Hari ke-25 Pascabanjir, Warga Masih Tinggal di Tenda Pengungsian
![]() |
| Suasana di Desa Perdamaian, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu (20/12/2025). (Foto: Marlon Pardede/mol) |
ACEH TAMIANG | Memasuki hari ke-25 pascabanjir, warga Gang karya, Desa Perdamaian, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang tetap tinggal di tenda pengungsian. Pasalnya, air dan lumpur masih menggenangi rumah mereka hingga sejauh ini.
Selain itu, sebahagian rumah warga hancur terseret air banjir bandang yang terjadi pada Rabu 26 November 2025 lalu. Bencana tersebut menyisakan duka yang mendalam bagi warga, termasuk yang tinggal di Desa Perdamaian. Hal itu sebagaimana disampaikan Surya Efendi, warga Gang Karya kepada Metro Online, Sabtu (20/12/2025).
Saat itu, kata Surya, warga Gang Karya, Desa Perdamaian sangat yakin kalau banjir tidak akan sampai ke pemukiman mereka. Pasalnya saat tsunami dahulu, air hanya setinggi betis orang dewasa saja. Tetapi kali ini, tinggi air hanya menyisakan bubungan rumah miliknya saja.
Saat itu semua warga mengungsi ke perbukitan, persis di belakang perkampungan Desa Perdamaian tersebut. Mirisnya lagi, kata Surya, di saat banjir bandang melanda Aceh Tamiang, penjarah harta benda pun masuk perkampungan menggunakan perahu yang terbuat dari batang pohon pisang. Banyak warga kehilangan barang berharganya, terutama elektronik.
”Kalau soal bantuan yang diterima warga belum ada yang bersifat pembenahan tempat tinggal. Sejauh ini hanya sebatas beras dan air mineral saja untuk dikonsumsi warga sehari-hari,” sebut Surya.
Hal senada dikatakan Suaida alias Inong, 47, yang memiliki rumah semi permanen seluas 330 meter persegi yang dihuni tiga Kepala Keluarga (KK) yang merupakan anak dan menantunya.
Suaida mengisahkan kepedihan yang sangat mendalam akibat terjangan banjir bandang puluhan hari lalu. “Rumah tidak ada lagi. Saat ini saya dan sanak keluarga tinggal di tenda hijau milik Asuransi MAG,” katanya lirih.
Sejak banjir berangsur surut, persisnya di hari kelima, pihak Asuransi MAG mendirikan tenda hijau untuk penampungan pengungsi dan sekalian menampung warga untuk makan sehari-hari.
Bantuan dari pemerintah yang diterima warga hanya beras 5 kilogram dibagi dua kepala keluarga. Selain itu apapun tidak ada datang, bahkan pejabat berwenang saja pun belum pernah turun meninjau pemukiman warga Desa Perdamaian yang saat ini masih luluhlantak dan belum bisa dihuni.
Suaida berharap agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat dapat secepatnya melakukan pendataan dan pembangunan menggantikan rumah milik warga yang hanyut terbawa arus air banjir bandang.
"Saya berharap agar pemerintah dapat secepatnya melakukan pembangunan rumah tempat tinggal warga, termasuk rumah saya sudah tidak ada lagi, yang ada hanya tinggal tapak rumah saja,” ucap Suaida dengan mata berkaca.(mp/mp)

