![]() |
| Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat mengikuti tasyakuran di Masjid Ar-Rivai, Jalan SM Raja, Kecamatan Medan Amplas. (mol/kmnfo) |
Bukan sekadar seremoni. Tasyakuran menjadi ruang refleksi atas satu tahun perjalanan kepemimpinan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Wakil Wali Kota Zakiyuddin Harahap.
Di hadapan para jamaah, Rico berdiri dengan nada tenang namun penuh keyakinan. “Banyak pelajaran yang kami terima. Banyak persoalan yang kami telaah dan selesaikan,” ujarnya, membuka kisah tentang tahun pertama yang ia sebut sebagai fondasi perubahan.
Perubahan itu, menurut Rico, dimulai dari pembenahan tata kelola pemerintahan. Evaluasi demi evaluasi dilakukan untuk memastikan pelayanan publik tak lagi berbelit.
Pelayanan Publik
Hasilnya, pada 2025, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi memberi nilai A untuk kinerja pelayanan publik Kota Medan—terbaik di Sumatera Utara.
Bagi Rico–Zaki, nilai tersebut bukan sekadar huruf di atas kertas. Ia menjadi simbol bahwa birokrasi bisa bekerja cepat, transparan, dan responsif. “Kami terus meng-update diri,” kata Rico, menyiratkan bahwa reformasi adalah proses yang tak pernah selesai.
Investasi Lapangan Kerja
Di sektor ekonomi, grafik pertumbuhan bergerak menanjak. Target investasi yang semula dipatok Rp7,6 triliun justru terlampaui hampir dua kali lipat, mencapai Rp14,5 triliun. Pemerintah kota, kata Rico, membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor dengan komitmen menjaga iklim usaha tetap kondusif dan minim hambatan.
Lonjakan investasi beresonansi langsung pada penciptaan lapangan kerja. Dalam satu tahun, 23 ribu tenaga kerja terserap di berbagai sektor, lebih dari separuh target 50 ribu yang dicanangkan selama masa kepemimpinan mereka.
Di balik angka-angka tersebut, terselip goresan cerita tentang keluarga yang kembali punya harapan, tentang dapur yang kembali mengepul.
Rasa Aman
Namun kota bukan hanya soal ekonomi. Ia juga tentang rasa aman. Bersama Polrestabes Medan, pemerintah kota menekan angka kriminalitas, terutama kasus pencurian kendaraan bermotor yang turun 14 persen.
Langkah yang paling menyita perhatian publik adalah skema bantuan bagi korban kecelakaan akibat pembegalan. Biaya perawatan korban luka ditanggung pemerintah kota, kebijakan yang disambut tepuk tangan panjang para jamaah.
Bagi Rico, kehadiran negara harus terasa nyata saat warganya berada dalam situasi paling rentan.
Infrastruktur
Memasuki tahun kedua, Rico-Zaki fokus pada pembenahan infrastruktur. Jalan rusak dikebut perbaikannya. Sebanyak 12 ruas jalan ditargetkan bebas dari kabel melintang, bagian dari program estetika kota yang ingin menghadirkan wajah Medan yang lebih tertata.
Di bidang kesehatan, langkah yang disiapkan tak kalah ambisius. Yakni revitalisasi seluruh puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan, serta renovasi RSUD dr Pirngadi menjadi rumah sakit berskala internasional.
Program sosial pun diperkuat dengan penambahan bantuan PKH bagi warga yang membutuhkan, upaya menjaga agar pertumbuhan tak meninggalkan mereka yang paling rentan.
Kolaborasi dan Doa
Dalam.kesempatan tersebut, Ketua BKMT Kota Medan Nurasiah Harahap menyebut tasyakuran ini sebagai momentum sejarah, ruang refleksi untuk membangun Medan yang maju, humanis, religius dan berdaya saing.
Di ujung sambutannya, Rico menggarisbawahi satu hal. “Apa yang kami lakukan bersumber dari masyarakat dan harus kembali kepada masyarakat,” ungkapnya.
Satu tahun mungkin baru awal dari perjalanan panjang. Namun bagi Rico–Zaki, tahun pertama adalah tentang menenun kepercayaan, mengikat kerja nyata dengan harapan warga, agar denyut perubahan terus terasa di setiap sudut Kota Medan. Kolaborasi dan doa merupakan suluh dalam menapaki kinerja Rico-Zaki tsjun kedua. (ROBERTS/RS)


