Kegiatan ini merupakan bentuk nyata peran mahasiswa sebagai kontrol sosial, sekaligus ruang refleksi kritis atas satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tebingtinggi.
Kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu oleh Riska Rahmayani, dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Husien Lubis.
Melalui forum ini, GMNI dan IMM menegaskan mahasiswa tidak hadir sebagai oposisi tanpa arah, melainkan sebagai mitra kritis yang berbicara berdasarkan data, realitas lapangan dan solusi konstruktif.
Dalam dialog kebangsaan tersebut, GMNI dan IMM memaparkan hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) dengan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) sebesar 76,73, yang berada pada kategori "Baik".
Meski demikian, mahasiswa menilai hasil tersebut belum dapat dijadikan alasan untuk berpuas diri, karena masih terdapat berbagai sektor yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Beberapa sektor yang disoroti secara kritis antara lain penguatan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat, serta minimnya ruang partisipasi pemuda dalam proses pembangunan kota, agar sejalan dengan visi dan misi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tebingtinggi.
Dialog kebangsaan ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Ade Gunawan, SE., M.Si sebagai akademisi, yang memaparkan analisis objektif terkait indikator keberhasilan kepemimpinan daerah dari perspektif ekonomi dan tata kelola pemerintahan.
Selain itu, Rio Samuel Manurung selaku aktivis Cipayung menyampaikan pandangan kritis mahasiswa dan pemuda.
"Kami menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan kepada rakyat dan generasi muda," ujar Rio dalam paparannya.
Pada kesempatan tersebut, hasil Survei Kepuasan Masyarakat secara simbolis diserahkan kepada perwakilan pemerintah daerah, yang disampaikan oleh Abdul selaku Ketua Panitia Acara, sebagai bentuk tanggung jawab moral mahasiswa dalam menyampaikan data kepada pemangku kebijakan.
Dialog berlangsung dinamis dan interaktif, ditandai dengan banyaknya audiens yang terlibat dalam sesi tanya jawab.
Berbagai kritik, solusi dan harapan disampaikan secara terbuka demi mewujudkan Kota Tebingtinggi yang lebih adil, partisipatif, dan berpihak kepada rakyat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh kelompok mahasiswa Cipayung Plus, perwakilan BEM, alumni GMNI dan IMM, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tebingtinggi Denni Saragih dan Kepala Dinas Kominfo Kota Tebingtinggi Ghazali Rahman.
Selain itu, hadir pula unsur kepolisian yang diwakili oleh Kasat Intelkam Polres Tebingtinggi serta Ketua Bawaslu Kota Tebingtinggi, sebagai bentuk perhatian lintas sektor terhadap suara kritis mahasiswa dan pemuda.
Sebagai penutup, GMNI dan IMM berharap dialog kebangsaan semacam ini dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan, sehingga seluruh ide, gagasan, kritik, dan solusi yang lahir dapat menjadi bahan kajian strategis bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang lebih transparan, inklusif, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. (Sdy/Sdy)


