loading...

Sumut

Nasional

Dunia

Peristiwa

loading...

Moeldoko Hadiri Harlah Ponpes Ass’adah Depok dan Peringati Isra Mi’raj

Tim Redaksi: Senin, 16 April 2018 | 16:29 WIB



DEPOK- Kepala Staf Kepresidenan Dr Moeldoko menjawab kritik yang mempersoalkan pembangunan infrastruktur di luar Jawa. Seperti pembangunan jalan-jalan perbatasan di Kalimantan hingga Papua, yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.

“Kalau politikus yang mencari suara, cukup bangun Jawa, tapi Presiden Jokowi seorang negarawan yang ingin membangun konektivitas di daerah-daerah yang terisolasi,” kata Moeldoko saat memberikan sambutan dalam peringatan Isra’ Miraj Nabi Muhamad SAW dan hari lahir Pondok Pesantren Assa’adah di Cipayung, Kota Depok, Minggu, 15 April 2018.
Moeldoko menjelaskan, pembangunan infrastruktur di luar Jawa dilakukan untuk mengejar ketertinggalan.

Jika dahulu konsep pembangunan disebut Jawa-sentris, oleh Presiden Jokowi diubah menjadi Indonesia-sentris. “Jika daerah terisolasi, maka pendidikan rendah, kesehatan tidak dijamin. Dengan infrastruktur, maka perubahan akan terjadi. Peradaban berkembang, pendidikan dan kesehatan terlayani dengan baik,” jelasnya.

Selain itu, dampak pembangunan infrastruktur di luar Jawa seperti daerah perbatasan menumbuhkan nasionalisme masyarakat dan cinta kepada Indonesia, yang selama ini merasa tidak diperhatikan.

Tak hanya infrastruktur, mantan Panglima TNI ini menambahkan, banyak hal-hal yang dilakukan pemerintah guna meningkatkan sumber daya manusia. Di bidang pendidikan, pemerintah memberikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), kesehatan dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS), juga pemberian bantuan non tunai dengan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Program satu harga untuk BBM juga bukti. Dulu di Papua harga BBM bisa 60 ribu sekarang sama dengan Jawa. Ada juga program sertifikat tanah yang sudah dinikmati masyarakat. Memang belum cukup, dan belum sempurna. Itu akan terus kita benahi karena membangun sebuah negara yang besar perlu proses,” terang Moeldoko.

Moeldoko menyatakan Kantor Staf Presiden terbuka menerima kritik dan saran untuk bersama-sama mengawal pemerintah membangun Indonesia. Kantor Staf Presiden sebagai pembantu Presiden juga melakukan evaluasi program prioritas nasional dan membuka sumbatan (debottlenecking) terhadap permasalahan yang ada.

Jaga Keberagaman

Moeldoko memberikan wanti-wanti agar kita selalu waspada. Berkaca dari negara-negara seperti Afganistan, Suriah, dan Irak yang punya sumber daya alam yang luar biasa, hampir semuanya mengalami gejolak dan terancam disintegrasi. 

“Indonesia negara besar dengan sumber daya alam. Kita ada 17 ribu pulau, dan 714 suku etnis dan beraneka ragam agama. Karena itu, Pondok pesantren menjadi sumber perekat bangsa, mari kita bersatu padu menjaga bangsa ini,” jelas Moeldoko.

Ia menceritakan, perjalanan Presiden Jokowi ke Afganistan beberapa waktu lalu, Presiden Afganistan Ashraf Ghani berpesan kepada Jokowi agar berhati-hati. Afganistan hanya memiliki 7 suku, 2 suku berkelahi membawa teman dari luar. Sampai sekarang sudah 40 tahun masih mengalami konflik.

Memasuki pemilihan kepala daerah yang digelar serentak tahun ini, Moeldoko berpesan jangan karena persoalan Pilkada bangsa ini jadi terpecah belah. “Jangan hanya gara-gara Pilkada. Mari kita sikapi ini sebagai proses demokrasi yang berjalan secara rutin,” katanya.

Kenang Masa Kecil
Di hadapan ratusan santri yang hadir, Moeldoko mengenang masa kecilnya di Kediri, Jawa Timur. Tidak banyak orang tahu bahwa Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal bintang empat ini melewatkan hari-hari masa kecilnya di sebuah langgar/surau di kampungnya.

“Saya bahkan sering tidur di langgar beralaskan tikar,” kenang Moeldoko. Ia adalah anak keluarga petani yang hidupnya sangat sederhana dan penuh perjuangan. Guru ngaji di langgar atau surau kecil menjadi bagian penting yang menempa karakter sosok Moeldoko kecil.

Karena itulah, sistem pendidikan di pesantren menjadi sebuah alternatif penting yang bisa menanamkan dan menumbuhkan karakter-karakter anak bangsa yang kuat, tangguh, dan berbudi pekerti.

“Pembangunan karakter itu dimulai dari surau, mushola, masjid, dan pesantren. Pesan saya kepada anak-anakku, jangan pernah pesimis menatap masa depan. Kalian bisa menjadi apapun dan kapan pun. Pesantren telah melahirkan satu orang pemimpin yang luar biasa yaitu Gus Dur. Optimislah menatap masa depan!” pesannya.

Pemerintah memberi perhatian luar biasa kepada pengembangan pondok pesantren dalam bentuk program langsung ataupun tidak langsung. Dan saat ini pemerintah dengan serius memperhatikan pengembangan ekonomi umat di antaranya melalui program Bank Wakaq Mikro.

Hadir dalam acara ini Pengasuh Pondok Pesantren Assa'adah KH Muhammad Abdul Mujib, PBNU Masdar Farid Mas'udi dan Ketua PCNU Kota Depok KH Raden Salamun Adiningrat.(alois)

Baca Juga

Komentar

Berita Terbaru

Berita Terkait

 
google-site-verification: google2bb360bc5f99c801.html