Tapanuli Raya Menangis, Alam Menggugat: Apakah Musibah Banjir dan Longsor Adalah Jawaban TYME atas Ketidakacuhan Kita?

Sebarkan:

Oleh : Benyamin Nababan SH SPd MM (Dosen Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli)

​Berita duka yang berulang dari Tapanuli Raya sungguh menyayat hati kita. Serangkaian bencana banjir bandang dan tanah longsor ‘menyerang’ Tapanuli Selatan (Tapsel) Tapanuli Tengah (Tapteng), Kota Sibolga, Tapanuli Utara (Taput) dan Humbang Hasundutan (Humbahas) berturut-turut pada November 2025, bukanlah kejadian alam biasa. 

Kejadian yang menyebabkan korban jiwa, pengungsian, dan terputusnya akses penting seperti jalur Batang Toru dan Tarutung–Sibolga, merupakan tragedi serius yang menuntut refleksi spiritual yang mendalam.

Kita, sebagai umat manusia, adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (TYM) yang dianugerahi keistimewaan dan kecerdasan. Seluruh alam semesta diciptakan dan diatur oleh-Nya untuk berada dalam keselarasan. Dalam pemahaman ini, alam seharusnya menyambut kita dengan "keberkenanan" atau keridhaan, bukan malah amarah. Lalu, mengapa Tapanuli kini terus dihantui tangisan alam?

Jawabannya mengarah pada satu hal: Pengkhianatan ekologis oleh pihak kita sendiri. Kita telah melalaikan tanggung jawab sebagai penjaga bumi. Kawasan hutan di hulu Tapanuli yang vital, berfungsi sebagai penyerap air dan penguat tanah, telah habis dibabat demi keuntungan jangka pendek. 

Perbuatan ini secara langsung memutus hubungan sakral antara manusia dengan lingkungan, sekaligus menjauhkan kita dari ridha Sang Pencipta. Musibah yang melumpuhkan Sibolga, Tapteng dan Tapsel serta longsor di Taput dan banjir/longsor di Humbahas adalah bukti nyata bahwa lereng yang gundul tidak lagi sanggup menahan curah hujan yang ekstrem.

Bencana berantai ini adalah peringatan keras yang mengharuskan kita untuk segera melakukan pertobatan menyeluruh. Pertobatan ini harus diimplementasikan secara konkret, bukan hanya wacana keagamaan. 

Kita wajib mengubah pandangan: hutan mesti dilihat sebagai amanah ilahi yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar komoditas dagang.

Langkah-langkah pemulihan keharmonisan harus dilaksanakan dengan segera. Tiga hal yang wajib kita lakukan.

Pertama, menghentikan semua kegiatan perusakan di wilayah resapan air yang menjadi hulu bagi Tapsel, Taput, dan Humbahas.

Kedua, melakukan pemulihan hutan secara masif, dengan menanami kembali area yang telah kehilangan pepohonan

Ketiga, memperkuat penegakan hukum dan kearifan lokal agar bencana yang menghancurkan Sibolga, Tapteng, Tapsel, dan humbahas  tidak terulang lagi.

Kita jadikan penderitaan Tapanuli raya  ini sebagai awal dan refleksi  dari Jalan Pulang kita bersama. Dengan kembali mematuhi perintah memelihara alam, kita secara otomatis mematuhi TYME. 

Hanya melalui keselarasan total dengan alam, kita berharap dapat menjemput keridhaan-Nya. Semoga alam semesta kembali berkenan kepada manusia mahluk ciptaan TYME, dan semoga duka ini segera digantikan oleh harmoni yang lestari. 

Tuhan ampunilah dosa-dosa kami yang sudah merusak alam ciptaanMu. Amin !

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini