-->

Fonika Affandi Apresiasi Prestasi Petarung Kick Boxing dari Lapas Kelas I Medan

Sebarkan:
Kalapas Kelas I Medan Fonika Affandi saat menyerahkan piagam penghargaan kepada pegawai juga petarung kick boxing Frans Julius Purba. (mol/lagista)

MEDAN | Suasana di Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Medan terasa berbeda dari biasanya. Di hadapan jajaran pegawai, Kepala Lapas Fonika Affandi menyerahkan piagam penghargaan kepada seorang pegawai yang namanya tengah menjadi perbincangan hangat, Frans Julius Purba.

Frans bukan hanya aparat pemasyarakatan. Di luar jam dinas, ia adalah seorang petarung. Pada ajang Kick Boxing Spirit Fight Season 2 yang digelar 7 Februari 2026 lalu, ia turun di kelas 80 kilogram. 

Fonika Affandi, selaku pimpinan kegiatan, menyampaikan bahwa penghargaan ini diberikan sebagai bentuk dukungan dan motivasi kepada seluruh pegawai agar terus mengembangkan potensi diri, baik dalam pelaksanaan tugas kedinasan maupun melalui kegiatan positif di luar pekerjaan.

“Prestasi yang diraih saudara Frans Julius Purba menjadi bukti bahwa pegawai pemasyarakatan mampu menunjukkan dedikasi dan semangat berprestasi, tidak hanya dalam tugas sehari-hari, tetapi juga di bidang olahraga. Ini patut menjadi contoh dan inspirasi bagi pegawai lainnya,” ujar Kalapas.

Di tengah sorak sorai dan ketatnya persaingan para atlet dari berbagai daerah, Frans menunjukkan ketangguhan yang lahir dari disiplin. Bagi Fonika Affandi, prestasi ini lebih dari sekadar kemenangan di arena. 

“Ini bukti bahwa pegawai pemasyarakatan mampu berprestasi, tidak hanya dalam tugas, tetapi juga di bidang olahraga. Dedikasi dan semangat seperti inilah yang menjadi inspirasi,” ujarnya dalam sambutan.

Di balik seragam dinas yang rapi, tersimpan cerita tentang latihan rutin, keringat yang menetes di setiap sesi, dan komitmen menjaga kebugaran. Di Lapas Kelas I Medan, pembinaan fisik bukan sekadar formalitas. Setiap Jumat, para pegawai mengikuti latihan fisik dan bela diri. Semacam ‘tradisi’ yang dirancang Kalapas Fonika Affandi membangun disiplin, ketahanan, serta kesiapan mental dalam menjalankan tugas pelayanan pemasyarakatan.

Frans mengakui, dukungan pimpinan menjadi bahan bakar semangatnya. “Saya sangat berterima kasih atas motivasi yang terus diberikan. Dukungan itu membuat saya yakin untuk terus berkembang,” katanya dengan rendah hati.

Lebih jauh, ia memandang olahraga sebagai ruang pembinaan karakter. Baginya, semakin banyak kompetisi digelar, semakin terbuka pula ruang bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan menjauh dari pengaruh negatif, termasuk bahaya narkoba.

Penghargaan yang diserahkan pagi itu mungkin hanya selembar piagam. Namun maknanya melampaui simbol. Ia menjadi penegas bahwa di lingkungan pemasyarakatan, budaya kerja berprestasi tak berhenti pada target administratif. 

Di sana, sportivitas, integritas, dan semangat juang tumbuh berdampingan—membentuk aparatur yang tangguh, baik di balik meja kerja maupun di atas ring pertandingan. (RobS/RS)


Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini