
Kondisi rumah Asanudin Waruwu (Ama Lori Waruwu) yang amblas dan rusak berat tak layak huni keluhkan sampai saat ini belum ada perhatian pemerintah. (Foto: Yasmend/mol)
TAPTENG | Enam bulan setelah bencana melanda Lingkungan VI Gunung Payung, Kelurahan Lumut, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), sejumlah warga yang mengalami kerusakan rumah berat mengaku hingga kini belum menerima bantuan yang mereka harapkan. Di tengah proses pendataan yang telah berulang kali dilakukan, kepastian realisasi bantuan masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat terdampak.
Bagi sebagian warga, bencana tidak hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga memaksa mereka menjalani kehidupan dalam ketidakpastian. Sebagian harus mengontrak tempat tinggal sementara, sementara lainnya meninggalkan rumah yang dinilai tidak lagi aman untuk dihuni akibat ancaman longsor.
Salah seorang warga terdampak, Asanudin Waruwu (Ama Lori Waruwu), mengaku rumah miliknya amblas akibat bencana yang terjadi beberapa bulan lalu. Hingga kini ia bersama keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan sambil menunggu kejelasan bantuan yang dijanjikan.
"Kami sudah beberapa kali didata dan rumah kami juga sudah beberapa kali dicek. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan yang kami terima. Kami hanya berharap ada kepastian," ujarnya saat ditemui pada Minggu (7/6/2026) pagi.
Menurut Asanudin, kekecewaan yang dirasakannya semakin bertambah karena saat proses pendataan ulang dilakukan, rumahnya yang telah amblas dan mengalami kerusakan berat diminta untuk tidak dibongkar terlebih dahulu.
Ia mengaku sempat berencana memanfaatkan sebagian material bangunan yang masih tersisa untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Namun niat tersebut diurungkan setelah adanya arahan agar kondisi rumah tetap dipertahankan untuk kepentingan verifikasi dan pendataan bantuan.
"Kami sebenarnya mau membongkar rumah itu supaya material yang masih bisa dipakai dapat dimanfaatkan untuk tempat tinggal sementara. Tapi karena ada arahan agar jangan dibongkar dulu, kami mengikuti arahan tersebut. Kami berharap setelah pendataan ada tindak lanjut yang nyata," katanya.
Asanudin juga berharap pemerintah memberikan kejelasan terkait berbagai bantuan yang selama ini disebutkan kepada masyarakat terdampak, mulai dari Dana Tunggu Hunian (DTH), Jaminan Hidup (Jadup), bantuan perabot rumah tangga, hingga dana hunian relokasi mandiri.
"Yang kami dengar ada bantuan DTH, Jadup, biaya perabot, dan dana hunian relokasi mandiri. Tapi sampai sekarang satu pun dari bantuan itu belum ada kami terima. Kami hanya berharap ada kepastian karena kondisi kami memang benar-benar terdampak," ungkapnya.
Kekecewaan warga semakin bertambah setelah mendengar informasi bahwa di sejumlah wilayah lain terdapat masyarakat terdampak yang telah menerima bantuan. Sementara mereka yang mengalami kerusakan rumah berat mengaku masih menunggu tanpa mengetahui kapan bantuan tersebut akan direalisasikan.
Tidak jauh dari lokasi rumah Asanudin Waruwu, kondisi serupa juga dialami Berkat Mendrofa (Ama Falen Mendrofa). Rumah miliknya yang berada di kawasan yang sama kini tidak lagi dihuni karena berada dalam kondisi rawan longsor dan dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan penghuni.
Kondisi yang dialami kedua warga tersebut menjadi gambaran situasi yang masih dihadapi sebagian masyarakat terdampak di Gunung Payung. Meski pendataan telah dilakukan berulang kali dan usulan bantuan telah disampaikan, mereka mengaku belum merasakan manfaat nyata dari proses yang telah berjalan selama berbulan-bulan.
Selain persoalan hunian, masyarakat juga menghadapi dampak kerusakan infrastruktur pascabencana. Akses jalan yang sempat rusak berhasil dilalui kembali berkat gotong royong warga Lingkungan VI Gunung Payung dan Lingkungan V Simarlelan. Menurut warga, perbaikan darurat tersebut terlaksana berkat kebersamaan masyarakat yang tidak ingin akses utama mereka terputus dalam waktu lama.
Masyarakat turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kecamatan Lumut dan pihak PT FIA yang telah membantu pembukaan akses jalan darurat sehingga aktivitas warga dapat kembali berjalan meskipun pemulihan secara menyeluruh belum terlaksana.
Terkait bantuan bagi warga terdampak, Lurah Lumut, Safril Lubis, sebelumnya menjelaskan bahwa proses penyaluran bantuan bergantung pada keabsahan dan kelengkapan data penerima yang telah disampaikan kepada pihak terkait.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Camat Lumut, Rani Rahmadani S Sos saat dikonfirmasi kru Metro-nline.co tentang keterlambatan bantuan tersebut pada Minggu (7/6/2026), melalui pesan whatsapp menyampaikan bahwa seluruh data masyarakat terdampak telah dikirimkan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, termasuk usulan pada tahap ketiga.
"Data semuanya sudah kami kirim. Termasuk tahap tiga kemarin. Kita tinggal menunggu karena orang kabupaten yang menentukan," tulis Rahmadani melalui pesan WhatsApp.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses pengusulan dari tingkat kelurahan dan kecamatan telah dilakukan. Namun hingga saat ini, warga yang rumahnya amblas maupun yang tidak lagi dapat dihuni karena ancaman longsor masih menunggu kepastian realisasi bantuan.
Enam bulan telah berlalu sejak bencana terjadi. Pendataan dilakukan berulang kali, usulan bantuan telah dikirim hingga beberapa tahap, namun sebagian warga terdampak mengaku belum menerima bantuan dalam bentuk nominal apa pun. Di tengah penantian yang panjang, mereka mempertanyakan kapan hasil dari seluruh proses pendataan tersebut benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Bagi korban yang kehilangan tempat tinggal, bantuan yang dinantikan bukan sekadar angka dalam dokumen administrasi. Bantuan tersebut merupakan harapan untuk kembali memiliki rumah yang aman, layak dihuni, serta kepastian bahwa negara hadir bagi masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana.(YAS/js)
