-->

Forwakum Serdangbedagai Ngopi di Bawah Tugu Juang Perbaungan, Menyusuri Sejarah di Ruang Publik Baru

Sebarkan:

 

Rombongan Forwakum Serdangbedagai berfoto di bawah Tugu Juang Perbaungan, Selasa (17/2/2026).(mol/RG).
SERDANGBEDAGAI | Tugu Juang dengan wajah baru berdiri kokoh menjulang sekitar 20 meter di Lapangan Segitiga, Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai.

Sore itu mulai cahaya matahari mulai turun di bawahnya, deretan kursi dipenuhi pengunjung. Anak-anak berlarian, remaja berswafoto, sementara aroma kopi dan jajanan UMKM menguar dari food court yang kini menjadi denyut baru kawasan itu.

Tugu yang dulunya hanya menjadi monumen yang dilintasi kendaraan, kini hidup sebagai ruang publik. Revitalisasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdangbedagai mengubah wajah Tugu Juang Perbaungan menjadi tempat berkumpul masyarakat, sekaligus ruang belajar sejarah.

Rombongan Forwakum Serdangbedagai ngopi sambil nyusuri lokasi, Selasa (17/2/2026).(mol/RG).
Senin sore (16/2/2026), ratusan masyarakat terlihat memadati kawasan tersebut. Mereka datang tidak hanya dari Perbaungan, tetapi juga dari luar daerah. Sebagian duduk santai menikmati minuman hangat, sebagian lagi membaca papan informasi sejarah yang terpasang di sekitar tugu.

Di antara keramaian itu, rombongan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Serdangbedagai tampak berbincang santai. Secangkir kopi di tangan, mereka mendiskusikan  sejarah panjang monumen yang berdiri di hadapan mereka.

Tugu Juang Perbaungan yang dikenal masyarakat ternyata memiliki nama resmi Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area atau Tugu Bintang. Monumen ini menjadi simbol perlawanan rakyat Serdangbedagai terhadap penjajahan Belanda pada masa ketika wilayah tersebut masih tergabung dalam Kabupaten Deli Serdang.

Tugu ini dibangun pada 1995 dan diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara ke-13, Raja Inal Siregar, bersama Pangdam saat itu Letjen Arie Jeffry Kumaat serta Legiun Veteran RI Jenderal Achmad Tahir.

Namun jejak sejarahnya jauh lebih tua. Pada 1947, Sungai Ular menjadi jalur strategis pasukan Belanda yang melakukan invasi dari Pantai Cermin menuju Perbaungan dan Lubuk Pakam. Sungai itu berubah menjadi medan pertempuran sengit. Para pejuang dari berbagai daerah berkumpul, bertahan, dan banyak yang gugur demi mempertahankan kemerdekaan.

Kini, kisah itu tidak lagi hanya tersimpan dalam buku sejarah. Papan informasi di sekitar tugu menceritakan kembali perjuangan tersebut kepada setiap pengunjung yang datang.

Ketua Forwakum Serdangbedagai Darmawan, mengaku kunjungan mereka yang awalnya sekadar bersantai berubah menjadi perjalanan memahami sejarah.

“Setelah duduk di sini, menikmati UMKM, kita baru sadar betapa panjang perjuangan para pahlawan. Tempat ini bukan hanya lokasi santai, tapi ruang belajar sejarah,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah Bupati Darma Wijaya dan Wakil Bupati Adlin Tambunan yang merevitalisasi kawasan tersebut sehingga memiliki nilai edukasi dan ekonomi.

Bagi pelaku UMKM, perubahan ini membawa harapan baru. Afiza, pekerja di salah satu stan Ryans, mengatakan jumlah pengunjung meningkat signifikan sejak kawasan itu ditata ulang.

“Sekarang setiap hari ramai. Perbaungan punya tempat yang layak untuk bersantai, kami juga terbantu secara ekonomi,” katanya.

Hal senada disampaikan Safaruddin, pengawas food court. Ia menyebutkan ratusan pengunjung datang setiap hari. Fasilitas umum seperti toilet terpisah dan musala yang disediakan gratis membuat pengunjung semakin nyaman.

“Alhamdulillah, sekarang jadi primadona masyarakat. Dari pagi sampai malam selalu ada yang datang,” ujarnya.

Di tengah keramaian itu, Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area tetap berdiri tegak, menjadi pengingat bahwa tempat yang kini penuh tawa dan aktivitas ekonomi pernah menjadi saksi bisu pertempuran dan pengorbanan.

Revitalisasi tidak hanya mempercantik fisik monumen, tetapi juga menghidupkan kembali maknanya. Sejarah, ekonomi kerakyatan, dan ruang sosial bertemu di satu titik.

Di Perbaungan, orang kini bisa belajar sejarah sambil menikmati kopi. Dan di bawah bayang Tugu Juang, masa lalu dan masa kini berdampingan dalam harmoni.(HR/HR)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini