-->

Warga Sibio-bio Pertaruhkan Nyawa Seberangi Sungai, Pemkab Tapanuli Tengah Didesak Bangun Jembatan Permanen

Sebarkan:

Warga pertaruhkan nyawa demi bisa menyeberangi sungai.(Foto: Yasmend/mol)

TAPTENG |
Derasnya arus Sungai Muara Sibuntuon kembali memaksa warga Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, mempertaruhkan nyawa demi pulang ke rumah mereka, Selasa (17/2/2026). Tanpa jembatan permanen, sungai yang meluap setiap musim hujan menjadi satu-satunya akses penghubung dua desa, sekaligus ancaman nyata bagi keselamatan warga.

Hujan deras yang mengguyur Desa Muara dan Desa Sibio-bio pada Senin (16/2/2026) bertepatan dengan hari pekan. Saat itu, warga Desa Sibio-bio berada di Desa Muara untuk berbelanja kebutuhan pokok selama sepekan. Curah hujan tinggi menyebabkan debit Sungai Muara Sibuntuon meningkat drastis hingga tidak dapat diseberangi.

Puluhan warga tertahan dan terpaksa mengungsi sementara di rumah kerabat di Desa Muara. Mereka baru berani menyeberang keesokan paginya setelah hujan mereda, meski arus sungai masih deras dan berisiko tinggi.

Anak Diseberangkan dalam Karung

Proses penyeberangan berlangsung dramatis. Anak-anak yang tidak mampu berenang diikat menggunakan tali pengaman. Salah satu anak, Marcel Mendrofa, putra dari Murniati Zebua, warga Desa Sibio-bio yang berdomisili di Sosopan, bahkan harus dimasukkan ke dalam karung untuk memudahkan proses penyeberangan di tengah arus sungai.

Sejumlah warga dewasa nyaris terseret arus. Namun berkat kerja sama masyarakat di kedua sisi sungai, seluruh warga berhasil selamat.

Peristiwa ini bukan yang pertama. Warga menyebut kondisi tersebut sebagai ancaman rutin setiap musim hujan karena hingga kini belum ada jembatan permanen yang dibangun pemerintah daerah.

Tragedi 2025 Belum Tuntas

Kekecewaan warga semakin menguat karena tragedi banjir pada Selasa (25/11/2025), lalu hingga kini dinilai belum ditangani secara tuntas.

Dalam peristiwa tersebut, tiga anggota keluarga Mei Yaman Zebua menjadi korban. Dua di antaranya ditemukan atas upaya keluarga bersama masyarakat dan aparat desa. Namun satu korban lainnya, mertua perempuan, hingga kini belum ditemukan.

“Kami sudah mencari berbulan-bulan dari hulu sampai hilir sungai. Kami menyurati pemerintah. Respons baru datang hampir tiga bulan kemudian. Itu pun hanya penyisiran manual yang menurut kami tidak efektif,” ujar Mei Yaman Zebua, yang akrab disapa Bapak Josua, kepada Reporter Metro-Online.co, Rabu malam (18/2/2026).

Keluarga korban meminta pemerintah melalui camat, Polsek Sibabangun, dan Koramil untuk membantu melakukan pengecekan data makam massal di UPTD Puskesmas Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, serta identifikasi makam tanpa identitas. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada tindak lanjut atas permintaan tersebut.

Desakan Serius kepada Pemkab


Warga menilai Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah tidak boleh lagi menunda pembangunan jembatan penghubung Desa Muara dan Desa Sibio-bio. Infrastruktur tersebut dinilai sebagai urat nadi aktivitas masyarakat, mulai dari akses pendidikan, ekonomi, hingga layanan kesehatan.

Tanpa jembatan permanen, setiap musim hujan warga dipaksa memilih antara menunggu tanpa kepastian atau mempertaruhkan nyawa di tengah derasnya arus sungai.

Masyarakat mendesak Pemkab Tapanuli Tengah segera mengambil langkah konkret, baik dalam pembangunan infrastruktur penghubung maupun dalam penanganan kasus korban banjir 2025 yang belum tuntas.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terkait rencana pembangunan jembatan permanen maupun tindak lanjut atas permintaan keluarga korban banjir.(YS/JS)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini