![]() |
| Usai menikmati wisata kuliner, awak media tergabung dalam Forwakum Sergai berswafoto bersama di depan Tugu Juang Perbaungan. (mol/frwkm) |
Tempat bersejarah tersebut kini menjadi magnet baru yang tak hanya memikat mata, tetapi juga menggugah ingatan sejarah.
Tugu yang dikenal masyarakat sebagai Tugu Juang Perbaungan ini sebenarnya bernama Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area, atau lebih populer dengan sebutan Tugu Bintang. Dengan tinggi sekitar 20 meter dan mahkota berbentuk bintang di puncaknya, monumen ini tampak gagah, seolah menjadi penjaga setia kisah heroik masa lalu.
Letaknya yang strategis di Lapangan Segitiga, Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan, tepat di pinggir jalan lintas, membuat tugu ini mudah diakses. Dahulu mungkin orang melintas tanpa menoleh, namun kini kawasan itu selalu dipadati warga yang ingin bersantai sekaligus bernostalgia.
Dibangun pada 1995, Tugu Juang sempat menjadi monumen yang sunyi. Namun di tangan Pemerintah Kabupaten Sergai, kawasan ini direvitalisasi dan dipercantik. Sentuhan penataan ulang menghadirkan wajah baru yang lebih tertata, bersih, dan ramah bagi pengunjung.
Di bawah kepemimpinan Bupati Darma Wijaya dan Wakil Bupati Adlin Tambunan, kawasan ini dilengkapi dengan area food court yang menampung pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Para pedagang yang sebelumnya berjualan di Sergai Walk kini dipusatkan di sekitar tugu, menciptakan denyut ekonomi baru.
Aroma jajanan tradisional dan minuman kekinian berpadu dengan semilir angin sore. Anak-anak berlarian, remaja berswafoto, dan keluarga duduk santai menikmati suasana. Tugu Juang tak lagi sekadar monumen, tetapi menjadi ruang interaksi sosial lintas generasi.
Namun jauh sebelum menjadi tempat tongkrongan sekaligus wisata kukiner yang hits, kawasan ini menyimpan jejak kisah heroik. Pada tahun 1947, di masa agresi militer Belanda, wilayah Perbaungan menjadi salah satu titik penting pertempuran dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pasukan Belanda melakukan invasi melalui Pantai Cermin dan menyusuri Sungai Ular, jalur strategis menuju Perbaungan dan Lubuk Pakam. Sungai itu menjadi saksi bisu perlawanan sengit para pejuang dari berbagai daerah yang berkumpul mempertahankan tanah air.
Pertempuran demi pertempuran terjadi di sepanjang aliran sungai. Banyak pejuang gugur, mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Tugu inilah yang kemudian didirikan sebagai penghormatan atas pengorbanan, simbol darah perjuangan tak pernah sia-sia.
Monumen ini diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara ke-13, Raja Inal Siregar, bersama Pangdam saat itu Letjen Arie Jeffry Kumaat serta perwakilan Legiun Veteran RI Jenderal Achmad Tahir, mantan Panglima Divisi IV/TKR pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia. Peresmian Tugu Juang Perbaungan sekaligus penegasan, perjuangan rakyat melawan penjajah pernah berkobar di wilayah tersebut
Di salah satu lokasi tongkrongan, rombongan wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Sergai memanjakan diri dengan menikmati sajian UMKM. Ide mengangkat kembali sejarah Tugu Juang agar generasi muda tak melupakan akar perjuangan pun menggurita.
Ketua Forwakum Sergai Darmawan menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan daerah yang telah memoles kawasan bersejarah ini. Menurutnya, setelah bersantai dan menikmati suasana, barulah terasa betapa panjang dan berat perjuangan para pahlawan yang kini dikenang lewat monumen tersebut.
Di sekitar tugu, papan informasi sejarah terpajang rapi, menceritakan kronologi pertempuran dan kisah heroik para pejuang. Pengunjung dapat membaca, merenung, lalu kembali menikmati suasana dengan pemahaman yang lebih dalam. Sejarah dan rekreasi menyatu dalam satu ruang.
Afiza, salah seorang pelaku UMKM mengaku merasakan dampak positif revitalisasi. Setiap hari ratusan pengunjung datang, membawa harapan baru bagi roda perekonomian kecil. Fasilitas umum seperti toilet terpisah dan musala gratis pun menambah kenyamanan.
Kini, Tugu Perjuangan Pelagan Medan Area bukan hanya saksi bisu perjuangan kemerdekaan, tetapi juga simbol kebangkitan ruang publik yang hidup. Dari medan pertempuran menjadi pusat kebersamaan, Tugu Juang Perbaungan membuktikan bahwa sejarah tak harus diam. (RobS/RS)

