![]() |
| Puluhan wartawan dari berbagai organisasi media di Kabupaten Labuhanbatu Selatan turun ke jalan dalam aksi damai menentang tindakan intimidasi terhadap seorang wartawan. Senin (28/7/2025) (mol/Husin) |
LABUSEL | Puluhan wartawan dari berbagai organisasi media di Kabupaten Labuhanbatu Selatan turun ke jalan dalam aksi damai menentang tindakan intimidasi terhadap seorang wartawan. Aksi ini digelar sebagai bentuk solidaritas sekaligus peringatan keras kepada pihak-pihak yang mencoba membungkam suara pers. Senin (28/7/2025)
Long march yang dimulai dari Lapangan Santun Berkata Bijak Berkarya (SBBK) hingga Bundaran Simpang Tiga Bukit, Kota Pinang, menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk tekanan terhadap kebebasan pers. Para peserta membawa spanduk besar bertuliskan stop intimidasi dan kekerasan terhadap wartawan, yang dipasang di sejumlah titik strategis seperti di bundaran simpang tiga bukit, di depan Kantor Kementerian Agama, di Kecamatan Sungai Kanan, dan Kecamatan Torgamba.
Aksi ini digerakkan oleh gabungan organisasi pers terkemuka, di antaranya Ikatan Wartawan Online (IWO) Labusel, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI), Pro Jurnalis Media Siber, dan Aliansi Komunikasi Wartawan (ALKOWAR).
Intimidasi yang menjadi pemicu aksi ini diduga dilakukan oleh seorang oknum ketua yayasan kepada seorang wartawan yang tengah meliput isu pendidikan di Kecamatan Sungai Kanan.
Insiden terjadi pada Rabu (23/7/2025) saat tim wartawan dari berbagai media sedang meliput proses penjemputan siswa berinisial IM oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Labusel. Siswa malang itu disebut-sebut terpaksa berhenti sekolah lantaran tidak mampu membayar biaya rekreasi yang dibebankan oleh pihak yayasan.
Namun saat peliputan berlangsung, suasana tiba-tiba memanas, oknum yang merupakan ketua yayasan diduga melakukan tindakan tak terpuji dengan menarik paksa baju seorang wartawan media elektronik hingga robek. Aksi tersebut sontak memicu kemarahan komunitas pers yang menilai tindakan itu sebagai bentuk nyata penghalangan kerja wartawan yang dijamin konstitusi.
Selain mengecam tindakan intimidasi, para wartawan juga menuntut aparat penegak hukum untuk bertindak cepat dan adil, serta mendesak pemerintah daerah agar tidak menutup mata terhadap ancaman yang dihadapi para pewarta.
Salah seorang perwakilan wartawan Chandra Siregar mengutuk keras peristiwa kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan.
" Meminta kepada penegak hukum agar memproses oknum yang telah mengintimidasi sahabat kami dan menghalangi tugasnya sebagai wartawan," ucap Chandra yang juga merupakan Ketua IWO Labusel.
Ketua Aliansi Komunikasi Wartawan (ALKOWAR) Labusel, Khairuddin Nasution, juga meminta aparat penegak hukum bertindak tegas atas peristiwa intimidasi terhadap wartawan.
" Hari ini kami melakukan aksi solidaritas terhadap saudara kami yang mengalami intimidasi saat melakukan peliputan di kecamatan sungai kanan oleh oknum yayasan sekolah.
"Kami juga meminta kepada Kapolres Labuhanbatu Selatan untuk segera menanggapi laporan kami, kami yakin Polres Labuhanbatu Selatan dapat profesional dalam penegakan hukum terhadap pers di Labuhanbatu Selatan," ucap Khairuddin.
Meski berlangsung di bawah terik matahari, aksi ini berjalan tertib dan penuh semangat. Para wartawan berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga pelaku mendapatkan sanksi hukum yang setimpal. Mereka menegaskan bahwa pembelaan terhadap profesi wartawan adalah bagian dari menjaga kebebasan berekspresi dan demokrasi di negeri ini (Husin)

