bupati Langkat perihal bantuan bencana banjir yang tidak merata.
Sementara seluruh pemukiman masyarakat Kecamatan Babalan tergenang air banjir selama ber hari hari, selain itu ribuan hektare tanaman sawah tenggelam dan gagal panen, selain itu ternak warga juga banyak mati akibat bencana banjir tersebut.
Namun kata Rahmanto sampai saat ini masyarakat Desa Pelawi Selatan masih menanti bantuan banjir yang tidak kunjung ada, sehingga masyarakat mengajak melakukan aksi Unjukrasa didepan kantor Bupati Langkat, diperkirakan banyaknya massa lebih kurang 2000 orang.
Masyarakat ingin mengetahui seluruh data masyarakat yang terkena banjir tersebut kemana dibuat, dan siapa bilang kerok semua ini, karena Pemerintah Pusat taunya hanya membayarkan setelah data dikirim dari Pemerintah Kabupaten, artinya kami masyarakat ingin kejelasan siapa orang jahat dibalik kecurangan ini, ucap Rahmanto.
Data yang dihimpun metro online, penerima bantuan bencana banjir yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu adalah 16 kecamatan, diantaranya kecamatan Babalan sebanyak 10 Kepala Keluarga dengan 37 jiwa dengan dana 129.950.000.
Kecamatan Bahorok 1 Kepala Keluarga dengan 2 jiwa dengan dana 10.700.000, Kecamatan Batang Serangan 5 Kepala Keluarga dengan 16 jiwa dengan dana 61.600.000, Kecamatan Berandan Barat 124 Kepala Keluarga dengan 413 jiwa dengan dana 1.549.550.000.
Kemudian Kecamatan Besitang 669 Kepala Keluarga dengan 2386 jiwa dengan dana sebesar 8.573.100.000, Kecamatan Gebang 8 Kepala Keluarga dengan 27 jiwa dengan anggaran 100.450.000.
Selanjutnya Kecamatan Hinai 12 Kepala Keluarga 35 jiwa dengan dana 143.250.000, Kecamatan Padang Tualang 60 Kepala Keluarga 214 jiwa dengan anggaran dana 768.900.000.
Kecamatan pangkalan susu 80 Kepala Keluarga 289 jiwa dengan anggaran 1.030.150.000, Kecamatan Pematang Jaya 13 Kepala Keluarga 41 Jiwa dengan anggaran dana 169.350.000.
Kecamatan Sawit Seberang 10 Kepala Keluarga 32 jiwa dengan anggaran dana 123.200.000, Kecamatan Seilepan 133 Kepala Keluarga 459 jiwa dengan anggaran 616.960.000.
Kecamatan Secanggang 2 Kepala Keluarga 3 jiwa dengan anggaran 20.050.000, Kecamatan Stabat 5 Kepala Keluarga 16 jiwa dengan anggaran 61.600.000.
Kecamatan Tanjung pura 199 Kepala Keluarga 439 jiwa dengan anggaran dana 1.544.650.000, dan Kecamatan Wampu 30 Kepala Keluarga 118 jiwa dengan dana 399.300.000, seluruhnya sudah dicairkan dan telah diterima masyarakat yang terdaftar.(mp/mp)

