![]() |
| Kajati Sumut Harli Siregar saat membuka Karate Open Tournament Kajatisu II Tahun 2026. (mol/pnkm) |
Di tengah atmosfer penuh disiplin dan semangat juang, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kajati Sumut) Harli Siregar, secara resmi membuka Karate Open Tournament Kajatisu II Tahun 2026. Tepuk tangan bergemuruh, menandai dimulainya kejuaraan yang bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi tentang perjalanan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Bagi Harli, kejuaraan ini bukan sekadar ajang memperebutkan piala bergilir Kajati Sumatera Utara dan uang pembinaan. Ia melihatnya sebagai ruang pendidikan karakter—tempat para atlet belajar tentang integritas, sportivitas, dan pengendalian diri.
“Pertandingan di gelanggang bukan berarti permusuhan. Ini adalah ajang kompetisi yang sehat antar sesama atlet,” tegasnya dalam sambutan.
Pesan itu terasa relevan. Di atas tatami, dua atlet mungkin saling berhadapan dengan sorot mata tajam.
Namun begitu wasit memberi aba-aba selesai, keduanya saling membungkuk hormat. Dalam jeda itulah nilai karate hidup: disiplin, rasa hormat, dan kerendahan hati.
Sebagai institusi penegak hukum, Kejati Sumut menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda tak melulu dilakukan lewat ruang sidang atau kebijakan formal. Dukungan terhadap olahraga, khususnya bela diri karate, menjadi wujud nyata investasi moral.
Di hadapan para pelatih, official, orang tua atlet, panitia, serta perwakilan Forum Wartawan Hukum (Forwakum), Harli menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terbangun. Ia menilai, kerja keras bersama inilah yang membuat turnamen mampu terselenggara dengan semarak dan tertib.
Karate, sebagaimana ditegaskannya, mengajarkan pengendalian diri dan penghormatan terhadap lawan, nilai-nilai yang sejalan dengan semangat penegakan hukum yang menjunjung kejujuran dan integritas.
Kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari, 13 hingga 15 Februari 2026, akan menjadi arena pembuktian bagi ratusan atlet muda. Setiap tendangan dan pukulan bukan hanya teknik, tetapi refleksi dari latihan panjang dan disiplin yang konsisten.
Di balik setiap medali yang diperebutkan, tersimpan kisah tentang bangun pagi untuk latihan, dukungan orang tua dari tribun, dan pelatih yang sabar membentuk teknik sekaligus mental.
Di akhir sambutannya, Harli kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan positif yang mendorong lahirnya generasi muda berprestasi. Bukan hanya unggul secara teknis, tetapi juga kokoh dalam karakter.
“Selamat bertanding dengan tetap menghormati lawan, utamakan sportivitas, jujur dan semangat juang tinggi,” pesannya. (RobS/RS)

