Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

Pengusaha Warkop Kok Tong Dituntut 1,5 Tahun Penjara

Tim Redaksi: Selasa, 05 Mei 2020 | 18:06 WIB

MEDAN - Irawan alias Asiong (57) yang dikenal sebagai pengusaha Warung Kopi (Warkop) Kok Tong, Selasa (5/5/2020) dalam persidangan via teleconference di Ruang Cakra 3 PN Medan, dituntut pidana 1,5 tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Elvina Elisabeth dalam amar tuntutannya menguraikan, dari fakta-fakta terungkap di persidangan pidana Pasal 378 KUHPidana, telah memenuhi unsur. Yakni pidana dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama atau martabat palsu, tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.

Usai pembacaan tuntutan tersebut, Majelis Hakim yang diketuai Erintuah Damanik memberikan kesempatan kepada terdakwa maupun penasihat hukumnya (PH) untuk menyampaikan nota pembelaan (pledoi).

Sementara mengutip dakwaan JPU, pada 25 November 2016 saksi korban Harianto Lawa bersama Francnata Goh, Irwandi dan terdakwa Irawan bertemu di salah satu warung di Komplek Multatuli.

Kemudian antara terdakwa dan saksi korban terlibat pembicaraan kesepakatan lisan kerjasama untuk membuka usaha kedai kopi Kok Tong di Jalan Sutomo Binjai Utara.

Keuntungan dari hasil kedai kopi Kok Tong nantinya akan dibagi 50 persen kepada saksi korban yang mana modal awal akan dikembalikan utuh oleh terdakwa.

Lebih lanjut, pada 28 November 2016 saksi korban memberikan modal awal Rp.700 juta kepada terdakwa sebesar untuk sewa tempat. Kemudian, terdakwa kembali meminta uang sebesar Rp.400 juta untuk beli meja, kursi dan peralatan jualan di kedai kopi Kok Tong.

Lalu, saksi korban memberikan uang tersebut pada tanggal 19 Desember 2016 dengan cara transfer dari Bank Danamon ke Bank BCA atas nama Irawan.

Saksi korban merasa yakin, untuk melakukan kerjasama buka kedai kopi Kok Tong tersebut, karena terdakwa dan saksi korban adalah teman lama dan saksi korban mengetahui bahwa terdakwa ada juga buka cabang kopi Kok Tong di Medan dan berjalan lancar, yang mana terdakwa juga pemegang lisensi untuk kopi Kok Tong yang berpusat di Kota Pematangsiantar.

Setelah berjalannya waktu, kedai Kopi Kok Tong yang telah terdakwa dan saksi korban sepakati terdahulu yang beralamat di Jalan Sutomo Binjai Utara, ternyata tidak ada dibuka oleh terdakwa. Melainkan tanpa seizin saksi korban, terdakwa telah membuka kedai kopi Kok Tong tersebut di Jalan Ahmad Yani Binjai Utara Komplek Great Wall hingga sekarang.

Mengetahui hal tersebut, lalu saksi korban mengkonfirmasi dengan terdakwa agar saksi korban dibagi hasil usaha dari kedai kopi tersebut. Namun terdakwa menerangkan, bahwa ia membuka usaha kedai kopi tersebut tidak menggunakan uang milik saksi korban. Sehingga saksi korban tidak berhak untuk mendapatkan hasil dari usaha kedai kopi tersebut.

Lalu, saksi korban meminta modal yang telah saksi korban berikan kepada terdakwa, yaitu sebesar Rp.1,1 miliar.

Namun saat itu, terdakwa berdalih tidak ada menggunakan uang saksi korban untuk membuka usaha kedai kopi tersebut. Kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke kepolisian. (RBS)

Baca Juga

Komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html