%20Jalan%20Tol%20Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap%20atau%20Tol%20Getaci.webp)
Tol Getaci Gagal Lelang Dua Kali, Pemerintah Perlu Ubah Strategi.(foto: internet/mol)
JAKARTA | Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menyoroti
mandeknya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol
Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap atau Tol Getaci. “Proyek ini sudah dua kali gagal
lelang. Proyeknya tidak laku, kurang menarik di mata investor, karena itu
pemerintah harus mengubah strategi pembangunan,” ujar Direktur Eksekutif PUKIS
M. M. Gibran Sesunan, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (18/4).
Sebagai catatan, Tol Getaci sebetulnya telah mendapatkan
investor pada proses lelang yang pertama, namun konsorsium pemenang lelang
tersebut gagal memenuhi kewajiban pembiayaan proyek (financial close)
sehingga pemerintah terpaksa melakukan lelang ulang, namun tidak berhasil menggaet
investor pada saat lelang yang kedua. Karena itu, PUKIS mempertanyakan langkah
dan mitigasi yang disiapkan pemerintah demi keberlanjutan proyek ini.
“Pemerintah mestinya memiliki rencana alternatif untuk Tol Getaci. Percuma terus-menerus
dilelang ulang jika tidak ada perubahan strategi pembangunan dan pengusahaan
jalan tol ini,” kata Gibran.
Gibran menerangkan, gagal lelang ini berdampak serius
terhadap keberlangsungan proyek strategis yang menghubungkan Provinsi Jawa
Barat dan Jawa Tengah ini. Padahal, investor diperlukan untuk membentuk Badan
Usaha Jalan Tol (BUJT) yang bertugas membangun, mengembangkan, dan
mengoperasikan ruas ini. Keberadaan BUJT sangat krusial karena mereka
bertanggung jawab menyusun perencanaan teknis yang menjadi dasar pelaksanaan
konstruksi. Selain itu, BUJT juga bertugas menyiapkan dana talangan dalam
pengadaan tanah dalam hal anggaran pemerintah belum siap atau belum bisa
dicairkan.
Gibran menuturkan sejumlah alasan proyek jalan tol
terpanjang di Indonesia ini kurang diminati investor. Pertama, biaya
investasinya sangat tinggi sementara proyeksi lalu lintas jalan tol ini terlampau
rendah. Akibatnya, pendapatan dari tarif tol menjadi tidak signifikan bagi
badan usaha. PUKIS memperkirakan, proyeksi lalu lintas dari Gedebage hingga
Tasikmalaya sebetulnya masih tinggi, namun volume kendaraan dari Tasikmalaya ke
Cilacap kemungkinan akan sangat rendah. “Hal ini tentu mempengaruhi tingkat kelayakan
proyek sehingga calon investor akan berhitung ulang soal pengembalian
investasinya,” terang Gibran.
Kedua, iklim investasi di bidang infrastruktur memang
sedang lesu. Kondisi perekonomian yang tidak menentu membuat calon investor
memilih bermain aman. Pasalnya, proyek infrastruktur termasuk berisiko tinggi,
memerlukan modal yang besar, dan pengembalian investasinya pun jangka panjang.
Ditambah lagi, pasar sepertinya melihat infrastruktur tidak lagi menjadi fokus
utama pemerintahan saat ini, tercermin dari anggaran infrastruktur yang kian
menyusut dalam APBN.
Sebagai rekomendasi, PUKIS menyampaikan beberapa opsi
agar proyek Tol Getaci ini dapat berjalan. Alternatif pertama, pemerintah berpartisipasi
secara langsung dalam pembangunan melalui skema dukungan konstruksi (dukon). Dengan
skema ini, pemerintah dan badan usaha berbagi beban anggaran dan pelaksanaan konstruksi
sehingga hitung-hitungan biaya investasi menjadi lebih masuk akal bagi
investor. Skema ini sudah diterapkan pada berbagai proyek jalan tol, di
antaranya ruas Semarang-Demak dan Serang-Panimbang yang saat ini juga sedang
dibangun.
Namun demikian, Gibran pesimistis soal komitmen anggaran
dari pemerintah untuk memberikan dukungan konstruksi karena anggaran
infrastruktur di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sangat minim dan
prioritasnya bukan untuk jalan tol. Apalagi, Kementerian Pekerjaan Umum belum
lama ini menyatakan bahwa pemerintah tidak akan lagi memberikan dukungan
konstruksi pada proyek-proyek KPBU.
Alternatif kedua, Presiden dapat memerintahkan badan
pengelola investasi milik negara, baik Danantara ataupun INA, untuk “turun
gunung” dan masuk ke proyek ini, misalnya dengan menginisiasi dan memimpin
konsorsium untuk mengikuti proses lelang berikutnya. Gibran berpendapat,
pemerintah telah menawarkan Tol Getaci kepada publik dan dunia usaha, artinya
proyek ini dianggap menguntungkan secara komersial. Karena itu Danantara atau INA mestinya turut berpartisipasi
menyukseskan proyek ini ketika tidak ada investor lain yang masuk.
Alternatif
ketiga adalah merevisi lingkup pengusahaan jalan tol. Caranya dengan membelah
ruas Tol Getaci yang terlalu panjang menjadi dua, yakni Tol
Gedebage-Tasikmalaya dan Tol Tasikmalaya-Cilacap. Dua ruas ini kemudian
dilelang dalam dua paket yang berbeda sehingga biaya investasi setiap paketnya
menjadi tidak terlalu besar dan tidak memberatkan investor.
Gibran
berpandangan, revisi lingkup pengusahaan jalan tol akan bermanfaat bagi
keberlanjutan proyek karena Tol Gedebage-Tasikmalaya lebih mudah dijual kepada
investor mengingat kondisi existing maupun potensi lalu lintas yang
tinggi. Ketika permintaan (demand) pada ruas Gedebage-Tasikmalaya sudah
terbentuk, pemerintah nantinya akan lebih mudah menawarkan ruas
Tasikmalaya-Cilacap kepada investor karena konektivitas dan bangkitan lalu
lintas sudah semakin baik dan aktivitas perekonomian di sekitar juga sudah
lebih menggeliat.
“Intinya harus
ada terobosan dari pemerintah untuk Tol Getaci. Jangan hanya bolak-balik lelang-gagal-lelang-gagal
tanpa ada kemajuan yang berarti. Tidak apa-apa jika pembangunan difokuskan
sampai Tasikmalaya terlebih dahulu ketimbang stagnan seperti sekarang ini,” pungkas
Gibran.(pukis/js)
