![]() |
| Kolam renang Pemko Tebingtinggi dalam perawatan Disporapar, Jumat (13/3/2026).(mol/RG). |
“Kolam renang yang tidak dipakai biasanya airnya akan berubah menjadi hijau karena proses alam, terkait keluhan masyarakat,” ujar Fadli kepada wartawan, Jumat (13/3/2026).
Ia menambahkan, kolam renang tersebut tidak bisa dikeringkan sepenuhnya karena berisiko merusak struktur kolam. Jika kolam dibiarkan kosong dalam waktu lama dan terkena paparan panas matahari, sambungan keramik berpotensi retak dan dapat menyebabkan kebocoran.
“Jika kolam dikosongkan dan terkena paparan panas matahari dalam waktu lama, sambungan keramik dikhawatirkan retak dan berpotensi menimbulkan kebocoran,” jelasnya.
Fadli juga menjelaskan perawatan kolam tetap dilakukan melalui proses filtrasi menggunakan mesin pompa. Air kolam disedot menuju sistem penyaringan, kemudian air bersih dikembalikan ke kolam melalui inlet fitting, sedangkan air kotor hasil penyaringan dibuang secara berkala melalui proses backwash.
Selain itu, perawatan air juga dilakukan secara kimiawi dengan menambahkan bahan seperti kaporit dan Poly Aluminium Chloride (PAC) untuk membunuh bakteri serta mencegah pertumbuhan lumut.
Pembersihan manual juga rutin dilakukan setiap hari menggunakan mesin vakum untuk mengangkat kotoran yang mengendap di dasar kolam.
“Sebelum kolam dibuka kembali untuk masyarakat, kualitas air akan diperiksa menggunakan alat uji guna memastikan tingkat pH dan kadar kaporit berada pada kondisi aman,” tegasnya.
Saat ini, lanjut Fadli, proses penyedotan air kolam mulai dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari upaya perawatan agar kondisi air kembali layak digunakan.
“Disporapar Kota Tebingtinggi akan tetap menjaga kualitas air dan melakukan evaluasi terhadap sistem pengelolaan air kolam agar fasilitas publik tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat dengan nyaman dan aman,” tutupnya.
Sebelumnya, kondisi kolam renang milik Pemko Tebingtinggi menjadi sorotan warga melalui unggahan di media sosial Facebook. Warga meminta adanya peninjauan ulang terhadap sistem pengolahan air kolam tersebut.
Keluhan itu mencuat dalam laporan monitoring isu publik pada 5 Maret 2026. Dalam unggahan tersebut, sejumlah persoalan teknis disebut menjadi penyebab buruknya kualitas air kolam, mulai dari daya listrik yang dinilai tidak memadai, instalasi pembuangan air yang tidak sesuai standar, tidak adanya katup pembuangan air kolam, hingga mesin pompa filter yang diduga tidak berfungsi.(HR/HR).

